Semangat Guru Difabel Ngajar Naik Skateboard

by -31 views
SEMANGAT: Muhamad Hikmat naik skateboard usai mengajar di SLB Negeri Batang, Jawa Tengah.

METROPOLITAN – Namanya Muhamad Hikmat (26), warga asal Sukabumi, Jawa Barat. Pemuda difabel tak mempunyai dua kaki sejak lahir ini sekarang berdomisili di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Tak berlebihan jika perjalanan hidup Hikmat dijadikan inspirasi. Hikmat menjadi salah satu bukti bahwa dengan kondisi keterbatasan fisik tak lantas menghambat diri untuk berkarya.

“Sejak lahir seperti ini. Diagnosa dokter katanya gangguan perkembangan janin dari kandungan, karena tidak tahu tengah hamil kemudian (ibu) mengonsumsi pil KB,” kata Hikmat Hikmat bercerita, sebagai penyandang disabilitas memang sempat membuatnya down saat memasuki awal masa remaja.

“Kenapa saya berbeda dengan teman-teman lainnya, saya sekolah di sekolah umum. Saat remaja sempat down seperti itu,” tutur Hikmat.

Namun, hal itu tak lantas membuatnya larut dalam kesedihan. Hikmat termotivasi untuk terus belajar hingga akhirnya bisa menuntaskan pendidikan di Universitas Islam Nusantara Bandung pada tahun 2017. Ia kini bergelar sarjana Pendidikan Luar Biasa.

Dan kini, Hikmat menjadi guru di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Batang dengan status CPNS. Kecintaannya pada anak-anak berkebutuhan khusus pun mulai muncul saat dirinya berkesempatan untuk mengajar di SLB.

“Saya kuliah sambil mengajar di Bandung. Mengajar anak-anak di SLB. Dari sinilah saya mulai mencintai anak-anak ini,” kata Hikmat.

“Cita-cita saya sebenarnya ingin jadi tentara sejak kecil. Menjadi guru itu semenjak saya lulus SMA dan tahu (ada) SLB. Saya dulu sekolahnya di umum soalnya,” lanjutnya.

Kendati tak mempunyai dua kaki, Hikmat tidak sulit beraktivitas. Untuk berjalan, dia tak menggunakan kursi roda namun lebih memilih skateboard guna menopang tubuhnya. Skateboard inilah yang memperlancar aktivitas baik di luar dan di dalam ruangan. Termasuk saat mengajar di kelas.

“Saya pakai skateboard untuk aktivitas di ruangan dan di luar. Kalau perjalanan dari rumah ke sini saya pakai motor roda tiga,” kata Hikmat. Hal itu membuat Hikmat melakukan aktivitas kesehariannya sendiri tanpa mengandalkan bantuan orang lain. Keterbatasan fisiknya tidak membuatnya berkecil hati.

“Saya masih bisa beraktivitas seperti orang normal lainnya,” ujarnya.

Hikmat ternyata juga pernah menggeluti berbagai pekerjaan, dari jasa ukur tensi darah keliling, sopir taksi online dan mobil rental, pemusik wedding hingga staf kantor. “Tapi passion saya jadi guru untuk anak-anak berkebutuhan khusus,” katanya.

Ada alasan kenapa Hikmat akhirnya memilih menjadi guru SLB. “Selain saya bisa menularkan ilmu yang saya miliki, ini juga untuk pencerahan dan memberikan motivasi pada anak-anak agar lebih bersemangat,” tuturnya.

Hikmat menjadi guru sejak tahun 2012. Dirinya berpindah tempat mengajar di beberapa sekolah untuk menambah pengalaman. Awalnya ia mengajar di sekolah Bhakti Pertiwi Sukabumi selama 1 tahun, kemudian di SLB Cimahi selama 3 tahun, di Azakiah 2 tahun, kemudian ikut CPNS tahun 2018 dan ditempatkan di SLB Negeri Batang. (dtk/mam)

Loading...