BPS Sasar Milenial

by -
KAWASAN PADAT: Warga melintas di kawasan rumah padat penduduk di Gang Aut, Kota Bogor, kemarin. Sensus penduduk akan dimulai pada Februari 2020

METROPOLITAN – Agenda besar yang menanti di 2020 adalah, dilakukannya sensus penduduk se-Indonesia. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bogor, Sarwono, menyebutkan, akan ada metode baru yang digunakan didalam agenda sepuluh tahunan itu.

Metode anyar yang dimaksud oleh Sarwono adalah, pendataan mandiri secara online, melalui Computer Aided Web Interviewing (CAWI).

Nantinya masyarakat akan melakukan pendataan untuk dirinya sendiri melalui website www.sensus.bps.go.id, yang bisa diakses melalui smartphone ataupun komputer.

“Karena sekarang sudah era digital, maka sensus menggunakan metode online ini sudah sangat relevan untuk dilakukan di Indonesia, khususnya di Kabupaten Bogor,” katanya, kepada Metropolitan saat ditemui di kantor BPS Kabupaten Bogor di Cibinong, kemarin.

Menurutnya, keamanan data masyarakat sudah tidak perlu dipertanyakan lagi.  Baik itu basis data yang sudah dimasukkan oleh masyarakat dipastikan aman, karena server yang ada di BPS pusat sudah terenkripsi atau memiliki kemanan yang baik.

Untuk mempermudah sensus penduduk, metode mandiri akan menyasar generasi milenial, yang dianggap sudah melek teknologi.

Selain itu, agar data yang didapat oleh BPS lebih akurat, masyarakat juga akan memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dan nomor Kartu Keluarga (KK) kedalam server BPS.

“Karena kalau di desa-desa mungkin sinyalnya jelek dan hape nya kurang bagus dan pengetahuan masyarakat relatif kurang, maka kami akan cenderung menyasar milenial,” jelas Sarwono.

Metode door to door atau metode konvensional juga akan tetap digunakan oleh BPS Kabupaten Bogor.

Hal tersebut lantaran luasnya Kabupaten Bogor yang kemungkinan tidak terjangkau sinyal dan masih adanya desa tertinggal, membuat BPS Kabupaten Bogor akan menempatkan setiap petugasnya untuk menyambangi warga.

Untuk memperlancar metode konvensional, masih kata Sarwono, pihaknya sudah menyiapkan 16.000 peta tingkat RT se-Kabupaten Bogor.

“Jangan sampai ada satupun warga yang terlewatkan pada sensus besok, karena tagline kami adalah menuju satu data kependudukan Indonesia,” terangnya.

Dari tujuh tahapan proses sensus penduduk. Sampai saat ini, BPS Kabupaten Bogor masih dalam tahapan kordinasi, konsolidasi dan sosialisasi.

Sensus akan dimulai pada Februari 2020 dengan menggunakan metode mandiri sampai Maret 2020. Setelah melakukan metode mandiri, BPS akan menyusun data penduduk yang sudah melakukan sensus secara online.

Jika data sudah siap dan dipilah-pilah warga yang sudah melakukan sensus secara mandiri dan belum. Tahapan selanjutnya adalah pengecekan ke lapangan dan sensus secara manual pada Juli 2020.

Menurut data BPS, pada 2010, jumlah penduduk di Kabupaten Bogor sebanyak 4.771.932 jiwa, dengan laju pertumbuhan penduduk (LPP) sekitar 3,15 persen.

Sedangkan di 2019 jumlah penduduk Kab Bogor sebanyak 5.840.907 jiwa dengan LPP sebesar 2,20 persen.

Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kabupaten Bogor, Oetje Subagdja menyambut baik sensus penduduk yang akan dilakukan pada awal 2020 nanti.

Karena sejauh ini, data yang dimiliki oleh Disdukcapil dan BPS memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Jika di BPS data jumlah penduduk Kabupaten Bogor ada 5,8 juta jiwa, maka data yang ada di Disdukcapil hanya ada 4,6 juta jiwa penduduk.

Perbedaan yang mencapai 1,2 juta penduduk itu, menurut Oetje dikarenakan metode penghitungannya yang berbeda.

Jika BPS mencatat masyarakat yang tinggal di Kabupaten Bogor saja tanpa melihat NIK dan KK nya, maka Disdukcapil hanya berpatokan kepada masyarakat yang sudah memiliki NIK dan KK di Bumi Tegar Beriman.

“Dengan dilibatkannya NIK dan KK pada pendataan, saya harap nanti perbedaannya tidak akan terlalu jauh lagi. Sehingga data yang kami miliki akurat,” jelas Oetje.

Kepala BPS Kota Bogor, Bambang Ananto Cahyono, berharap tingkat partisipasi warga Kota Bogor melalui sensus mandiri bisa lebih tinggi ketimbang Kabupaten Bogor.

Hal tersebut lantaran, wilayah Kota Bogor yang lebih kecil dan mayoritas warganya yang sudah melek teknologi serta diiringi dengan koneksi internet yang sudah baik, bisa membuat masyarakat sadar untuk melakukan sensus mandiri.

“Target minimal 30% penduduk mau mengupdate datanya,” katanya.

Berbeda dengan Bumi Tegar Beriman. Kota Hujan hanya memiliki selisih perbedaan data jumlah penduduk sekitar 700 ribu jiwa saja.

Dengan suksesnya sensus penduduk 2020 maka pemerintah daerah akan memiliki manfaat berupa identifikasi kualitas dan kebutuhan perumahaan, penyediaan sarana pendidikan untuk semua, perencanaan jenis transportasi yang dibutuhkan warga dan perencanaan tata ruang dan lingkungan. (dil/c/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *