Tinjau Sungai Ciliwung Bareng KLHK

by -27 views
MENINJAU: BPBD Kota Bogor bersama Satgas Peduli Ciliwung dan KLHK saat meninjau kondisi Sungai Ciliwung jelang musim penghujan, kemarin.

METROPOLITAN – Memasuki akhir tahun, intensitas curah hujan di Kota Bogor cenderung meningkat. Sejalan dengan itu, potensi kerawanan bencana juga menghantui seluruh wilayah se-Kota Bogor. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor pun mengantisipasi beberapa potensi bencana memasuki akhir tahun, yakni banjir dan tanah longsor dengan berbagai upaya. Salah satunya memantau dan menyisir Sungai Ciliwung.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Bogor Juniarti Estiningsih mengatakan, Sungai Ciliwung menjadi bagian sangat penting dalam upaya mengatasi kerawanan bencana pada musim hujan di akhir tahun.

Salah satu caranya ia dan jajaran bersama Satgas Komunitas Peduli Ciliwung mendampingi tim dari bidang Sumber Daya Air dan Pencemaran pada Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan penyisiran dan pemantauan kondisi di beberapa titik Sungai Ciliwung di Kota Bogor, kemarin (7/11).

“Salah satunya di Sukamulya, Kelurahan Sukasari, Kecamatan Bogor Timur. Kegiatan bersama ini bertujuan untuk untuk pemantauan wilayah, yang memiliki potensi pencemaran lingkungan dan memiliki potensi kebencanaan. Maka dari itu kegiatan ini dilaksanakan,” katanya kepada Metropolitan, kemarin.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh BPBD Kota Bogor, telah terjadi 558 peristiwa bencana sejak Januari-September 2019 di wilayah Kota Bogor. Dari data tersebut, bencana tanah longsor paling mendominasi dengan angka 155 kejadian. Maka, pihaknya gencar menggiatkan pembentukan kelurahan tanggap bencana (katana) yang didalamnya terdapat Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB).

Isinya terdiri dari petugas dan berbagai elemen masyarakat. Saat ini, kata dia, sudah 16 katana yang sudah terbentuk. Targetnya, beberapa tahun mendatang, semua kelurahan se-Kota Bogor tanggap bencana.

Mantan sekretaris Dinas Sosial Kota Bogor itu menambahkan, Kota Bogor rawan akan dua jenis bencana, yakni tanah longsor dan banjir. Untuk tanah longsor, tak kurang dari 17 kelurahan termasuk rawan bencana. Yakni Kelurahan Pasirjaya, Bojongkerta, Gunungbatu, Bondongan, Cibogor, Gudang, Sempur, Paledang, Cimahpar, Tegalgundil, Katulampa, Curug, Loji, Semplak, Muarasari, Lawanggintung dan Cipaku.

Sedangkan daerah yang rawan banjir diantaranya Kelurahan Tanahbaru, Ciparigi, Cibuluh, Kedunghalang, Babakanpasar, Sukasari, Baranangsiang, Cibadak, Bantarjati, Kebonkalapa, Panaragan, Sukaresmi dan Batutulis.

“Upaya mitigasi bencana kita berikan kepada seluruh komponen masyarakat dan sekolah-sekolah mulai dari PAUD, TK SMP, SMK bahkan perguruan tinggi. Jadi masyarakat di level kelurahan sampai kepada organisasi yang memang membutuhkan terkait dengan sosialiasi, edukasi dan simulasi terkait mitigasi terus kami berikan” pungkas Esti, sapaan karibnya. (ryn/b/yok)