Pelajar Bogor Asyik Pesta Ganja di Kelas

by -102 views

METROPOLITAN – Hanya bisa mengelus dada. Mungkin itulah yang akan dilakukan, saat mendengar sejumlah pelajar mengadakan pesta narkoba di ruang kelas sekolah. Peristiwa ini terjadi di salah satu sekolah Madrasah Aliyah, di Kecamatan Cibungbulang. Tak hanya pesta, salah satu perlajar tersebut rupanya menjadi bandar penyuplai barang haram kepada para pelajar.

Peristiwa ini bermula dari hasil pengembangan yang dilakukan Satuan Narkoba Polres Bogor. Minggu (24/11), sekitar pukul 03.00 WIB, Satnarkoba mendatangi sebuah sekolah Madrasah Aliah, di Kecamatan Cibungbulang tersebut. Dikagetkannya tim Satnarkoba saat melihat lima pelajar tanggung tengah asyik berpesta sabu dan ganja.

Dipilihnya ruang kelas sekolah Madrasah Aliyah tersebut, lantaran satu dari lima bocah ini orang tuanya merupakan juru keamanan sekolah. Sehingga mereka bisa bebas akses keluar masuk gedung sekolah tanpa pengawasan.

“Dari tangan mereka kami berhasil mengamankan 800 gram ganja dan 1 gram sabu-sabu. Kelima pelajar di bawah umur ini langsung kami amankan. Sementara SS kami tetapkan sebagai tersangka,” ujar Kepala Satuan Narkoba Polres Bogor AKP Andri Alam.

Pengungkapan tersebut merupakan, bagian dari hasil Oprasi Antik Lodaya 2019 yang digelar Satuan Narikoba Polres Bogor mulai dari 20 November hingga 30 November. Dari oprasi tersebut pihaknya berhasil mengamankan 53 tersangka dari 40 kasus yang berhasil dibongkan Andri bersma jajaran timnya di Satuan Narkoba Polres Bogor.

SS ditangkap bersama satu bandar pada saat pesta narkoba di salah satu sekolah di Kecamatan Cibungbulang. Namun kata Andri, Target Operasi (TO) yang juga sebagai bandar berhasil melarikan diri. “Iya paling muda 16 tahun dan kita tangkap saat operasi antik itu, mereka sedang melaksanakan pesta narkoba di sebuah ruangan kelas,” kata dia.

Saat dilakukan penggeledahan, ditemukan satu bungkus kecil ganja seharga Rp 20.000. “Barang itu dipecah untuk diedarkan dan SS ini yang nganter barang, jadi ada 800 gram diamankan dan dipecah jadi setengah garis seharga 200 ribuan,” ungkapnya.

Andri menambahkan, 53 tersangka yang ditangkap dari penyalahgunaan narkoba ini tergabung dalam 8 sindikat yang berbeda. Komplotan ini pun ditangkap di 31 kecamatan di Kabupaten Bogor.

Untuk pelajar kata Andri, polisi masih mengembangkan jaringan pemasok narkoba khusus yang beredar di lingkungan pelajar. “Sebenarnya secara keseluruhan Bogor ini memang paling banyak pengedar karena sebagai penyangga ibu kota, terlebih posisi dengan geografis paling banyak di 40 kecamatan dan ada di 31 kecamatan yang kita tangkap,” bebernya.

Begitu juga di Kota Bogor, kehadiran barang haram di kota hujan ini seakan tidak ada habisnya. Salah satu barang haram yang masih banyak beredar di Kota Bogor adalah, sabu. Terbarui Sat Narkoba Polresta Bogor Kota berhasil membekuk pengendar sabu yang import dari Myanmar, yang dikenal sebagai negara dengan produksi sabu terbesar di Asia.

265,2 gram sabu berdasarkan hasil operasional Satresnaskoba Polresta Bogor Kota dan Operasi Antik 2019. Kapolresta Bogor Kota, Kombes Pol Hendri Fiuser mengungkapkan 10 orang pelaku berhasil diamankan oleh Polresta Bogor Kota, yang diduga sebagai penjual sabu dari Myanmar. Modus operandi yang dilakukan oleh 10 orang pelaku yang berhasil diamankan oleh Polresta Bogor Kota, lanjut Fiuser adalah dengan cara menempelkan barang haram di fasilitas umum disekitaran Kota Bogor.

“Ini fenomena gunung es, semakin pro aktif kita semakin banyak kasus terungkap, indonesia secara umum masih menjadi sarangnya narkoba khususnya sabu. Kami masih mendalami asal muasal sabu ini, tapi patut dicurigai berasal dari WA State, salah satu wilayah di Myanmar,” terang Fiuser.

Ia juga mengungkapkan, saat ini Bareskrim Polri bersama dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) sedang gencar-gencarnya melakukan penyekatan di wilayah-wilayah yang diduga menjadi tempat berlabuhnya kapal yang membawa paket sabu dari Myanmar.

Selain ke Indonesia, sambung Fiuser, sabu yang berasal dari Myanmar, diduga disebar ke seluruh penjuru Asia Tenggara. Bahkan sampai ke Australia. Salah satu pelaku yang berhasil diamankan yaitu MJ alias IGOY (28) mengaku mengedarkan barang haram tersebut disekitaran Kampung Parung Banteng, Kelurahan Katulampa, Kecamatan Bogor Timur. IGOY, digelandang oleh Satnarkoba Polresta Bogor Kota pada pukul 20.30, Senin (11/11) lalu. Saat penangkapan, IGOY kedapatan sedang membawa 17 paket sabu dengan total berat 17 gram.

Dilokasi yang sama, Kasatnarkoba Polresta Bogor Kota, Kompol Indra Sani, menilai, para pengedar sabu yang berada di Kota Bogor, lebih memilih untuk mengimpor, ketimbang membuatnya sendiri. Selain lebih beresiko, ia juga menambahkan, kemungkinan sabu yang dijual dari Myanmar, harganya lebih murah. “Memang belakangan beberapa pabrik sabu sudah berhasil dibubarkan. Mungkin karena itu juga mereka (pengedar) lebih memilih untuk mengimport,” terang Indra.

Selain sabu, jenis barang haram seperti tembakau sintetis dan obat keras juga berhasil diamankan oleh Satnarkoba Polresta Bogor Kota. Untuk tambakau sintetis, Indra mengatakan sebanyak 150 gram berhasil diamankan dari tangan seorang pemuda berumur 19 tahun.

Sementara itu, Kasi Pencegahan dan Pemberdayaan Masyarakat (KPPM) BNNK Bogor, Rika Indriyati mengungkapkan ada peran bandar besar dibalik ditangkapnya sejumlah pelajar yang menggunakan dan mengedarkan narkoba di Bogor. “Bisa saja anak tersebut memiliki peran seperti itu, tetapi setidaknya anak tersebut sudah masuk dalam suatu jaringan bandar besar,”kata Rika kepada Metropolitan.

Ia menuturkan, untuk bisa tahu dia korban atau modus baru, harus diadakan penyidikan lebih lanjut. Namun fenomena kasus tersebut, bukan hanya penyalahgunaan tapi peredaran dan pengedar sudah masuk pada usia-usia remaja.

“Ini membuktikan bahwa peredaran yang terjadi khususnya dilingkungan remaja telah lakukan oleh anak-anak remaja itu sendiri,”beber Rika.

“Seusia mereka sudah mulai mengedarkan? bisa saja awalnya coba, kemudian ketagihan jadi pecandu. Dari situlah sudah ketergantungan untuk memenuhi kebutuhan narkoba. Sehingga mereka tidak punya uang untuk membeli, akhirnya diajarkan untuk menjual. Setelah terjual dia bisa mendapatkan bagian dari hasil penjualan barang haram tersebut,” ungkapnya. (mul/ogi/dil/d/mam)

Loading...