Gawat! Aplikasi Hotel Murah Bisa Order PSK

by -0 views

METROPOLITAN – Bisnis prostitusi atau ‘lendir’ memang tiada habisnya. Usai terkuaknya modus prostitusi online. Kini bisnis lendir merambah kepenginapan berbasis online yang sejatinya dapat memudahkan setiap orang untuk mendapatkan tempat beristirahat dengan harga yang terjangkau.

Namun pada kenyataannya tidak hanya pilihan kamar yang diperlihatkan, pemilik penginapan rupanya menawarkan gadis-gadis muda untuk menjadi teman tidur.

Untuk mencari penginapan berbasis online ini rupanya tidak begitu sulit, hanya dengan mengunduhnya di gawai berbasis android maka bisa dilihat sejumlah kamar yang disewakan dengan tarif mulai dari Rp150 ribu hingga Rp300 ribu permalam.

Untuk di Bogor sendiri penginapan online ini cukup berkembang. Metropolitan mencoba menyusuri penginapan yang menyediakan di sekitar sirkuit sentul yang terdaftar didalam aplikasi penginapan online.

Saat membuka aplikasi penginapan online, memang lokasinya hanya berjarak 500 meter dari sirkuit sentul itu menjadi satu-satunya penginapan yang ada di kawasan Sentul. Harga kamar yang tertera didalam aplikasi online itu Rp297 ribu, untuk sebuah kamar dengan fasilitas kasur dengan ukuran queen size.

Metropolitan mendatangi lokasi tersebut usai memesan kamar melalui aplikasi. Akses menuju lokasi penginapan, terbilang mudah, karena jika anda keluar dari pintu toll sentul yang mengarah ke Bogor, anda tinggal belok ke kiri menuju persimpangan pintu masuk sirkuit Sentul dan belok kanan, lalu maju sekitar 500 meter dari pertigaan pintu masuk sirkuit sentul.

Di sebelah kanan jalan Raya Sirkuit Sentul, anda akan melihat sebuah tembok yang terdapat tanda aplikasi penginapan online yang sedang viral. Saat masuk kedalam lokasi penginapan. Untuk melakukan konfirmasi pembayaran,  ternyata harus menemui pegawai penginapan di sebuah gedung yang berada tepat didepan pintu masuk.

Di bangunan yang memiliki model sama dengan bangunan-bangunan lainnya yang memiliki jarak 3 meter di setiap bangunannya ini, terdapat sebuah papan tulisan digital yang bertuliskan ‘Office’. “Boleh liat KTP-nya,” ujar penjaga resepsionis dipenginapa online tersebut.

Proses administrasi yang dilakukan oleh tempat penginapan online ini ternyata tidak terlalu beda dengan tempat penginapan konvesional lainnya, dimana pengunjung harus menunjukkan dan meninggalkan identitas diri seperti KTP atau SIM nya saat check in dan dapat mengambil kembali saat akan check out.

“Nanti check out nya jam 10 pagi ya,” sambung dia.

Ternyata yang berbeda dari tempat penginapan online ini, para pengunjung dianjurkan membawa kendaraan pribadinya sampai ke depan kamar. Karena tidak ada fasilitas parking valet.

Setelah selesai dengan urusan administrasi, ada salah seorang pria yang mengatarakan ke kamar yang dipesan. Ia membawa sebuah handuk, dua botol air mineral dan satu kantong berwarna merah yang identik dengan nama aplikasi penginapan online ini.

Kamar B-18 yang dipilh berada di bagian belakang tempat penginapan ini ternyata memang sebuah rumah yang dibagi menjadi empat bagian. Lebih tepatnya, model penginapan yang disuguhkan oleh tempat penginapan ini ternyata hampir mirip dengan tempat penginapan ‘mawar’.

Kamar yang memiliki luas kurang lebih 4×3 meter dengan satu meja rias yang cukup panjang dengan kursinya, dan sebuah kasur berukuran queen size serta tv. Usai mengantar, pria tersebut menawarkan jasa wanita penghibur untuk menemati tidur.

“Kalau mau saya panggilin pak,” kata dia.

Hanya berselang lima menit semenjak pria tersebut, terdengar sebuah ketukan pintu. Rupanya  pria tadi membawa lima orang wanita, dibelakangnya. Para wanita yang berkisar 20 sampai 25 tahun ini masuk ke kamar. Sang pria itu pun ikut masuk sambil memerhatikan dan memperkenalkan satu per satu wanita tersebut seperti kontes pemilihan puteri Indonesia.

Tanpa berfikir panjang, wanita yang memakai sweater berwarna merah maroon dengan celana legging yang berdiri di tengah-tengah dipilih. Perempuan tersebut memiliki warna kulit yang eksotis dengan bibir mungil berwarna merah yang sangat terlihat cocok dengan kedua bola mata sayunya.

Setelah selesai dengan kontes pemilihan permaisuri yang akan menemani saya sepanjang malam ini, keempat wanita tersebut pun meninggalkan kamar saya menuju ke kamar lainnya yang berada di ujung jalan.

“Untuk semalam Rp500 ribu. Bisa dibayarkan langsung nanti ke perempuannya,” ujar pria tersebut.

Wanita yang tadi dipilih tengah berdandan diatas ranjang dengan seprei berwarna putih-merah.  Ya, Ica namanya yang masih berusia 23 tahun. Berdasarkan penuturannya, ia merupakan warga Citeureup, yang tidak sempat lulus SMA dan beralih menjadi PSK.

