Ekstasi Baru ‘Pil Ijo’ Dijual Bebas di Bogor

by -22 views

METROPOLITAN – Lagi-lagi narkoba jenis baru masuk ke wilayah Bogor. Satuan Narkoba Polres Bogor berhasil mengungkap, kasus jaringan narkoba jenis baru bernama Green No Name. Konon, barang haram ini merupakan jenis baru, yang beredar pada awal tahun ini di Bumi Tegar Beriman.

Terlebih memang Bogor menjadi salah satu target pasar peredaran narkoba di Jawa Barat. Tak heran, hanya dalam kurun waktu 20 hari di 2020 ini, narkoba jenis baru tersebut mulai beredar.

Kepala Satuan Narkoba Polres Bogor AKP Andri Alam mengatakan, Green No Name didapatkan pihaknya dari hasil pengembangan yang dilakukan.

“Kita melakukan penelusuran ini kurang lebih selama dua bulan pengembangan,” kata Andri saat ditemui Metropolitan, tadi siang.

Barang haram tersebut, diperoleh Andri dari tangan HN, yang berperan sebagai pembuat sekaligus pengedar barang haram tersebut, di kawasan Jakarta Pusat. Kabarnya, HN merupakan salah satu orang kepercayaan dan tangan kanan gembong narkoba tanah air, yang dieksekusi mati, yakni Freddy Budiman.

Secara visual, Green No Name memiliki penampilan berwarna hijau, dengan tulisan Y di tengah. Konon efek yang dihasilkan dari ekstasi ini, diatas rata-rata dari jenis ekstasi pada umumnya. Bahkan, kualitas yang dimilikinya setara dengan ekstasi asal Belanda.

Berdasarkan pengakuan pelaku, dalam satu hari HN bisa memproduksi Green No Name 240 butir dalam satu hari. Biasanya barang haram tersebut dijualnya dengan harga terjangkau. Mulai dari Rp 350 ribu hingga Rp 550 ribu perbutir.

“Kualitasnya setara dengan ekstasi asal Belanda. Tapi anehnya kok bisa dijual murah, padahal kualitasnya diatas rata-rata ekstasi biasa. Dan penyebaran barang ini di sekitar Jabodetabek termasuk Kabupaten Bogor,” bebernya.

Dari keterangan pengguna, satu pil Green No Name mampu membuat halusinasi yang luar biasa. Bahkan, efeknya bisa hingga 10 sampai 11 jam, terhitung sejak kita mengkonsumsi barang haram tersebut.

Menurut hasil pengembangan, murahnya harga jual Green No Name tersebut, lantaran bahan yang digunakan berasal dari sisa bahan milik Freddy Budiman, yang sengaja disulap pelaku menjadi ekstasi berkualitas.

“Bahannya sisa milik Freddy, dari pada dibuang  sayang, makannya diolah biar jadi uang. Wajar aja kalau kualitasnya bagus, orang bahan-bahannya punya Freeddy,” cetus Andri.

Pelaku diringkus Andri, di sebuah rumah di bilangan Jakarta Pusat. Rumah tersebut sudah dijadikan home industri ekstasi oleh HN, sejak satu tahun silam. Andri juga masih mengembangkan kasus ini, untuk diselediki lebih lanjut mengenai jaringan mendiang bandar narkoba tanah air ini.

Dari tangan HN, pihaknya berhasil mengamankan 1.320 butir pil ekstasi jenis Green No Name, yang dikemas dalam delapan bungkus plastik, dengan masing-masing berisikan 165 butir.

Andri juga mengamankan tiga bungkus plastik bening, berisikan Powder Extacy siap cetak warna hijau, dengan berat kotor mencapai 1,5 kilogram, 390 butir obat bodrek warna putih didalam plastik bening, 265 butir obat ousing warna oranye dalam pelastik bening serta lima paket sabu dalam plastik bening dengan berat 53 gram.

Petugas juga menemukan 390 butir obat bodrek warna putih didalam plastik bening, 265 butir obat ousing warna oranye dalam pelastik bening, serta lima paket sabu dalam plastik bening dengan berat 53 gram.

Andri menegaskan, sabu 1,5 Kg ini dibuat pelaku dengan cara tradisional didalam rumah. Bahan berupa obat pusing digunakan tersangka dalam membuat ekstasi secara manual melalui sebuah mesin yang ia beli.

“Masih dikembangkan. Kami masih butuh keterangan pelaku sudah berapa lama beroperasi. Ini masih olah TKP. Kami masih kembangkan dengan siapa pelaku bekerjasama dan kemana saja peredarannya setelah produksi barang terlarang ini jadi,” tandasnya.

Sekedar diketahui, piha kepolisian juga sejumlah barang bukti lainnya. Seperti dua buah buku rekap penjualan, lima alat pres berbagai ukuran, sepasang sarung tangan hitam, saringan plastik, satu set alat mesin cetak pembuat ekstasi secara manual, 11 alat cetak berbagai ukuran (S, M, L, XL), enam kunci L berbagai ukuran, dua palu karet, buah palu besi, satu tang, sekaleng kotak pengoplos bahan mentah Inek, dua kertas alumunium foil, sebuah hair dryer, satu pack tes paper, satu HP, satu timbangan digital, dua ember pestri, dua pak plastik bening berbagai ukuran dan 1.000 zat pengawet (selica gell). (ogi/c/mam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *