Tebarkan Virus Mendongeng

by -12 views
KOMPAK: Peserta Festival Dongeng di Sekolah Alam, Tanahbaru, foto bersama. Acara ini digelar Komunitas Dongeng Kota Bogor sebagai cara menebarkan virus mendongeng.

METROPOLITAN – Memperingati Hari Pahlawan, Komunitas Dongeng Kota Hujan mengisi kembali akhir pekan ceria di Sekolah Alam, Tanahbaru, Bogor Utara, Minggu (10/11). Festival dongeng ini dihadiri ratusan peserta yang terdiri dari anak-anak dan orang tua. Dengan mengusung tema “Pahlawan Bumi”, komunitas ini mengajarkan bagaimana caranya menjaga lingkungan, terutama mengurangi sampah plastik.

Festival dongeng yang ke-6 ini diisi oleh Kak Ais (Pangiuhan Bogor), kak Ani (Komunitas Dongeng Kota Hujan), Audrey (Pendongeng Wayang Cilik) , Kak Dayat dan Kak Bonchie, Teater Boneka Ayo Dongeng Indonesia, Pemtol dari Aceh, dan pendongeng dari Sekolah Alam. Masing-masing pendongeng memiliki caranya sendiri agar anak-anak bisa memahami apa yang mereka sampaikan. Mulai dari pemanfaatan barang bekas diolah kembali menjadi media untuk bercerita, wayang, boneka, hingga bercerita lewat lagu. Antusias anak dan orang tua membuat para pendongeng bersemangat menyampaikan ceritanya.

Mereka mengajak anak-anak bercerita, bernyanyi, menari, dan bermain. Sehingga anak-anak senang dan mengingat apa yang mereka dapatkan di festival dongeng ini. Butuh kerjasama dengan orang tua melalui pengulangan lagu dan cerita, karena menyampaikan dongeng identik dengan memberitahu tanpa menggurui.

Komunitas Dongeng Kota Hujan tidak akan berhenti untuk menyebarkan virus dongeng, karena mereka memiliki visi berbagi virus kebaikan lewat dongeng. Harapannya setelah festival ini, bisa membuat hubungan antara orang tua dan anak menjadi akrab, dan orang tua dapat meluangkan waktunya untuk anak bukan menunggu untuk waktu luang. Hal yang terpenting adalah agar bisa menjadi sebuah movement mereka berubah dan sadar untuk menjaga lingkungan.

Selain pentas dongeng, di festival ini juga mengadakan bazar dan piknik bersama. Terdapat beberapa booth booth makanan, minuman, pakaian, dan lain –lain. Ketua Pelaksana, Nurmiya Yusni, mengatakan, dipilihnya tema Pahlawan Bumi karena melihat program pemerintah yang sedang giat-giatnya mengurangi penggunaan pelastik, isu-isu lingkungan, dan sampah yang semakin menumpuk. “Sebelum hari H kami memberitahu bahwa acara ini gratis dan terbuka untuk umum, cukup membawa alat makan, tumbler, dan tas belanja. Jadi bilamana makanan yang dibeli tidak habis, anak-anak masih bisa menyimpannya di tempat makan yang mereka bawa,” kata Miya. (hb/els)

Loading...