METROPOLITAN – Belakangan ini nama Arvila Delitriana atau akrab disapa Dina mulai dikenal masyarakat, lantaran merancang jembatan lengkung terpanjang di dunia, yaitu jembatan kereta cepat Jakarta, Bogor, Depok, dan Bekasi alias LRT Jabodebek. Bahkan desain yang dibangun Dina menuai reaksi dari Presiden Joko Widodo.

Dina mengatakan keahliannya mendesain jembatan banyak diasah dari pengalamannya saat mendesain berbagai jembatan. Menurutnya, pendalaman ilmu tentang jembatan diperoleh pada saat terjun langsung di pekerjaan mendesain jembatan, dengan dasar-dasar ilmu yang diperoleh pada saat kuliah di ITB. “Kalau dasar-dasar ilmu jembatan jelas didapat pada saat kuliah,” kata dia.

Saat kuliah di Bandung pada 1989, Dina mengatakan percabangan ilmu Teknik Sipil seperti struktur dan geoteknik masih menyatu. Belum ada pengkhususan soal jembatan. “Saya hanya belajar jembatan satu semester, itu pun sangat umum,” ujar mojang kelahiran 49 tahun silam itu.

Selepas lulus kuliah, ia sempat bekerja di sebuah perusahaan bidang perancangan gedung di Jakarta selama lima tahun. Pada 2000, ia memutuskan kembali ke ITB untuk menempuh pendidikan S2 untuk menekuni geoteknik.

“Karena waktu desain jembatan itu kan membutuhkan pondasi. Saya sempat kewalahan saat menghitung pondasinya karena belum ada pendalaman ke situ. Makanya akhirnya saya ambil S2 geoteknik,” kata Dina.

Selain itu, Dina juga mengaku sebenarnya sudah memiliki hubungan baik dengan PT Adhi Karya (Persero) Tbk yang menggarap proyek LRT Jabodebek. Perusahaan tempatnya bekerja PT Cipta Graha Abadi sering digunakan jasanya oleh Adhi Karya. Meski begitu, Dina harus melewati proses kompetisi dengan 3 desainer jembatan dari Perancis. Akhirnya dia berhasil mengalahkan 3 desain konsultan asing itu.

“Jadi dari tiga desain tadi dipilih sudah satu, tapi dengan tiang di tengah. Nah karena perlu bantuan jadi Adhi Karya minta bantuan saya bisa nggak bantuin yang ada di tengah. Saya bilang kalau pier jembatan di tengah saya tidak rekomendasi dan saya tidak mau kerjakan,” terangnya.

Menurut Dina jika titik jembatan itu menggunakan pier di tengahnya akan sangat sulit dilakukan. Sebab di bawahnya terdapat jalan layang yang membentang rapat dan terbilang lebar. Kalaupun bisa, harus menggunakan teknologi super canggih dengan biaya yang cukup besar. “Saya bilang saya mau bantu tapi tidak ada pier di tengah, melengkung. Di situlah terjadi pertentangan. Mereka menentang saya, tapi saya mah kukuh. Bahwa itu harusnya bisa. Karena pertimbangan saya pertama jembatan seperti itu pernah dikerjakan, tapi tidak sepanjang itu. Hanya itu saja,” tuturnya.

Dina yakin dengan metode desain yang dia buat, sebab sebelumnya dia pernah mendesain jalan layang TransJakarta di Adam Malik dengan bentuk melengkung. Hanya saja lebih pendek, yakni 128 meter.

“Jadi kalau kata para pengawas dari Jepang, Korea mereka bilang bagaimana bisa nyambung, ini kan melengkung. Saya bilang saya yakin bahwa itu bisa. Mereka tidak percaya engineer Indonesia bisa dan tidak percaya kontraktornya bisa,” tuturnya.

Dina teringat ketika pertama kali datang membawa rancangannya dalam rapat. Saat itu dia diremehkan oleh para konsultan asing seperti konsultan dari Prancis, Systra.

“Waktu saya datang pertama kali seperti jualan obat datang sendirian, ditanya ‘bisa desain jembatan?’ kata si Prancisnya. Datanglah salah satu direksi Adhi Karya bilang loh justru kita menunggu-nunggu bisa bekerja sama kembali dengan Ibu Dina. Di situ saya tunjukin slide-slide jembatan saya di situlah dari Systra percaya saya bisa desain jembatan. Tapi belum setuju karena agak lama pertentangan, akhirnya Adhi Karya percaya desain saya bisa dilakukan dan Adhi Karya bisa melakukan. Alhamdulillah terjadi,” kenangnya.

Banyak pihak memandang bahwa saat ini jembatan longspan melengkung dengan panjang 148 meter belum pernah ada di Dunia. Dina sendiri pernah membuat desain longspan sepanjang 180 meter di Perawang, Riau namun bentuknya lurus.

“Jadi yang dari Jepang bilang ini pertama kali di dunia kamu nggak bisa nyontoh. Ya ngapain nyontek. Tapi saya yakin bisa. Karena prinsip dasarnya ada, tapi ini panjang, memang tingkat risikonya yang akan lebih lama dan lebih besar,” ungkapnya. (dtk/mam)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *