Komnas PA Bakal Panggil Walikota dan Bupati Bogor, Anak Kecil Ikut Demonstrasi

by -420 views

METROPOLITAN – Suasana jalanan Kota Bogor, terutama di sekitaran Tugu Kujang, sejak siang kemarin tak seperti hari biasanya. Ratusan anak usia sekolah, terlihat berlalu lalang menunggangi truk, lengkap dengan baju koko dibalut sarung, serta peci putih menuju pusat Kota Hujan seusai salat Jumat.

Kedatangan mereka bukannya tanpa maksud dan tujuan. Mereka berbondong-bondong menuju ke tugu kujang untuk ikut menyuarakan aspirasinya terkait dugaan kasus penistaan agama yang diduga dilakukan oleh putri proklamator kemerdekaan Indonesia, Sukmawati Soekarnoputri dan Gus Muwafiq.

Pantauan Metropolitan, anak-anak ini datang dengan menggunakan kendaraan truk dan bak terbuka. Salah satunya terlihat di Kawasan simpang Jambu Dua, Ekalokasari dan Empang.

“Apapun bentuknya, siapapun orangnya, mau itu habib atau ulama, ketika menghina nabi Muhammad. Wajib hukumnya dibunuh, itu menurut hukum islam,” ucap Habib Bahsyim, salah satu tokoh agama yang berhasil diwawancarai oleh Metropolitan, saat berada di tugu kujang, kemarin.

Lebih lanjut, ia menyampaikan kalau tuntutan yang disuarakan olehnya tidak ditindaklanjuti. Maka ia akan menggerakkan massa lebih banyak lagi, mengikuti beberapa daerah yang menjalankan aksi damai juga.

“Jangan sampai ulama ahlul sunnah wal jamaah, mengeluarkan fatwa berjihad untuk memerangi orang-orang yang menghina Nabi Muhammad,” katanya, yang disambut dengan takbir para peserta aksi.

Dalam aksi yang dinamakan aksi 1312 Tugu Kujang ini, ternyata masih banyak peserta aksi yang ikut meramaikan unjuk rasa ini. Hal tersebut juga tidak ditampik oleh Habib Bahsyim. Bahkan ia menilai kalau kehadiran anak-anak ini merupakan hak yang sudah dilindungi oleh Undang-undang.

“Ini hanya dijadikan alasan. Santri punya hak. Mereka adalah simbol yang tak bisa dipisahkan,” imbuhnya.

Kehadiran mereka yang masih dibawah umur ini juga disayangkan Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Bogor, Dadang Sugiarta yang turut hadir memantau jalannya aksi. Ia mengatakan, seharusnya anak-anak tidak dilibatkan didalam acara yang dikategorikan sebagai agenda politik. Walaupun aksi berjalan aman dan damai, kehadiran anak-anak menurutnya mencoreng citra Kota Bogor yang ingin mendapatkan predikat kota ramah anak.

“Harusnya tidak boleh, tapi yang penting mereka selamat. Kadang-kadang masyarakat juga tidak mengerti apa itu unjuk rasa. Kuncinya kondusif, tidak mengganggu ketertiban dan aman. Makanya kami hadir kesini juga salah satunya adalah untuk memantau mereka,” kata Dadang.

Melihat kondisi yang terjadi di Kota Bogor, Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA), Arist Merdeka Sirait, mengaku akan sesegera mungkin membuka dialog dengan kepala daerah di Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Sebab telah terjadi pelanggaran undang-undang perlindungan anak, yang terjadi di Kota Bogor.

Yang dimaksud dengan pelanggaran oleh Arist adalah eksploitasi kepentingan politik.

“Siapapun dilarang untuk memanfaatkan anak dalam kegiatan politik. Kami tidak membenarkan aksi yang terjadi di Kota Bogor hari ini karena melibatkan anak dalam kegiatan politik,” tuturnya, saat dihubungi oleh Metropolitan melalui sambungan telepon.

Lebih lanjut, menurutnya Pemerintah Kota dan Kabupaten Bogor harus sesegera mungkin menerbitkan peraturan baik itu Peraturan Daerah (Perda) ataupun Peraturan Walikota (Perwali) dan Peraturan Bupati (Perbup) yang mengikat, sebagai bentuk penerapan undang-undang perlindungan anak.

Sebab jika hal ini dibiarkan, anak-anak akan dengan mudah terpapar pemikiran yang terbentuk dari ujaran-ujaran kebencian yang selalu digaungkan didalam aksi. Nantinya didalam perda tersebut, lanjut Arist, sekolah ataupun komunitas yang melanggar dapat dijerat hukum pidana.

“Kalau terpenuhi unsur-unsur pidananya dapat dikurung lima tahun penjara,” pungkasnya.

Aksi 1312 Tugu Kujang, berakhir setelah adzan Ashar berkumandang. Para peserta aksi meninggalkan tugu kujang dengan aman. Yang menyedihkan adalah anak-anak yang datang dari berbagai wilayah di luar Kota Bogor, memberhentikan kendaraan truk dan mobil terbuka untuk bisa kembali ke rumahnya. (dil/c/yok)

Loading...