Tingkatkan PADes lewat Wisata Alam

by -
ASRI: Destinasi wisata alam di Desa Purasari masih nyaman dan asri.

METROPOLITAN – Berbagai cara dilakukan Pemerintah Desa (Pemdes) Purasari untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) di wilay­ahnya. Salah satunya dilaku­kan dengan menyasar sektor wisata alam.

Rencananya, pemdes akan mengelola se­jumlah destinasi wisata alam yang ada di wilayahnya mel­alui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk meningkat­kan ekonomi kreatif.

Sekadar diketahui, Desa Purasari berada di wilayah Barat Kabupaten Bogor. Wi­layah itu berbatasan langsung dengan Kabupaten Sukabumi. Di mana terdapat destinasi wisata alam yang berhasil mencuri perhatian masyara­kat luas.

Pejabat Sementara Kepala Desa (Pjs Kades) Purasari Endang Setiawan mengaku memiliki program untuk pe­ningkatan ekonomi kreatif. Salah satunya membuka lahan pekerjaan potensi wisata alam, tepatnya di Kampung Baku­kung, RW 11.

“Sudah kita canangkan untuk dikelola (wisata alam, red) oleh BUM­Des untuk meningkatkan PADes di tahun ini,” katanya.

Lokasi itu, jelasnya, berada di perkebunan teh milik Per­seroan Terbatas Perkebunan Nusantara (PTPN) di Bukit Cianten. Ke depan, ia akan melakukan kerja sama dengan PTPN untuk ikut mengelola lokasi wisata menjadi agrowi­sata.

”Di Bukit Cianten pe­mandangan alamnya sangat terasa. Udara juga masih te­rasa sejuk dan nyaman, serta cocok untuk menjadi tempat studi tur pelajar maupun ma­hasiswa dalam riset peneli­tian dan bahan belajar para pelajar,” ucapnya.

Tak sampai di situ, pihaknya juga menyasar destinasi pe­mandangan alam. Saat ini pihaknya tengah menggedor keberadaan Curug Cicandra untuk dijadikan destinasi wi­sata air.

”Jarak dari balai desa ke lokasi curug 12 kilometer. Di sana juga terdapat wilayah binaan, yakni di RW 10 yang masuk lokasi Kawasan Ramah Lingkungan (KRL) dan sudah masuk sepuluh besar tingkat Kabupaten Bogor,” imbuhnya.

Selain itu, potensi lain yang ada sejak lama yakni petani gula aren. Sebab, produk yang diambil murni dari hutan di wilayah itu sudah menjadi penciri Desa Purasari, Keca­matan Leuwiliang.

“Alham­dulillah, saat ini penjualan saya sudah merambah ke Jabodetabek, dengan harga Rp20.000 per kilogram untuk pemasaran gula aren,” kata salah seorang warga Desa Purasari, Sumijah (40). (yos/b/rez/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *