Rojali Pergi Ngaji Pakai Nyali

by -187 views

METROPOLITAN – “Om ikut Om,” pekik bocah berpenampilan layaknya santri yang berdiri tegak di tengah jalan sambil menghentikan laju mobil truk besar yang tengah melintas di Simpang Yasmin, Senin (11/11). Belakangan ini, sekumpulan bocah remaja tanggung yang menamakan dirinya sebagai Rombongan Jemaah Liar (Rojali) kerap mengundang perhatian masyarakat, khususnya para pengedara.

Bermodalkan penampilan ala santri dengan peci dikepala serta sarung melingkar di bahu yang menjuntai ke tubuh, puluhan Rojali kompak menghadang laju truk yang akan ditumpanginya. Bocah remaja yang mayoritas masih duduk di bangkus SD dan SMP ini seperti tak takut mati, mereka berlari tepat di depan kendaraan, sambil memohon kepada sopir adalah cara mereka untuk mendapatkan belas kasih. “Om ikut om, kita mau ngaji kesana,” menjadi jurus maut, yang diucapakan Rojali saat mencoba menghentikan laju kendaraan.

Surya, salah seorang Rojali asal Desa Kalong II, Kecamatan Leuwisadeng bercerita. Rojali dirasanya, sudah menjadi seperti hobi baru dirinya Ia beserta sepulu rekannya. Bahkan bocah yang duduk di bangku kelas tujuh ini, rela berangkat dari rumah sejak pukul 16:00 WIB bersama kesepuluh rekannya. Dengan membawa uang saku seadanya, sepuluh bocah tersebut nekat berangkat untuk mengikuti pengajian disejumlah wilayah Bogor.

Penelusuran Metropolitan, para Rojali ini berangkat sore hari dari rumahnya masing-masing dengan berpamitan kepada orang tua mereka untuk pergi mengaji. Sesampainya di Jalan uatama mereka menyetop truk kosong yang melintas hingga pasar Leuwiliang. Sesampainya di pasar Leuwiliang mereka kembali menunggu truk yang melintas, bahkan bocah tangung ini melakukan iuran untuk membeli rokok sebagai bekal mereka datang ke tempat pengajian.

Setelah menunggu 45 menit truk yang ditunggu Rojali pun tiba, Surya bersama sepuluh temannya naik kembali truk yang saat itu tengah terjebak macet disekitar pasar Leuwiliang. Namun tak lama truk yang rumpangi para Rojali itu belok ke arah Cemplang Kecamatan Cibungbulang, para Rojali pun kembali menunggu truk yang melintas. Sekitar pukul 18.20 WIB para atau seusai magrib Rojali kembali melanjutkan perjalananya untuk menuju Kota Bogor.

Berdasarkan pengakuan Surya, Simpang Yasmin dan persimpangan besar lainnya menjadi titik berkumpul para Rojali dari sejumlah wilayah Bogor, seperti Parung, Kemang, Rancabungur dan beberapa yang lainnya. “Saya mau hadiran ikut solawat dengan habib-habib,” kata Surya kepada Metropolitan.

Surya menjelaskan, dalam satu pekan biasanya ada waktu-waktu tertentu pengajian tersebut digelar. Diantaranya Malam Jumat, Sabtu, Minggu hingga Malam Senin. Biasanya pengajian tersebut berlangsung pukul 21:00 WIB hingga tengah malam. “Kalau Malam Jumat biasanya di daerah Empang. Kalau malam lainnya, biasanya kita sesuaikan dengan jadwal Habib nya. Jadi tidak tentu waktunya,” beber Surya.

Dalam perjalananya kadang mereka membawa uang saku rata-rat Rp10 ribu. Bahkan ada dari mereka yang sama sekali tidak membawa uang saku sepeserpun. Tak heran, jika mereka nekat memberhentikan mobil untuk sampai ke tempat tujuannya.

Surya juga mengaku tidak takut saat menghentikan truk-truk besar yang melintas, karena menurutnya banyak sopir truk yang kerap menolong dan mengantarkan mereka ke lokasi pengajian. Bahkan tak jarang sopir memberikan uang atau rokok kepada Rojali. “Kita mah niatnya ngaji ini pasti ada yang menolong terus,” ungkapnya.

Menanggapi fenome ini, tokoh agama di Kota Bogor, Habib Novel Kamal Alaidrus menilai, kejadian tersebut memang tengah marak di hampir seluruh pelosok Bogor Raya. Ia juga tak memungkiri, jika terkadang tingkah laku Rojali kerap kali membahayakan dirinya sendiri hingga pengendara lain yang melintas. Meski begitu, ia tak ingin menutup mata jika ada sedikit niatan baik, yang dilakukan dari bocah remaja tanggung tersebut.

Dirinya menilai, apa yang dilakukan bocah remaja tanggung tersebut, lantaran mereka kini tengah berada dalam masa transisi kepribadian dan mencari jati diri. “Tapi segitu juga lumayan, karna mereka sudah ada niatan berubah dan lebih baik lagi, meski caranya mungkin yang salah. Tapi yang paling penting mereka ini sudah mau pergi ke pengajian, dari pada mereka berbuat tidak baik. Tinggal bagaimana kita mengarahkan mereka saja, agar lebih baik lagi,” ujarnya.

Setiap kali dalam majlis ta’lim baik itu habaib, kiyai, maupun ustad kondang ternama, kerap kali menasehati prilaku Rojali. Namun lantaran kepribadian para remaja tanggung ini masih menggebu-gebu, perlu usah lebih keras lagi untuk bisa mengarahkan Rojali ke arah yang lebih baik lagi. “Yang dulunya urakan, sekarang mau ngaji, itu juga sudah untung dan luar biasa, bahkan awal yang baik. Ini semua mungkin karna mereka saja yang belum paham dan mengerti dengan baik adab dijalan, menghargai pengguna jalan lainnya, dan ini tentu butuh perhatian dari semua pihak,” tuturnya.

Hal senada juga dikatakan Ketua Umum Majlis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor K H Ahmad Mukri Aji. Dirinya mengaku sangat menyanyangkan kelakukan remaja tanggung tersebut. Meski niatannya tersebut untuk menuntut ilmu, kelakuan Rojali bisa dikatakan kurang tepat untuk dilakukan. “Fenomena seperti itu sangat disayangkan. Untuk niatnya taklim atau menuntut ilmu itu adalah hal yang baik, tapi cara cara seperti itu istilahnya nga-BM sangat membahayakan dan mengganggu pengguna jalan lain,” katanya saat dihubungi Metropolitan.

Ia menilai, meski niatan tersebut baik namun ditempuh dengan cara yang kurang tepat, tentu akan berpengaruh terhadap ganjaran atau pahala yang didapatkan. Alangkah lebih eloknya, jika niatan baik ditempuh dengan cara baik pula. “Jangan sampai niat yang maslahat dan baik, karna prosesnya tidak baik jadi mudhorot. Cara-cara seperti itu memudhorotkan orang banyak dan mengganggu ketertiban umum, dalam hal ini pengguna jalan raya. Ini harus menjadi perhatian serius pihak-pihak terkait, agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terjadi,” harapnya.

Sementara itu, Ketua PC NU Kabupaten Bogor KH Romdoni menjelaskan, fenomena tersebut baru akhir-akhir ini muncul, karena sebelumnya tidak pernah ada para santri yang menamakan dirinya Rojali dengan menhadang truk-truk yang melintas. “Memang niatnya bagus, namun caranya yang salah. Mereka harus diberitahu karena takut membahayakan dirinya juga,” ungkapnya. (ogi/d/mam)