Polisi Buru Bos Pil Dewa

by -
AKP NIKO ADIPUTRA Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota

METROPOLITAN – Pengungkapan tempat pembuatan obat keras di Kota Bogor terus berlanjut. Setelah berhasil mengobrak-abrik markas besar peredaran dan penyimpanan obat daftar G. Jajaran Polresta Kota Bogor berhasil membongkar gudang produksi pil dewa tersebut. Gudang produksi obat keras tersebut berada di Gang Pesantren RT 02/07, Kelurahan Kedungwaringin, Kecamatan Tanahsareal.

Dalam penggerebekan, Satreskrim Polresta Bogor Kota berhasil mengamankan sebanyak dua orang dari enam karyawan yang ada di lokasi gudang produksi tersebut. “Dari kurang lebih 6 karyawan, 2 diantaranya kita amankan. Sebelumnya, kita juga sudah mengamankan dua orang di lokasi yang pertama. Untuk pemiliknya masih dicari,” kata Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, AKP Niko Adiputra.

Menurutnya, penggerebekan di lokasi kedua merupakan tahapan selanjutnya. Dengan dibantu BPOM Bogor, pihaknya berhasil mengamankan 11 unit yang terkait dengan produksi obat palsu tersebut. “Tentunya ini belum berakhir dan ini adalah awal dari perjalanan kami. Kami akan lakukan penyidikan, pemeriksaan sehingga tuntas sampai ke akar-akarnya,” ucap dia.

Di lokasi kedua, sambung Niko, pihaknya berhasil mengamankan beberapa alat yang memiliki fungsi berbeda. Mulai dari alat pengaduk otomatis hingga alat strippingnya. Namun, untuk lebih detailnya rekan-rekan BPOM yang bisa menjelaskan.

“Jadi disimpulkan bahwa tempat ini adalah tempat produksi ilegal. Untuk obat, kandungannya nanti kita tunggu hasil uji lab balai pom,” imbuhnya. “Kita temukan 6 jenis obat. Di tempat 1 ada 4 jenis. Antaraliain jenisnya ada zenith, insidal, amodium serta ada obat tanpa merek,” sambungnya.

Soal peredaran, dilanjutkan Niko, pihaknya masih melakukan pengecekan terkait pendistribusian obat-obat ilega ini. Untuk saat ini, pihaknya akan mengamankan terlebih dahulu barang bukti ke Mako Polresta Bogor Kota. “Kita akan cek pendistribusiannya. Sekarang kita amankan dulu,” beber dia.

Dirinya menambahkan, untuk sanksi yang dikenakan, ada dua Undang-Undang yang dikenakan. Yakni, Undang-Undang Narkotika dan Kesehatan. Sebab, dari hasil penggerebekan ditemukan ada obat jenis G dan ada juga yang masuk narkotika golongan satu. “Narkotika dan Kesehatan. Ada obat G dan masuk narkotika golongan 1. Itu yang zenith,” ujar Niko.

Sementara itu, Kepala Loka BPOM Kabupaten Bogor, Muhammad Rusydi Ridha, menjelaskan dari kacamata BPOM, obat-obatan ini dari segi produknya adalah obat yang sengaja dipalsukan. “Kita cek nomor regiatrasinya adalah betul registrasi pabriknya, tapi diproduksi disini. Artinya rumah ini digunakan untuk memprodukai obat palsu,” kata Rusydi.

Sedangkan, menurutnya, untuk kebenaran isinya atau kandungan obat, pihaknya sudah mengambil beberapa sample untuk dipastikan apakah sesuai dengan yang ada di merk. “Kalau ditanya bahaya pastinya bahaya dari obat ini. Karena, dosisnya belum tentu obat, kemudian isinya apa, kemudian saran produksinya juga jauh dari unsur kesehatan. Artinya jauh dari persyaratan produai obat yang baik. Kotor, kemudian alat berkarat,” ucap dia seraya menambahkan. “Kita belum tahu sudah sejauh mana penyebarannya,” tutupnya.

Sebelumnya, tak ada yang menyangka jika rumah kontrakan di RT 06/16, Kelurahan Kedungwaringin, Kecamatan Tanahsareal, Kota Bogor, jadi sarang pembuatan obat keras. Rumah berwarna putih di kawasan padat penduduk itu disulap jadi markas besar peredaran dan penyimpanan obat daftar G.

BH dan TD, pria pembuat dan pengedar asal Bogor dan Serang, itu diamankan Satuan Reserse Kriminal Polresta Bogor Kota. Dari rumah kontrakan tersangka ditemukan berbagai jenis peralatan pembuat obat daftar G, mulai dari mesin sederhana hingga bahan kimia lainnya untuk pembuatan obat tersebut.

Dari rumah yang sudah dikontrak kedua pelaku selama satu tahun ke dapan itu, pihak kepolisian berhasil mengamankan puluhan dus cokelat berisi obat daftar G siap edar. Diperkirakan total yang berhasil diamankan petugas mencapai jutaan butir obat siap edar.

Terbongkarnya rumah kontrakan yang dijadikan pabrik obat keras itu berawal dari kecurigaan warga yang kerap melihat mobil keluar masuk dengan posisi mundur. Begitu juga dengan tingkah laku BH dan TD yang tertutup kepada warga sekitar.

Berdasarkan pengakuan pelaku, keduanya sudah memulai kegiatan tersebut sejak empat bulan silam. Pelaku juga mengakui bahwa mereka membuat tiga jenis obat keras, di antaranya Jenisna Imodium, Insidal dan Zenith. Bahkan pelaku juga mengemas ketiga jenis obat tersebut dengan rapi layaknya obat pada umumnya.

“Kami mengamankan dua orang. Dari dua orang ini kami kembangkan terkait adanya kegiatan pengolahan, penyimpanan dan pendistribusian obat-obatan tersebut. Kita menyita jutaan butir obat siap edar. Kami prediksi jika dirupiahkan semuanya sekitar Rp500 juta,” kata Kasat Reskrim Polresta Bogor Kota, AKP Niko Adiputra.(mul/c/rez)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *