Dewan ‘Pelototi’ Proyek PUPR

by -

METROPOLITAN – Jembatan Otista yang menjadi sumber kemacetan di tengah-tengah Kota Bogor, akan segera diperlebar. Rencana tersebut diungkapkan oleh Wakil Walikota Bogor, Dedie A Rachim.

Pada bulan ini, Pemerintah Kota Bogor, melalui pihak Kelurahan Babakan Pasar dan Kelurahan Baranangsiang sedang melakukan pendekatan dan sosialisasi kepada warga yang terdampak pembangunan.

Dari total anggaran Rp40 miliar yang berasal dari Bantuan Provinsi (Banprov), sekitar Rp20 miliar akan digunakan untuk pembebasan lahan.

“Mudah-mudahan akhir Januari sudah selesai penetapan harga, antara warga dan pihak Kelurahan. Sosialisasi juga terus kita lakukan agar tidak ada miskomunikasi nantinya,” kata Dedie kepada Metropolitan saat ditemui di ruangannya, kemarin (16/1).

Pembangunan jembatan Otista sambung Dedie, merupakan proyek strategis yang sudah disiapkan sejak tahun lalu. Sehingga perencanaan dan pekerjaannya harus matang.

Ia pun menitipkan proyek tersebut kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Dinas PUPR).

Secara teknis, akan ada 8 bidang tanah yang harus dibebaskan. Kepala Dinas PUPR Kota Bogor, Chusnul Rozaqi menerangkan, 5 bidang tanah ada di Kelurahan Baranangsiang dan 3 bidang tanah ada di Kelurahan Babakan Pasar.

“Kita sudah selesai appraisal, sekarang tinggal sosialisasi dan kesepakatan harga dengan warga,” kata Chusnul.

Masih kata Chusnul, setelah selesai semua urusan dengan pembebasan lahan, maka pihaknya akan segera melelangkan proyek pada April nanti.

Perihal rekayasa lalin, ia menjelaskan ada kemungkinan sepanjang jalur SSA, akan kembali diberlakukan sistem dua arah, untuk mengurai kemacetan.

“Pekerjaan sekitar 8 bulan, nanti di sisi kanan kirinya akan ada penambahan. Untuk rekayasa lalin, akan kita tutup sebagian jalan,” jelasnya.

Selain pengerjaan jembatan Otista, Dinas PUPR juga memiliki target pembangunan untuk kawasan Suryakencana. Sebanyak 7 koridor yang ada di Suryakencana, akan direnovasi dan dipercantik untuk ornamen pecinan di tembok-tembok koridor dan langit-langit koridor.

“Penataan suryakencana Rp30 miliar, terbagi 7 koridor untuk ornamen pecinan, di dinding dan langit-langit. Pedati, lawang seketeng, rangga gading, jalan roda, jalan klenteng dan lainnya,” jelas Chusnul.

Proyek-proyek strategis yang berlokasi di tengah Kota Bogor ini mendapatkan sorotan dari anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bogor.

Wakil Ketua DPRD Kota Bogor, Dadang Danubrata mengatakan kalau proyek tersebut harus dipercepat lelangnya, sesuai dengan instruksi presiden Joko Widodo.

“Seharusnya, lelang sudah bisa dilakukan sejak Februari, agar kalau terjadi gagal lelang, waktu yang tersisa masih memadai. Waktu pengerjaan pun jadi lebih banyak, sehingga kalau ada kesalahan dalam pengerjaan masih bisa diperbaiki,” kata Dadang.

Pemenang lelang untuk proyek strategis seperti ini, sambung Dadang, harus diperhatikan betul track recordnya. Agar kualitas pengerjaan bisa terkontrol dan terjamin.

Soal pembebasan lahan dan sosialisasi, politisi PDI-Perjuangan ini berharap bisa dilakukan dengan maksimal agar tidak ada miskomunikasi yang akan menghambat proses pengerjaan dikemudian hari.

“Ini yang paling krusial, untuk pembebasan di Otista dan sosialisasi kepada para pedagang Surken harus sudah selesai sebelum pengerjaan. Agar tidak terjadi hambatan dalam pengerjaan,” tandasnya. (dil/c/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *