Mau Nginap dengan Nuansa Beda di Bogor? Leuweung Gegeledegan Hadirkan Hotel Berkonsep Bumi Perkemahan

by -5.7K views

METROPOLITAN.id – Bagi Anda pecinta nuansa alam, kurang lengkap rasanya jika tak berkunjung ke Bogor. Di Bogor, ada satu hotel yang menyuguhkan nuansa berbeda. Adalah Leuweung Gegeledegan Ecolodge, sebuah hotel berkonsep bumi perkemahan atau yang biasa disebut glamping (glamour camping).

Letaknya berada di Jalan Tamansari, Kelurahan/Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor. Lokasinya tak jauh dari pusat Kota Bogor.

Leuweung Geledegan sejatinya diambil dari bahasa Sunda. Artinya, sebuah hutan yang sangat rimbun, gelap, misterius, agak menyeramkan, dan sedikit berbau mistis.

Namun, berbeda Leuweung Gegeledegan yang satu ini. Bayangan sebuah hutan yang gelap dan menyeramkan sirna. Justru Anda akan disuguhkan dengan atmosfer hutan yang hijau, udara bersih dan segar yang membuat senang paru-paru, serta pemandangan yang memanjakan mata.

Bukan hanya nama yang menggunakan bahasa Sunda. Pengelola ternyata punya tujuan mengenalkan budaya lokal Sunda kepada para pengunjungnya. Mulai dari makanan-makanan tradisional, permainan tradisional, dan seni tradisional. Meski demikian, bukan bukan berarti tak tersedia makanan nasional dan internasional. Semua ada.

Lokasi restoran terpisah dengan ‘tenda-tenda’ tempat menginap. Maka jangan kaget ketika ada hansip membawa kentongan mendatangi tenda. Mereka hanya mengingatkan tamu bahwa waktu makan siang atau makan malam sudah tiba.

Ada 82 lodge atau tenda yang tersedia, dilengkapi 2 restoran berkapasitas 50 dan 100 orang. Lodge-nya pun unik. Tampak seperti tenda tetapi memiliki fasilitas hotel berbintang. Pengunjung bisa tetap merasa dekat dengan alam.

Menikmati segarnya udara pagi dan hembusan angin sejuk makin lengkap dengan pemandangan Gunung Salak di depan mata. Saat malam hari menjelang tidur, suara hewan khas di pedesaan seperti suara jangkrik, kodok, dan binatang malam lainnya terdengar hingga ke tenda. Sebuah suasana yang sangat langka didapatkan di perkotaan.

Fasilitas di Leuweung Geledegan ini lebih dari cukup. Ada kolam renang tematik, kawasan 1 hektare untuk kegiatan outbound. Ada juga 5 ruang pertemuan yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan, termasuk pernikahan.

Selain berwisata, Leuweung Geledegan juga menyuguhkan sisi edukasi bagi para pengunjung. Edukasi lebih kepada penjelasan tentang berbagai tumbuhan yang ada di sekitar Leuweung Geledegan.

Tanaman-tanaman itu juga bagian dari fasilitas pelengkap. Ada kebun buah-buahan dan taman bunga.
Di kebun buah-buahan, pengunjung akan dikenalkan dengan berbagai jenis tanaman buah yang sudah jarang ditemui. Seperti sapote, magic fruits, berbagai jenis anggur dan lainnya. Di taman bunga, ada jejeran bungai matahari, tabebuya, jackaranda, bungur sakura dan aneka bunga lainnya.

Pengelola juga menjual bibit-bibit tanaman tersebut, sekaligus membimbing cara merawatnya. Dalam menangani kebun buah dan taman bunga dan penyediaan bibit, pengelola menggandeng petani buah dan bunga dari Cisarua Bogor dan Lembang Bandung.

Pengalaman dan Kenangan

Selain bercengkrama dengan alam, Leuweung Geledegan juga menyuguhkan pengalaman dan kenangan. Pengalaman bagi kalangan milenial dan menggugah kenangan bagi generasi yang lebih senior.

Pengalaman dan kenangan itu dituangkan dalam berbagai hal seperti kuliner. Tak lupa, tersedia berbagai spot yang instagramable.

Untuk kuliner, pengelola menyiapkan makanan dan minuman tradisional tanah Priangan, di luar makanan nasional dan internasional. Beberapa makanan dan minuman jadul itu ialah kue balok, bandros, kue putu, bajigur, bandrek, sekoteng.

“Yang menyajikannya adalah mamang-mamang yang memang sehari-hari berjualan makanan dan minuman tradisional tersebut. Kami sengaja bawa mereka ke sini, agar pengunjung bisa berinteraksi dengan mereka. Ini akan menjadi pengalaman yang unik bagi kalangan milenial. Dan, bagi orangtua kalangan milenial, ini bisa menggugah kenangan,” ujar Direktur PT.Bogor Wahana Kreasi, Rizal Ginanjar Cahyaningrat yang juga pengelola Leuweung Geledegan.

Hal unik lainnya ialah hadirnya layar tancap atau kerap disebut misbar. Sebelum bioskop bermunculan, orang-orang dulu kalau mau nonton film ya di layar tancap atau misbar alias gerimis bubar.

“Kenapa misbar? Karena lokasi layar tancap ini di luar ruangan, tanpa atap. Hanya kain dibentangkan sebagai layar lalu filmnya disorot ke kain itu. Kadang tidak ada kursi. Duduk ngampar di tanah beralaskan tikar. Ketika gerimis datang, penonton pun buar. Itulah misbar,” terangnya.

Menurut Rizal, Leuweung Geledegan cocok untuk berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Saat akhir pekan, tentunya keluarga yang mungkin lebih banyak menginap. Atau rombongan dari berbagai daerah. Untuk week days, target pasarnya ialah pemerintahan, swasta, dan anak-anak sekolah.

“Untuk weekdays, memang lebih ke MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition) bagi pemerintah dan swasta. Kami menyediakan team building juga. Sementara anak-anak sekolah, ada edukasi soal lingkungan dan tumbuh-tumbuhan,” pungkasnya. (dil/a/fin)

Loading...