SMA Pesat Cibinong Ingin Tetap Nasionalis Hadapi Era 4.0

by -14 views

METROPOLITANSMA PGRI Plus Satu (Pesat) Cibinong menyelenggarakan Lorong Budaya Tahun 2019 yang dikemas melalui apresiasi budaya nusantara cerita rakyat, kemarin. Dalam acara ini para siswa menampilkan 18 suku bangsa Indonesia. Tujuannya, untuk melahirkan generasi milenial kreatif, inovatif dan nasionalis dalam menghadapi perkembangan teknologi di era 4.0.

Kepala Pesat Cibinong, Basyarudin Thayib menuturkan, derasnya arus teknologi informasi di era industri 4.0 menjadi tantangan bagi dunia pendidikan dalam melahirkan generasi atau kader bangsa yang berkualitas, berkarakter dan memiliki rasa nasionalis terhadap tanah air. Sehingga bisa turut menjaga dan melestarikan budaya bangsa di tengah pesatnya budaya asing masuk ke Indonesia.

“Untuk melahirkan kader bangsa yang berkualitas, harus memiliki tiga karakter yakni nasionalis, menguasai teknologi dan memiliki iman yang kuat. Dengan tiga karakter tersebut, mereka tidak hanya mampu menghadapi tantangan menuju era 4.0 tetapi mampu menjaga budaya dan martabat bangsa di mata dunia,” ujarnya.

Menurut dia, kegiatan lorong budaya ini agenda rutin tahunan yang telah dilaksanakan sejak 2012 lalu untuk menjaga dan melestarikan budaya bangsa. Para siswa tidak hanya diajak mengenal tetapi mendalami budaya melalui beragam cerita rakyat.

“Lorong budaya tahun ini kita tampilkan 18 suku budaya dengan tema cerita rakyat, sebagai wadah kreativitas, inovasi dan berkarya dalam mengembangkan bakat dan minat para siswa. Dengan cerita rakyat mereka berupaya menjadi pelaku dengan mendalami karakter otomatis akan terbentuk rasa memiiliki budayanya dan nasionalis. Sehingga kita budaya kita tetap bertahan di era globalisasi seperti saat ini,” tegasnya.

Sementara itu, Kasubdit Peserta Didik Direktorat Pembinaan SMA Kemendikbud RI, Juandanilsyah mengapresiasi kegiatan positif ini. Karena para siswa diberikan kebebasan untuk menampilkan kreativitas yang tinggi dari suku bangsa masing-masing.

“Ini yang kita sebut learning outcome, kompetensi yang diajarkan di sekolah masih konten. Sementara yang ditampilkan itu output dari apa yeng mereka dapat dan pelajari. Melalui kegiatan ini mereka bisa memenuhin yang namanya empat C, yakni creativy, critical thinking, colaboration dan communication,” katanya.

Ia melihat para siswa pandai dan pintar dalam mengapresiasikan budaya melalui cerita rakyat yang ditampilkan. Di tempat yang sama, Ketua Pengurus Besar PGRI Kabupaten Bogor, Supardi mengaku, bangga dan mengapresiasi manajemen dan kinerja yang dilakukan seluruh jajaran SMA Pesat. Metode pembelajaran yang dikemas melalui kegiatan apresiasi lorong budaya nusantara itu, menjadi semangat baru sesuai dengan tujuan pendidikan diera milenial seperti saat ini.

“Pelestarian budaya ini sangat penting untuk dilakukan terutama di usia dini, jangan sampai generasi kita tergerus budaya asing. Kami berharap dengan kegiatan ini mampu menumbuhkan rasa mencintai budaya bangsa. Karena dengan memelihara budaya bangsa, kita turut serta mempertahankan eksistensi bangsa Indonesia,” imbuhnya. (*/els)