Buka Tutup Lubang Emas, Dua Gurandil Keok

by -110 views
EKSPOS: Kedua pelaku penambang emas ilegal di Kabupaten Bogor tengah diekspos Satreskrim Polres Bogor, kemarin.

METROPOLITAN – Lagi-lagi penambang emas tanpa izin (PETI) atau gurandil ditangkap. Meski kerap ditertibkan mereka kembali kedalam perut gunung untuk mengorek sebongkah emas. Bahkan para ulah gurandil disebut-sebut menyadi salah satu penyebab longsor dan banjir disejumlah Kecamatan di Kabupaten Bogor.

Dalam operasi yang dilakukan Polres Bogor setidaknya dua durandil ditangkap di kawasan Gunung Puntang, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor. Kapolres Bogor, Ajun Komisaris Besar M Joni menuturkan, pengungkapan penambang ilegal atau gurandil merupakan upaya jajaran Polres Bogor dalam penanggulangan bencana alam yang tengah terjadi belakangan ini.

Satuan Reserse Kriminal berhasil penganalisis faktor lain yang berdampak pada bencana alam tanah longsor dan banjir khususnya di daerah Bogor Barat.

“Salah satu faktor penyebab bencana yang terjadi di wilayah Sukajaya dan sekitarnya itu karena adanya aktivitas penambangan liar dan pada momen ini kami berhasil mengungkap kasus penambangan emas liar atau yang biasa disebut gurandil,” kata Joni di Mapolres Bogor, Senin (13/1).

Kedua orang pelaku inisial MAR (24) dan ATA (33) warga asal Desa Banyuresmi Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor ditangkap sedang beroperasi di dalam lubang gurandil.

Para pelaku melakukan aksi penambangan emas tanpa izin dan tanpa memiliki dokumen tambang. Mereka melakukan tambang ilegal di tiga lokasi yakni Gunung Puntang, Lobang Cingalang, dan Lobang Cisapon di Desa Banyuresmi, Kecamatan Cigudeg.

“Yang kita tangkap ini adalah orang yang jadi pemodal termasuk yang lakukan pengolahan yang dia mempunyai masing-masing lobang tambang,” ujar Joni.

Pemilik modal tambang yang ditangkap ini adalah pelaku yang menggerakkan tambang. Pelaku biasanya memperkejakan 40 penambang untuk satu lobang tambang yang digarap. Selain itu, mereka ada si beberapa lobang yang setiap lobangnya diberikan nama.

Setiap lobang dipekerjakan 40 orang digaji harian bisa sampai Rp100.000. Gurandil bisa berhari-hari bahkan berbulan karena sebelum dapat hasil para gurandil tidak pulang maka sebelum kesana membawa genset peralatan lain-lain menginap di sana berdirikan tenda.

Para gurandil itu akan mendapatkan hasil tambang berupa batu-batuan di lokasi tambang. Batuan tersebut kemudian diolah hingga menjadi emas. Setelah jadi emas baru dikumpulkan ke tempat pengepul dari pengepul dijual ke toko-toko.

Joni menambahkan seluruh tambang emas ilegal di Kabupaten Bogor telah ditutup.

“Hari ini kita nyatakan seluruh tambang di wilayah Bogor sudah ditutup. Wilayahnya di Cigudeg, Sukajaya dan Nanggung, ini yang diindikasi yang ada penambangan tanpa izin,” kata Joni.

Atas perbuatannya kedua pelaku dijerat  pasal 158 dan 161 UU no 4 tahun 2009 tentang pertambangan mineral dan batu bara dengan ancaman 10 tahun penjara dan denda Rp10 miliar.

“Tentunya dari proses hasil pengungkapan ini kita akan kembangkan baik ke pelaku yang terlibat dalam pengolahan tersebut termasuk mungkin ada lagi pemodal yang mungkin lebih besar,” kata Joni.

Sementara itu, Kanit Tipiter Polres Bogor, Iptu Azi Lesmana menjelaskan, pengungkapan penambang liar berdasarkan laporan masyarakat adanya aktivitas PETI. Para pelaku melakukan penambangan emas tanpa ijin dan atau tanpa memiliki dokumen resmi.

“Aktivitas para penambang berada di tiga lokasi Gunung Puntang, lubang Cingalang dan lubang Cisapon Desa Banyuresmi, Cigudeg, Bogor,” terang Azi.

Selain mengamankan dua pelaku, sejumlah barang bukti berupa 80 karung bahan emas, 70 buah gelundung alat pengolah emas, 5 buah mesin penggerak alat pengolah emas, 5 buah poli, 2 buah tabung gas ukuran 50Kg, 2 buah tabung gas ukuran 3Kg, 2 buah alat pengolah emas gembosan, 1 buah alat timbangan, 1/2 karung kowi dan uang tunai senilai Rp.1.600.000, ikut diamankan polisi.

Azi menyebut, terkait adanya dugaan tindak pidana penambangan emas liar, sebagaimana dimaksud dalam pasal 158 Jo, Pasal 37 dan atau Pasal 161 UU Republik Indonesia No 4 tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara diancam 10 tahun dan denda maksimal Rp10 miliar. (mul/b/mam)

Loading...