100 Pohon Jadi Syarat Cerai di Jabar

by -57 views

METROPOLITAN – Perceraian memang hal tidak diingina oleh setiap pasangan. Apalagi saat ini Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil tengah merancang progam dimana setiap pasangan yang akan bercerai diwajibkan penyumbangkan 100 pepohonan. Bahkan 100 pephonan tersebut menjadi syarat keluarnya surat cerai dari Pengadilan agama disetiap kota dan Kabupaten di Jawa Barat.

Program ini seirama dengan gerakan menanam 25 juta pohon di 2020 yang digagas Pemprov Jabar. Untuk mewujudkan penghijauan itu, Emil mengaku pihaknya bakal mengoptimalkan partisipasi masyarakat. Caranya melalui pasangan yang akan menikah dan bercerai wajib menyumbang pohon ke Pemerintah Jabar.

“Lingkungan ini bukan hanya urusan pemerintah. Pemerintah sekuat-kuatnya punya keterbatasan. Oleh karena itu ibu-ibu menyumbang pohon setuju?,” kata Ridwan Kamil dalam kegiatan penanaman pohon di Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum bagian hulu di Desa Cimenyan, Kabupaten Bandung, Senin (9/12) kemarin.

Emil juga mengaku masih mengkaji aturan melalui surat edaran terkait sumbangan pohon dari masyarakat ini. Dia pun ikut menyinggung warga yang ingin menikah dan bercerai untuk menyumbang bibit pohon.

“Bulan depan kita mulai bikin edaran. Kalau mau nikah sumbang pohonnya 10 nanti di KUA. Kalau dia cerai jumlah pohon sumbangannya 100, kita buat susah yang ingin cerai,” ujarnya.

Mantan wali kota Bandung ini menjelaskan, surat edaran tersebut tidak hanya berlaku untuk pasangan. Namun juga untuk para siswa, mahasiswa hingga PNS.

“Lulusan SD nyetor 10 pohon, lulusan SMP nyetor 10 pohon juga. Pohon itu ada yang Rp10 ribu, Rp20 ribu, ada Rp50 ribu. Anggap saja kalau 10 pohon cuma nyumbang Rp50 ribu. Kalau mau kelulusan demi lingkungan saya kira enggak ada masalah,” kata Emil.

Sedangkan untuk lulusan SMA ke perguruan tinggi menyumbang sekitar 20 pohon. Adapun wisudawan diharapkan menyumbang 20-50 pohon. “Untuk PNS yang promosi jabatan minimal 50 pohon. Termasuk di kawasan Bandung Raya yang dapat IMB, menyumbang 1.000 pohon. Kita aturlah nanti dalam edaran ini,” kata Emil.

Wacana tersebut rupanya mendapatkan respon dari Pemerintah Kota Bogor, melalui Kepala Dinas Lingkungan Hidup, wacana penanaman pohon yang melibatkan masyarakat sangat baik. Walaupun dirinya juga kebingungan mencari lahan untuk ditanami pohon.

Pasalnya, di Kota Bogor, setiap minggunya dilakukan aksi penanaman pohon yang digagas oleh organisasi Gerakan Tanam Pohon (GTP) yang berkolaborasi dengan DLH kota Bogor dan Dinas Perumahan dan Permukiman (Disperumkim) Kota Bogor. “Kemarin itu terakhir di Situ Gede, Bogor Barat. Memang butuh komitmen, tapi kalau memang wacana seperti itu mau dicanangkan dan bertujuan untuk kebaikan akan kita dukung,” kata Elia.

Saat ditanyakan kriteria yang cocok untuk ditanami di Kota Bogor. Pria berkacamata ini mengaku tidak ada kriteria pohon khusus yang harus ditanam di Kota Hujan ini. Tetapi, jika diberikan pilihan, ia mengaku akan senang jika di sepanjang jalan Kota Bogor dan taman-taman, ditanami pepohonan khas Kota Bogor. Ia juga menyebutkan beberapa jenis pohon, seperti pohon sempur dan pohon kenari.

Penanaman pohon dari perceraian bisa dilakukan untuk mengganti pohon-pohon yang dianggap sudah berbahaya di penjuru Kota Bogor. Terlebih angka perceraian yang tercatat di Pengadilan Agama Kota Bogor, sampai September 2019, sudah mencapai 1.034 perkara, jika dikalikan 100 pohon, maka tahun depan akan terdapat 100.034 pohon baru yang harus ditanami.

“Kemungkinan kita akan mengambil bantaran sungai untuk ditanami pohon. Karena selain menjaga vegetasi, tetapi juga menjaga agar tanah-tanah yang ada di Daerah Aliran Sungai (DAS) bisa terjaga dan tidak longsor,” katanya.

Wacana tersebut mendapat reaksi dari Kepala Dinas Perumahan Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (DPKPP) Kabupaten Bogor, Juanda Dimansyah. Bahkan ia sudah memiliki peta rencana penanaman pohon. Salah satunya kawasan Puncak akan dijadikan wilayah yang ditanami pohon olehnya pertama kali jika wacana ini dijalankan.

“Kalau sepanjang pengamatan saya, memang kondisi di puncak ini semakin lama semakin menyedihkan. Pohon-pohon yang awalnya bertujuan untuk penahan erosi dan longsor, malah ditebang-tebangi dan didirikan villa. Pada akhirnya juga akan berdampak terhadap banjir di Jakarta,” jelasnya.

Untuk DAS yang ada di Kabupaten Bogor, Juanda menambahkan, tanaman jenis bambu adalah pilihan yang tepat untuk ditanam. Akar pohonnya yang kuat, menurutnya bisa menjadi penangkal terjadinya bencana longsor ataupun erupsi di sepanjan DAS.

Jika wacana ini diterapkan, seperitanya Pemkab Bogor bakal mendapatkan banyak pepohonan. Karena angka perceraian di Bumi Tegar Beriman ini cukup tinggi, pada Agustus 2019 saja ada 3.880 gugatan perceraian yang masuk ke Pengadilam Agama Cibinong. Jika dikalikan, setidaknya bakal ada 300.880 pohon baru yang akan ditanam. (dil/c/mam)

Loading...