Fix! Trem Bakal Mengaspal di Kota Bogor

by -40 views

METROPOLITAN – Wacana Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor menggunakan transportasi Trem di wilayah Kota Hujan nampaknya bakal jadi kenyataan. Dari hasil kajian yang dilakukan, Kota Bogor dinyatakan layak menggunakan moda transportasi massa berbasis rel tersebut.

Hal itu diungkapkan Wakil Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim setelah menerima hasil kajian sementara dari konsultan Colas Rail, Iroda dan Egis terkait studi kelayakan operasional Trem yang berlangsung di Balai Kota Bogor, kemarin.

“Berdasarkan hasil kajian awal yang dilakukan oleh konsultan, ternyata Trem layak mengaspal di Kota Bogor. Kelayakan berdasarkan kebutuhan masyarakat perkotaan, infrastruktur dan elevasi, ketinggian jalan serta luas jalan,” katanya.

“Yang menjadi PR berikutnya adalah usulan pihak mereka, kami harus menggunakan trem yang baru, bukan eks hibah atau masa pakai tinggal sedikit. Karena trem yang baru bisa mengakomodir para disabilitas dan kontur jalan Kota Bogor,” sambungnya.

Terkait skema bisnis, Dedie menerangkan kalau kehadiran trem di Kota Bogor bukan proyek strategis nasional, tetapi lebih kepada proyek penataan transportasi perkotaan. Untuk mengelola trem yang ada di Kota Bogor, terdapat dua pilihan, yaitu menggunakan konsorsium atau investasi.

Saat ditanyakan soal regulasi, mantan Komisioner KPK ini menuturkan jika Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) masih melakukan proses kajian regulasi. Meski secara teknis sudah memungkinkan, namun regulasi menjadi hal yang penting. Sebab, saat ini regulasi transportasi darat berbasis rel di Indonesia baru meliputi kereta api (konvensional) dan LRT.

“Ini yang harus jelas, tapi trem sudah pasti mengaspal di Kota Bogor,” yakin dia.

Soal lintasan yang akan dilewati trem, Dedi menuturkan, yang diusulkan penyelenggaraan Tramway trase atau koridor pertama ini sejauh atau sepanjang 7,1 dari Baranangsiang ke Otista, kemudian Jalan Juanda, Kapten Muslihat (Alun-alun Bogor), Pengadilan, Jalan Jalak Hatupat (Sempur), Jalan Pajajaran kembali ke Baranangsiang.

Namun, karena ada beberapa lintasan angkutan massal yang akan bersinggungan dengan trem yang ada di Kota Bogor, tentu itu harus dikurangi. Karenannya, ia sudah memerintahkan Dishub Kota Bogor untuk mengkaji dan mempersiapkan rekayasa lalin bagi kendaraan yang akan melintas di jalur SSA.

“Jadi ada 5 trayek yang khusus melewati jalan SSA dan di samping itu ada 8 yang bersinggungan. Nanti trayek-trayek tersebut harus digeser. Ini kan program secara bertahap, bukan besok jadi, tapi bisa dua sampai empat tahun lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala BPTJ, Bambang Prihartono, menjelaskan kalau rencana Pemkot Bogor sudah sesuai dengan Rencana Induk Transportasi Jabodetabek (RITJ) yang tertuang didalam Peraturan Presiden (Perpres) nomor 55 tahun 2018.

Proyek yang merupakan bentuk kerjasama, maka pemerintah pusat dan pemerintah Kota Bogor akan memiliki porsi kerjanya masing-masing. Begitupun dengan BPTJ selaku perwakilan dari Kementerian Perhubungan.

“Kami akan mengintegrasikan, karena trem tidak bisa berdiri sendiri. Trem ini akan kami jadikan sebagai feeder, oleh karena itu harus terintegrasi dengan LRT Baranangsiang, baik untuk TOD ataupun stasiun LRT, itu tugas kami,” kata Bambang.

“Pembangunan boleh siapa saja. Trem kan dari Kota Bogor, LRT pusat dan BPTJ akan membangun TOD, jadi memang lintas lembaga. Bahkan ada prakarsa juga lanjut ke puncak LRT nya,” sambungnya.

Sementara itu, Kepala Dishub Kota Bogor, Eko Prabowo, mengatakan judul kajian Dishub Kota Bogor tahun ini adalah pengembangan transportasi massa berbasis rel di Kota Bogor dengan nilai Rp489 juta.

“Nah untuk MRT sudah fix masuk ke Kota Bogor, tinggal menentukan pemberhentian terakhir disisi kiri atau kanan. Kajian kami untuk trem menunggu reduksi hasil kajian dari Colas Rail bulan Juni nanti,” pungkasnya.(dil/c/rez)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *