Kanalisasi Puncak Jilid II Berhasil atau Gagal?

by -
UJI COBA: Kanalisasi 2-1 di jalur Puncak akan kembali diuji coba besok setelah pertama kali uji coba akhir Oktober lalu.

METROPOLITAN – Sempat ‘gagal’ pada uji coba pertama, kini kebijakan kanalisasi 2:1 yang diterapkan Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) bersama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor dan Polres Bogor akan kembali diuji cobakan besok (7/12). Namun, berkaca pada uji coba pertama, suara sumbang belakangan muncul setelah kebijakan ini terkesan mentah dan minim persiapan.

“Tanggal 7 (Desember) ini, kita mau uji coba (kanalisasi) 2-1, teknisnya ada di BPTJ,” kata Bupati Bogor Ade Yasin, belum lama ini.

Menurutnya, akan ada beberapa perbedaan uji kanalisasi 2-1 kali ini dari uji coba sebelumnya. Perbedaan itu merupakan hasil dari evaluasi uji coba kanalisasi yang dilakukan pada Minggu 27 Oktober lalu.

“Mungkin lebih baik dari kemarin. Tapi apakah itu menjadi solusi atau tidak, kita lihat saja nanti,” kata politikus Partai Persatuan Pembangunan (PPP) itu.

Dirinya mengantongi tiga catatan setelah melakukan pemantauan secara langsung uji coba sistem pengganti buka tutup atau satu arah (one way) itu. Catatan pertama yaitu mengenai adanya kepadatan kendaraan di beberapa titik karena adanya penyempitan jalan atau bottleneck.

Ia menyebutkan, kepadatan kendaraan terjadi di titik langganan macet seperti Pasar Cisarua, Simpang Taman Safari (TSI), Tanjakan Selarong, dan Simpang Megamendung.

Kedua, yaitu belum tersedianya cerukan angkot. Pada hari pertama uji coba kanalisasi 2-1, tak sedikit angkot berhenti di jalan ketika menunggu penumpang naik, sehingga membuat laju kendaraan lainnya tersendat.

“Angkot berhenti di jalan ketika menunggu penumpang naik, membuat stuck kendaraan-kendaraan di belakangnya,” bebernya.

Catatan yang terakhir, arus lalu lintas terganggu para pengendara yang memberhentikan mobilnya saat belanja di pedagang kaki lima (PKL). Hal itu karena terdapat beberapa titik PKL yang tersebar di jalur Puncak.

Ade Yasin juga mengatakan, sistem kanalisasi 2-1 merupakan bagian dari program Save Puncak, yakni membagi arus lalu lintas Jalur Puncak menjadi tiga lajur. Dua lajur ke arah yang sama, dan satu lajur ke arah sebaliknya sesuai dengan ketentuan waktu yang berlaku. “Tujuannya, mencari alternatif (jangka pendek) penataan lalu lintas Jalur Puncak dengan memberi ruang aksesibilitas dua arah di jalur itu pada akhir pekan atau musim liburan,” terangnya.

Sementara itu, Kasatlantas Polres Bogor Muh Fadli Amri menjelaskan, sistem 2-1 di Jalur Puncak akan dimulai pukul 07.00 WIB hingga 16.00 WIB. Sistem tersebut diklaim Fadli berbeda dengan sebelumnya, karena pihaknya akan tetap memberlakukan sistem one way pada pagi harinya.

“Yang menjadi pembeda dengan uji coba pertama adalah kita tetap memberlakukan one way di pagi hari, karena memang arus kendaraan yang naik di Sabtu pagi itu lebih banyak. Namun, di siang hari, arus kendaraan yang turun tidak sebanyak Minggu, sehingga akan kita uji coba 2-1,“ jelas Fadli.

Sistem one way mengarah ke atas Puncak akan berlaku mulai pukul 07.00 WIB hingga 12.00 WIB. Lalu pukul 12.00 WIB hingga 16.00 WIB diberlakukan kanalisasi 2-1, yaitu dua lajur arah turun dan satu lajur arah naik ke Puncak.

Pihak kepolisian juga akan melakukan penutupan sejumlah ruas jalan di Jalur Puncak pada malam tahun baru, Selasa (31/12) mulai pukul 18.00 hingga Rabu (1/1) pukul 06.00 WIB. Penutupan ini dilakukan sebagai upaya menghindari kelebihan (overload) kendaraan yang ingin merayakan tahun baru di jalur Puncak.

Penutupan dilakukan di enam titik, yakni Pos Interchange 1 B, SPBU Patung ayam dari arah Ciawi, RM Cimory, SPBU Ussu, Simpang Taman Safari, dan Gunung Mas.

“Harapannya adalah warga yang akan berlibur di Puncak agar naik sebelum waktu penutupan, karena setelahnya tidak ada lagi kendaraan roda empat yang dberikan akses ke Puncak,” ujar Fadli.

Terpisah, Kepala BPTJ Bambang Prihartono mengakui, keputusan uji coba kanalisasi 2:1 untuk kedua kalinya ini setelah melewati proses pembahasan stakeholder pada rapat 31 Oktober dan 2 Desember lalu. Ia pun menekankan kalau kebijakan ini tidak akan serta merta mengurangi kemacetran di jalur Puncak. Namun, ini menjadi alternatif jangka pendek penataan lalu lintas di jalur Puncak dan memberi akses dua arah bagi warga sekitar saat Puncak dipenuhi wisatawan.

“Uji coba sistem 2:1 sendiri bentuk keputusan untuk mengakomodasi usulan dan kepentingan masyarakat di sekitar Puncak yang sudah cukup lama terganggu mobilitasnya karena penerapan sistem buka tutup,” ujarnya.

Berbeda dengan uji coba pertama pada 27 Oktober lalu, uji coba tahap kedua ialah penempatan traffic cone sebagai pemisah lajur. Jika pada uji coba tahap pertama pemisahan tiga lajur dilakukan dengan menempatkan dua baris traffic cone, maka pada uji coba tahap kedua pemisahan lajur hanya dilakukan dengan menempatkan satu baris traffic cone. Hal ini dilakukan untuk dapat lebih memaksimalkan kapasitas jalan.

Bambang juga mengklaim, kebijakan ini merupakan bagian dari upaya Save Puncak yang selama ini digaungkan, bagian dari usulan jangka pendek. Selain daripada upaya lain seperti sosialisasi jalur alternatif (menjelang exit Cibubur), percepatan pelaksanaan pelebaran jalan dari Gadog – Puncak, serta percepatan pembangunan rest area di Gunung Mas. (ryn/c/lip/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *