Upaya Tekan Angka Stunting pada Balita

by -
PENGUKUHAN: Kepala Dinkes Kota Bogor, Rubaeah, memberikan selempang Bunda Peduli Stunting kepada Yantie Rachim di Paseban Sri Bima Balai Kota Bogor, kemarin

METROPOLITAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor tengah giat-giatnya dalam upaya menekan angka stunting atau kondisi pendek pada balita. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mencatat, dari sasaran 100.000 balita pada Bulan Penimbangan Balita (BPB) yang dilakukan rutin selama 2018, lima persen diantaranya terkena stunting. Upaya itu pun diperkuat dengan pengukuhan Bunda Peduli Stunting, di Paseban Sri Bima Balai Kota Bogor, kemarin (5/11) siang.

Kepala Dinkes Kota Bogor Rubaeah mengatakan, untuk 2019, proses pemeriksaan terhadap balita se-Kota Bogor masih terus dilakukan, namun sedang memasuki tahap validasi sehingga belum ada jumlah yang terdata secara resmi. Yang jelas, kata dia, pihaknya ingin agar jumlah balita stunting bisa menurun seiring berbagai upaya edukasi dan penanganan.

“Sedang validasi, ya kami berharap jumlahnya bisa menurun ya karena beragam upaya sudah dilakukan,” katanya kepada Metropolitan selepas acara pengukuhan Bunda Peduli Stuntung, di Balai Kota, kemarin.

Stunting atau bayi pendek, sambung dia, menjadi fokus utama pemerintah dalam meningkatkan mutu dan generasi muda di Indonesia. Kota Bogor sendiri punya program Taleus Bogor, yakni Tanggap Leungitkeun Stunting Kota Bogor, dimana berbagai inovasi dan penerapan dilakukan di seluruh posyandu Kota Hujan.

“Dulu kan gizi buruk, yang ditandai dengan perkembangan fisik dari usia dan berat badan. Nah sekarang ini, pengukurannya umur dibandingkan tinggi badan. Penerapan Taleus itu sejak awal kita sosialisasikan, mulai dari remaja, calon pengantin (catin), wanita hamil, melahirkan dan punya balita, kami beri edukasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, edukasi itu menyoal bagaimana memperoleh asupan makanan yang memenuhi kebutuhan gizi, sehingga bisa mencegah potensi stunting pada balita. “Ini bisa dicegah, teknisnya itu bagaimana asupan gizi yang baik, pada remaja, catin, melahirkan sampai punya bayi. Kerjasama juga dengan berbagai lembaga kesehatan ya,” terang Rubaeah.

Sementara itu, Duta Bunda Peduli Stunting Kota Bogor Yantie Rachim menuturkan, pasca-pengukuhan ini, kegiatan untuk mengedukasi warga di posyandu dan berbagai wadah pun dipastikan menguat. Ia melihat, banyak keluarga yang kedapatan balita stunting, lantaran ketidaktahuan terhadap asupan gizi yang baik dan seimbang.

“Peran PKK juga kita perkuat, kan ada program Taleus ya. Itu sudah jalan, cuma kita kuatkan lagi dengan pengukuhan ini. Kan 2017 lalu masih di 27,5 persen, sekarang turun. Ya standar yang ingin kita kejar itu sesuai arahan Presiden Joko Widodo, juga WHO,” tutupnya. (ryn/c/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *