Bayi Saya Patah Tulang Dada…

by -
PRIHATIN: Kondisi rumah warga Kelurahan Babakanpasar, Kecamatan Bogor Tengah, yang tiba-tiba ambruk dan menimpa empat orang serta seorang bayi berusia 40 hari, kemarin.

METROPOLITAN – Malam yang seharusnya menjadi waktu untuk istirahat, ternyata berubah menjadi saat-saat yang mencekam bagi keluarga Tjitjih Sukarsih (65). Atap rumah yang selama puluhan tahun melindungi dirinya dan keluarganya dari panasnya terik matahari, atau guyuran air hujan, kini malah membawa malapetaka.

Rumah yang berada di RT 01/04 Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor, tiba-tiba ambrok dibagian atapnya dan menimpa lima orang penghuni rumah yang sedang terlelap dibawahnya. Lima penghuni rumah, yakni Tjitjih Sukarsih (65), Lia Robiatul Awalia (25), Dinul Rachman (25), Nurcahyani (21), dan M Kenan Rafasya yang baru berusia 40 hari, mengalami luka-luka. Bahkan balita yang baru menjalani upacara potong rambut itu mengalami luka parah, patah tulang iga (dada).

Sebelum atap rumah bercat putih itu ambruk, Lia menceritakan detik-detik kejadiannya. Kejadiannya terjadi pada hari Selasa (28/1) sekitar pukul 01.40 WIB dini hari. Seperti biasanya, sebelum tidur, ia pasti selalu memberikan asi kepada bayinya, tetapi, saat sedang memberikan asi, ia merasa kalau kepalanya serasa disiram oleh pasir yang berasal dari atap rumahnya.

Banyaknya tikus yang tinggal diatap rumahnya, tidak membuat dirinya khawatir kalau itu merupakan tanda sebelum dirinya tertimbun reruntuhan atap rumahnya sendiri. Dalam hitungan detik, atap rumahnya pun jatuh dan menimpa dirinya yang seketika melindungi bayinya berada tepat disampingnya.

“Tiba-tiba gelap semua, gak bisa liat apa-apa. Yang saya pikirin saat mendengar dan melihat atap roboh cuma Kenan,” ujarnya sambil menggendong anaknya yang memiliki luka disekitar hidung dan jidatnya yang ditutupi oleh perban.

Suara rintihan kesakitan dari ibunya dan saudaranya membuat dirinya semakin lemas untuk mengangkat badan dan menyingkirkan puing-puing reruntuhan. Beruntung, keponakannya yang berada di ruangan berbeda, dengan cepat menyingkirkan puing-puing bangunan yang menggunung di ruang tengah.

Ia pun sesegera mungkin keluar dari rumah. Setelah menitipkan bayinya ke tetangga, ia pun kembali kedalam rumah untuk membopong ibunya yang mengalami luka serius dibagian kaki karena tertimpa kayu.

Seketika, rumah yang berada di bantaran kali Ciliwung itu dipenuhi oleh warga sekitar. Seuara teriakan dan tangisan memecah keheningan malam Kota Bogor yang cerah. Suara ambulance diujung jalan menjadi satu-satunya tujuan bagi keluarga besar yang tinggal di rumah kecil.

Selama proses perawatan di RS Vania, Lia hanya bisa berdoa dan berharap si buah hati tidak mengalami luka serius dan ibunya bisa terus hidup karena sempat pingsan saat dalam perjalanan. Setelah mendapatkan pengobatan, Lia dan keluarganya kembali ke rumahnya untuk menyelematkan barang-barang yang tertinggal.

Ia juga harus mengungsi sementara ke sebuah kontrakan yang tak jauh dari kediamannya yang sudah tidak layak untuk dihuni.

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh Metropolitan, rumah yang diketahui atas nama Tjitjih Sukarsih ini, merupakan satu dari 200 rumah yang sudah didata untuk mendapatkan bantuan dari program RTLH untuk tahun anggaran 2020.

“Untuk mempercepat renovasi, kemungkinan kami akan mengajukan pencairan dana melalui Biaya Tak Terduga (BTT). Karena kalau menunggu dana program RTLH lama cairnya,” ucap Sekretaris Lurah Babakan Pasar, Syamsudin Noor.

Kejadian ini tentunya menjadi cambukan bagi Pemerintah Kota Bogor. Bagaimana tidak, pada tahun 2020 Pemkot Bogor sudah menganggarkan Rp39 miliar untuk program RTLH. Apalagi posisi rumah Tjitjih hanya berjarak 1 kilometer dari Istana Presiden.

Mendengar kabar adanya rumah ambruk, Anggota Komisi IV DPRD Kota Bogor, Fajari Arya Sugiarto, langsung mendatangi lokasi. Berdasarkan hasil pemantauannya di lokasi, ia menyebutkan kejadian ini merupakan buntut dari buruknya dan lambatnya pendataan yang dilakukan oleh aparatur wilayah.

Padahal didalam APBD 2020, DPRD Kota Bogor telah menyetujui anggaran sebesar Rp39 miliar untuk program RTLH. Dari anggaran tersebut, diperkirakan terdapat 4432 rumah yang akan mendapatkan bantuan.

“Kedepannya saya harap peran serta Kelurahan dan Kecamatan lebih aktif menjemput bola ke masyarakat, agar tepat sasaran. Jangan lagi menunggu rumah rubuh, jadi sebelum rubuh harusnya sudah diantisipasi,” tegasnya.

Adik dari Walikota Bogor ini juga menilai kalau kawasan padat penduduk di Kelurahan Babakan Pasar sudah tidak masuk logika. Sebab, di rumah yang memiliki luas kurang lebih 8 x 10 meter per segi ini dihuni oleh kurang lebih 16 orang dari 4 KK.

Ia juga memberikan saran, jika masih ada rumah yang tidak terakomodir didalam program RTLH. Pemerintah Kota Bogor bisa meminta bantuan ke Provinsi ataupun Kementerian PUPR untuk membantu menyelesaikan persoalan mendasar yang sudah menjadi PR yang tak kunjung selesai.(dil/c/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *