Maulid Nabi Plus Hari Difabel Internasional di Yayasan Ashaba, Hafiz Quran Tunanetra Unjuk Gigi

by -
KEGIATAN: Puluhan disabilitas tunanetra dari YADN Kota Bogor menggelar pengajian rutin sekaligus Maulid Nabi di gedung PPIB Kota Bogor, kemarin.

METROPOLITAN – Punya keterbatasan secara fisik, tidak membuat para tunanetra yang dibimbing Yayasan Ashaba, Jalan Tajur, Kecamatan Bogor Timur, terbatas dalam ‘bergerak’. Terbukti, lantunan ayat suci Al-Quran dari para difabel tunanetra sangat merdu terdengar pada perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di PPIB, Kecamatan Bogor Timur, bertepatan juga dengan Hari Disabilitas Internasional yang jatuh tiap 3 Desember.

Di tengah keterbatasan fisik, puluhan penyandang tunanetra di Yayasan Ashaba mampu menjelma menjadi hafidz dan hafidzah. Sejak awal, yayasan yang bergerak di bidang sosial ini fokus mengembangkan kemampuan penyandang tuna netra untuk mampu menjadi hafidz quran

Ketua Yayasan Ashaba Erni Juhana mengatakan, ada 40 orang penyandang disabilitas yang rata-rata penyandang tuna netra. Pengajian rutin dilakukan setiap Selasa dan Rabu khusus difabel hafidz dan hafidzah,” katanya.

Hafiz quran penyandang tuna netra di yayasannya rata-rata berusia 30 tahun, bahkan ada yang berusia angka 70 tahun. Metode hafalan sederhana, cukup menggunakan Al Quran Braille, atau mendengarkan melalui gawai.

“Tidak cuma dari Kota Bogor, ada juga dari Depok, Sukabumi dan Kabupaten Bogor juga banyak. Hafalannya tidak tentu, dua hingga tiga ayat saja sudah cukup,” paparnya.

Sejak berdiri 2 Maret 2012, 8 ia mengaku Yayasan Ashaba belum tersentuh bantuan dari Pemkot Bogor. Padahal mereka sangat membutuhkannya demi menunjang kemampuan penyandang tuna netra menghafal Al-Quran.

“Baik guru maupun penghafal kan sama difabel,” ujarnya

Seperti kisah Muhaya Lismawati (69) yang sejak kecil tidak mengenyam bangku pendidikan. Ia seringkali “mencuri” ilmu dari tetangga kemudian belajar di rumah.

“Kalau belajar Al Quran, melalui Al Quran Braille. Untuk melatih suara, saya kebetulan belajar mendengarkan dan sering ikut majelis taklim juga,” kata Muhaya.

Dalam satu hari, ia pun konsisten menghafal Al Quran di dua waktu, yakni bakda Subuh dan Ashar. Meski kini zaman serba digital, kata dia, jangan sampai lupa dengan Al Quran sebagai pedoman hidup.

“Saya berharap tuna netra yang lain lebih giat membaca Al Quran. Jangan putus asa karena kita juga bisa, jadi mau dimana pun menghafal dan membaca Al Quran sangat penting,” tuntas Muhaya. (ryn/c/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *