‘Diobral’ Rp150 Ribu, ABG Jadi Budak Seks

by -

METROPOLITAN – Lagi-lagi kasus prostisusi harus melibatkan anak-anak dibawah umur. Meraka dipaksa harus melayani nafsu bejad para pria hidung belang yang berkedok kafe remang-remang. Diobral Rp150 ribu anak-anak tersebut diwajibkan melayani 10 tamu dalam sehari.

Kabag Bin Opsnal Dit Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Pujiyarto mengatakan, para pelaku memperlakukan korban secara brutal. Mereka dipaksa melayani minimal 10 laki-laki hidung belang dalam sehari.

“Apabila tidak mencapai itu, para korban didenda,” kata Pujiyarto di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (21/1).

Denda yang diberikan kepada korban sebesar Rp 50 ribu. Denda tersebut langsung dipotong dari honor Rp 60 ribu yang diberikan pemilik kafe setiap 2 bulan sekali. Pujiyarto menambahkan, para korban bahkan tetap dipaksa melayani pelanggan meskipun dalam keadaan menstruasi.

“Menstruasi pun harus bisa dibuat tidak mens bagaimanapun caranya,” jelasnya.

Sindikat ini beraksi di sebuah kafe di Rawa Bebek, Penjaringan, Jakarta Utara. Para pelaku ditangkap polisi pada 13 Januari 2020.

“Pada hari Senin lalu, 13 Januari, di Penjaringan Jakut di kafe di Rawa Bebek sana telah berhasil mengamankan dan menangkap 6 orang pelaku yang sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus.

Keenam tersangka itu terdiri dari R, A, D, TW, A, dan E memiliki peran masing-masing. Perannya, ada yang mencari anak-anak di bawah umur untuk diperkerjakan melayani nafsu laki-laki hidung belang di kafe tersebut.

“Peran masing-masing mereka semua yang mengeksploitasi anak-anak di bawah umur. Ini bukan hal kecil bagaimana para pelaku menjual anak-anak di bawah umur untuk kebutuhan para hidung belang,” jelas Yusri.

Tersangka R berperan sebagai ‘mami’ dan yang memiliki kafe itu. R berperan memaksa anak di bawah umur melayani para tamu dengan bayaran Rp 150 ribu sekali melayani 1 tamu.

“Bayaran ya Rp 150 untuk sekali main. Pembagiannya Rp 60 ribu untuk anak ini nanti dibayar akhir bulan, sisanya untuk ‘maminya’,” kata Yusri.

Untuk tersangka A juga berperan sebagai ‘mami’ di kafe ini. Sedangkan tersangka D dan TW bertugas mencari anak-anak di bawah umur untuk dijual ke mami.

“Tersangka inisial D alias F, ini 2 orang sama satu lagi inisial TW, dia yang mencari anak-anak di bawah umur dan dijual ke ‘maminya’. Dia jual seharga Rp 750 ribu sampai Rp 1,5 juta,” kata Yusri.

Dua tersangka lain berinisial A dan E turut membantu mami menawarkan layanan seks dari anak-anak itu. Anak-anak itu ditempatkan di sebuah tempat penampungan di kafe itu dan tidak diperbolehkan untuk keluar dari tempat itu.

“Ada penampungan khusus buat mereka dengan syarat HP disita. Nggak ada hubungan khusus dia di luar,” kata Yusri.

Sejauh ini, tercatat sebanyak 10 anak-anak dengan rentang usia 14-18 tahun menjadi korban penjualan orang. Kondisi korban semakin diperparah karena diasingkan dari dunia luar. Mereka tidak diberi kesempatan untuk berkomunikasi maupun berinteraksi dengan orang-orang di luar kafe.

“Ada penampungan khusus. Ponsel disita,” papar Yusri Yunus.

Yusri menyebut, muncikari hanya membolehkan korban keluar area penampungan apabila korban membayar uang sebesar jumlah mereka dibeli, yakni sekitar Rp 1,5 juta. Kafe remang-remang ini diketahui sudah beroperasi selama 2 tahun.

Dalam 1 bulan, lapak ini berhasil meraup keuntungan sampai Rp 2 miliar. Para anak di bawah umur yang dieksploitasi berasal dari wilayah Jakarta dan luar daerah.

Kondisi semakin miris karena muncikari para korban tidak memperhatikan kesehatan anak-anak yang dieksploitasinya. Hal ini tentunya berpotensi membuat para anak-anak tersebut terkena penyakit kelamin menular.

Hal itu pun dibenarkan oleh, Kepala Balai Kementerian Sosial Neneng Heriyani. Dia menemukan ada korban yang mengalami luka di bagian alat vital.

“Ada indikasi beberapa anak terkena infeksi di bagian alat kelaminnya. Kami segera lakukan pemeriksaan kesehatan,” ungkap Neneng. (dtk/mam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *