UI Bantu Cegah Stunting di Empat Desa

by -15 views
PELATIHAN: Salah satu kegiatan pemberdayaan kader di Desa Sentul, Kecamatan Babakanmadang, untuk mencegah anak stunting.

METROPOLITAN – Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) bekerja sama dengan aparat Kecamatan Babakanmadang dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor membantu memberdayakan para kader dan perangkat desa deteksi dini dan pencegahan stunting. Stunting diketahui sebagai masalah gizi kronis yang menyebabkan pertumbuhan anak terganggu sehingga tubuhnya lebih pendek ketimbang anak seusianya.

Ketua Tim FKM UI Evi Martha mengatakan, ada empat desa di wilayah Kecamatan Babakanmadang yang menjalani program ‘Pemberdayaan Kader dan Perangkat Desa dalam Deteksi Dini dan Pencegahan Stunting’. “Keterlibatan warga dalam upaya pengenalan stunting di lingkungannya dapat menjadi pintu masuk untuk mensosialisasikan upaya pencegahan stunting yang lebih komprehensif sejak masa pra konsepsi sampai 1.000 hari pertama kehidupan (1000 HPK),” kata Evi.

Evi berharap model atau pendekatan ini ke depan dapat diterapkan lebih luas ke desa-desa lainnya. Sehingga warga lebih banyak tahu mengenai stunting serta mampu mendeteksi, mencegah, dan mengatasinya. “Stunting seringkali tidak dianggap sebagai masalah yang serius, padahal kondisi itu terjadi akibat keadaan kurang gizi yang terakumulasi dalam jangka waktu lama dan berpotensi menjadi masalah kesehatan masyarakat,” jelasnya.

Masalah gizi itu menyebabkan peningkatan risiko kesakitan dan kematian, penurunan kapasitas fisik, gangguan pertumbuhan fisik, serta gangguan perkembangan mental anak. “Stunting merupakan masalah bersama antara pemerintah dan masyarakat luas. Oleh sebab itu, kami mengandeng lintas sektor dan meminta dukungan dari seluruh lapisan masyarakat, di antaranya kader kesehatan dan perangkat desa yang keberadaannya masih lekat dengan budaya dan kebiasaan masyarakat,” kata Evi.

Ia menambahkan, para kader dapat masuk ke tengah masyarakat, mulai dari interaksi dengan ibu hamil, ibu, bayi, dan balita maupun keluarga di sekeliling ibu dan anak. Diharapkan dengan upaya melibatkan kader dan perangkat desa dapat mendeteksi dini stunting pada balita serta mampu menjangkau masyarakat secara lebih luas. Berdasarkan data Dinas Kesehatan, di Kabupaten Bogor pada tahun 2018 prevalensi anak balita stunting-nya 38,1 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan kasus stunting di wilayah lain di Jawa Barat seperti Depok, yang prevalensi balita stunting-nya 25,7 persen. (jab/els)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *