Warga Banyuwangi Menggelar Pelatihan Olah Kuliner Ritual Agar Tidak Punah

by -

METROPOLITAN – BANYUWANGI  Puluhan anak muda didampingi Barisan Pemuda Adat Nusantara-Osing (BP AMAN) mempelajari olah kuliner ritual Using Banyuwangi. Itu dilakukan karena khawatir tradisi mengolah makanan ritual tak lagi lestari.

Mereka mempelajari olah makanan ritual Using dengan diprakarsai Program Kemitraan Masyarakat (PKM) salah satu universitas swasta di Banyuwangi. Olahan yang dipelajari seperti tumpeng serakat, petheteng pecel pitik, gecok gempol dan jangan (sayur) banci.

Kuliner ini merupakan sesaji yang ditampilkan dalam acara ritual adat tradisi masyarakat sekitar. Pelatihan digelar di beberapa lokasi, yang masih memiliki ritual adat dan istiadat sakral. Seperti Desa Kemiren, Kelurahan Mojopanggung dan Glagah.

Wiwin Indiarti, perwakilan PKM yang menjadi koordinator pelatihan olah makanan ritual Using mengatakan, Proses pewarisan pengolahan makanan ritual berlangsung turun menurun secara lisan. Sehingga ilmu mengolah makanan ritual tidak tersebar secara luas.

Dikhawatirkan, seni mengolah makanan ritual ini akan hilang. Karena itu perlu upaya transfer ilmu olah makanan pada generasi muda. Agar seni mengolah makanan ini tetap lestari.

“Kami tim PKM mengadakan pelatihan olah makanan ritual Using. Satu paket ada tiga pelatihan. Pertama olah makanan ritual di Kemiren, kedua di Cungking (Kelurahan Mojopanggung) dan ketiga di Andong (Desa Tamansuruh),” katanya kepada detikcom, Selasa (3/12/2019).

Ia menjelaskan, ada ritual individual dan kolektif. Untuk di Kemiren khusus pelatihan olah makanan ritual individu. Untuk di Cungking makanan ritual digunakan saat Amin Pikin. Yakni ritual bersih desa.

“Cungking punya hidangan ritual yang berbeda dengan tempat lain. Namanya sama tapi cara mengemasnya berbeda. Seperti tumpeng serakat yang di Amin Pikin. Cara penyajian berbeda jenis sayuran yang ada di situ juga berbeda. Tumpeng serakat bisa ditemukan di kantong-kantong komunitas using lain,” jelasnya.

Dari tahun ke tahun, menurutnya bahan dalam tumpeng serakat selalu tidak lengkap atau digantikan dengan jenis lain. Seperti terong putih digantikan dengan yang warna hijau. Terong ini tidak boleh digantikan dengan yang warna ungu. Kemudian manisah atau labu siam. Seharusnya yang warna putih. Tapi yang warna putih sudah langka maka diganti dengan yang warna hijau. Alasannya sama, karena sudah tidak bisa ditemukan sehingga dicari yang paling mirip.

Di Andong, Desa Glagah, menurut Wiwin, ada bahan makanan yang tidak umum dipakai sebagai makanan hidangan ritual. Yakni gecok gempol dan jangan (sayur) banci. Gecok di masyarakat using banyak. Tapi gecok gempol hanya ada di Andong. Sedangkan jangan banci bahan dasarnya daun belimbing yang berbunga tapi gagal berbuah makanya disebut banci.

“Itu sudah mendesak diketahui. Pengetahuan harus diwariskan,” tambahnya.

Tidak hanya itu, cara memasak makanan ritual juga tidak sama dengan memasak makanan umumnya. Sebelum memasak, para juru masak makanan ritual lebih dulu mandi besar. Sebab masakan yang akan disajikan itu disajikan untuk orang yang dikeramatkan dan disucikan.

“Maka makanannya harus yang terbaik dan harus suci. Orang yang memasak harus dalam keadaan suci. Tempatnya suci, makanya kita lepas alas kaki. Yang datang bulan tidak boleh masuk. Tidak bicara kalau tidak diperlukan,” bebernya.

Menurutnya, pengetahuan tentang olah makanan ritual penting dimiliki generasi muda karena mereka harus tahu mereka siapa. Ini merupakan bagian dari mempelajari sejarah mereka.

“Mereka harus belajar. Kalau mempelajari satu budaya tertentu harus melihat sudut pandang para pelaku budaya, para pemilik budaya itu sendiri,” imbuhnya.

Salah satu peserta, Dio mengaku bangga dengan banyaknya kuliner ritual yang ada di Banyuwangi. Pelestarian kuliner ritual ini harus terus dilakukan. Sebab jika tidak maka ritual tersebut akan sirna.

“Seneng diajak gabung seperti ini. Karena memang jika kita tidak turun sendiri maka nantinya akan punah juga tradisi dan kuliner ini,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *