Tips Investasi Emas Biar Untung

by -165 views
ILUSTRASI: Pedagang menunjukkan emas batangan di Jakarta. Investasi emas online ini mulai digandrungi

METROPOLITAN—Banyak pilihan investasi yang menjanjikan. Termasuk investasi emas online yang mulai digandrungi. Namun bila tak cermat, investasi ini justru bisa membuat pelakunya gigit jari.

Investasi emas memang memiliki risiko rendah dengan tingkat keuntungan yang stabil. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat mulai berinvestasi ini.

Direktur ORORI Group Triono J Dawis menjelaskan setiap waktu harga emas terus naik turun.

“Kebanyakan investor pemula itu tidak sadar. Mereka tidak melihat pergerakan harga emas ini. Jadi mereka beli emas saat harganya sedang tinggi. Jadi memantau harga itu sangat penting,” ujar Triono di Gedung Sampoerna Strategic, Jakarta, Rabu (20/11/2019).

Ia menambahkan, pemula biasanya tidak melakukan perbandingan harga dengan tempat lain yang juga menjual emas. Padahal perbandingan sangat wajib dilakukan. Selain itu, dalam membeli juga tak perlu terburu-buru.

“Harus membandingkan dengan beberapa tempat dan pastikan harga yang didapatkan sudah harga terbaik,” imbuh dia.

Jangan membeli emas daur ulang. Emas yang rusak atau cacat kemudian didaur ulang memiliki tampilan yang kurang baik. Kemudian, jangan membeli emas atau logam mulia dari tempat yang tidak terpercaya.
Pasalnya saat ini juga ada emas palsu yang banyak beredar di pasaran.

“Jangan sampai tertipu, pilihlah penjual yang terpercaya,” ujarnya.

Biasanya, pemula hanya membeli satu jenis emas saja. Yakni dalam gramasi yang besar. Ini dinilai kurang tepat, pasalnya kebutuhan mendadak bisa terjadi kemudian, jika terjadi anda bisa menjual emas satuan kecil yang lain.

Ada beberapa orang yang tidak memperhatikan kemurnian emas. Dia menyebut, beberapa koin emas hanya memiliki kadar emas 90%. Sedangkan untuk investasi, sebaiknya memilih emas murni dengan kadar 99% karena lebih mudah untuk dijual kembali.

Walaupun berinvestasi emas, pemula diharapkan tidak membeli dalam jumlah terlalu banyak.

“Biasanya hanya disisakan sedikit uang tunainya. Padahal, anda sebagai investor juga harus memiliki dana cadangan misalnya biaya kesehatan. Jadi harus disesuaikan juga,” ujar dia.(de/feb)

Loading...