Selama kurang lebih 2 tahun penginapan ini muncul ke permukaan, Ica sudah menjadi kupu-kupu malam yang menemani para lelaki hidung belang yang datang. Mulai dari anak SMA sampai seorang pekerja sudah pernah ia tiduri.

Yang menarik, Ica tidak bekerja sesuai dengan kehendaknya. Ada seorang pria yang ia sebut sebagai ‘Aa’ atau yang biasa dikenal sebagai mucikarinya. Jika beruntung, dalam semalam, Ica bisa menemani hingga 4 pria. Selain itu, keberadaan penginapan ini, juga menurut Ica mempermudah kerjanya, karena ia hanya tinggal pindah kamar saja.

“Dari Rp500 ribu yang Ica dapetin, Ica harus nyetor ke Aa Rp150 ribu, sisanya buat Ica,” ujarnya sambil terduduk diatas kasur dan menyenderkan punggungnya ke bantal berwarna putih-merah.

Soal keamanan dalam berhubungan, ternyata Ica sadar betul akan hal tersebut. Sebab, selain membawa peralatan make-up, ia selalu membawa kondom saat harus bekerja. Walaupun tidak selalu digunakan.

“Tergantung yang minta sih, biasanya gak pake, karena gak enak,” ucapnya sambil menggigit bibir bawahnya yang kecil itu, seraya tersenyum kearah saya.

Penginapan online ini juga rupanya banyak tersebar di Kota Bogor. Tak jauh dari istana Bogor ada sejumlah penginapan berbasis online diantaranya, di Jalan Otista, Jalan Sudirman, Jalan Jalak Harupat, serta dibelakang Balaikota Bogor.

Tak jauh dari Istana Bogor dilihat melalui aplikasi ada sejumlah penginapan, Metropolitan pun mencoba menyusurinya kembali. Benar saja penginapan yang tak jauh dari istana ini menyediakan wanita penghibur. Pola yang dilakukan oleh pengelola penginapan pun sama, usai mengatarkan tamu ke dalam kama, pengelola tersebut menawarkan jasa wanita penghibur.

Salah seorang pengelola penginapa online Wahyu mengaku bahwa dirinya merasa terbantu dengan kehadiran aplikasi tersebut. Karena rumah yang dimilikinya dapat menghasilkan pundi-pundi rupiah dengan kurun waktu yang sangat singkat.

“Lumayan sih pemasukannya, 3 atau 4 tamu ada saja yang masuk untuk menginap,” kata dia.

Agar penginapannya lebih laris lagi, Wahyu sengaja menyediakan wanita-wanita penghibur, agar tamu yang datang ke tempatnya bisa balik lagi kepenginapannya. Walaupun ia mengetahui segala resiko yang harus ditangung olehnya.

“Tidak semua saya tawari, hanya orang-orang yang keliatannya mau saja,” ungkapnya.

Sementara itu, menjamurnya aplikasi penginapan berbasis online ternyata belum diantisipasi oleh pihak yang berwajib. Padahal diketahui banyak penginapan online tersebut yang menyediakan PSK, begitu juga dengan jumlah kamar yang diatas 10 namun penginapan tersebut belum memiliki izin. Bahkan Sapol PP Kota Bogor sendiri belum mengetahui keberadaan penginapan yang berbasis online.

Kepala Bidang Ketertiban Umum Satuan Polisi Pamong Praja (SatPol-PP) Kota Bogor, Dudi Fitri Susandi mengaku kalau pihaknya belum melakukan pemetaan. Bahkan, ia belum pernah menyentuh satupun lokasi penginapan yang kini sudah menjamur di Kota Bogor.

“Kami belum mengetahui adanya penginapan online ini. Namun kedepan kita akan data penginapan-penginapan tersebut,” ujarnya saat dihubungi oleh Metropolitan.

Ia juga tidak mengetahui adanya prostitusi berkedok penginapan online ini. Ia mengatakan kalau memang terjadi temuan akan hal tersebut. Ia akan melakukan tindakan sesuai prosedur yang sudah ditetapkan.

“Pastinya akan kami tertibkan. Bahkan kalau memang sudah ditemui adanya pelanggaran, bisa kami tutup,” tegasnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kabid Ketertiban Umum SatPol PP Kabupaten Bogor, Ruslan. Ia mengaku sudah menaruh kecurigaan terhadap beberapa lokasi yang dulunya sempat dirazia oleh pihaknya.

“Memang ada beberapa lokasi penginapan yang sekarang menjadi berbasis online. Tapi karena terbentur aturan yang belum jelas jadi kami belum bisa mengeksekusi,” imbuhnya.

Pada 2020 ini, ia sudah menugaskan anggotanya untuk segera mendata semua penginapan online yang ada di Bumi Tegar Beriman. Walaupun masalah prostitusi tidak bisa dihilangkan, setidaknya ia berharap dengan pendataan yang jelas, keberadaannya bisa ditekan.

“Ini kan bukan tugas kami saja, tapi juga tugas masyarakat. Percuma kalau kami tertibkan tapi masyarakat masih mencari. Ini ada karena adanya permintaan, jadi saya harap masyarakat juga bisa sadar betapa berbahayanya prostitusi ini,” pungkasnya. (dil/d/mam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *