Ini 15 Tempat di Cidudeg untuk Relokasi Warga Korban Bencana Bogor

by -

METROPOLITAN.id – Pemerintah menyiapkan 15 tempat di Kecamatan Cigudeg yang menjadi opsi relokasi warga korban bencana Kabupaten Bogor.

15 lokasi tersebut juga rencana bakal digunakan untuk warga korban bencana di Kecamatan sukajaya, termasuk Desa Pasirmadang.

15 titik itu tersebar di tiga wilayah. Lima lokasi di Tanah PTPN VIII Cikasungka seluas 20,48 hektare, delapan lokasi di tanah perusahaan bukan milik PTPN VIII seluas 59,5 hektare, serta dua lokasi di tanah milik warga dengan luas 1,72 hektare.

Total kebutuhan lahan relokasi mencapai 81,7 hektare.

Hal itu diungkapkan saat Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil meninjau langsung lokasi bencana di Kecamatan Sukajaya.

Didampingi Bupati Bogor Ade Yasin, ia turun melihat pengungsian bencana longsor di Desa Pasirmadang, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, Selasa (28/1).

Kepada warga korban bencana, lelaki yang akrab disapa Kang Emil ini menawarkan dua opsi yang bisa menjadi bahan pertimbangan bagi warga korban longsor.

Opsi pertama, warga tetap bisa tinggal di Desa Pasirmadang, dengan syarat ada hasil kajian dari ahli geologi yang menyatakan bahwa desa tersebut aman untuk dijadikan lokasi hunian.

Opsi kedua, merelokasi warga ke tempat aman yang jaraknya sekitar 15 kilometer dari Desa Pasirmadang.

Sebelum ke pengungsian warga, Kang Emil juga sudah lebih dulu meninjau wilayah Kecamatan Cigudeg yang digadang-gadang menjadi calon lokasi untuk tempat relokasi warga korban longsor.

“Jadi ada dua opsi, tetap di sini tapi harus dicek dulu oleh ahli. Opsi kedua, sebenarnya lebih kami sukai, karena memindahkan tidak terpencar-pencar, langsung semuanya di lokasi yang sama,” ujar Kang Emil dalam keterangan yang diterima Metropolitan.id, Selasa (28/1).

Menurutnya, warga memang berharap relokasi dilakukan masih di wilayah sekitar rumah mereka. Namun, keinginan tersebut tidak serta merta bisa dikabulkan karena perlu dicek terlebih dulu oleh ahli geologi apakah tempat tersebut masih layak ditinggali

“Kalau ternyata tidak ditemukan lahan yang datar, tidak memadai, ada juga lahan miring, rawan apa tidak, nanti pendapat dari ahli geologi itu akan dijadikan sebuah informasi,” terangnya.

Kang Emil berharap, warga bisa segera memutuskan dua opsi yang ditawarkan. Sehingga awal Februari nanti bisa dilakukan pembangunan tempat relokasi.

Pemerintah juga berjanji akan menjamin warga yang direlokasi baik dari sisi hunian maupun mata pencaharian.

Untuk warga yang daerahnya masih memungkinkan untuk dijadikan hunian, pemerintah akan memberikan bantuan berdasarkan tingkat kerusakan rumahnya, baik itu rusak ringan, sedang, maupun berat.

“Yang lokasinya betul-betul tidak memungkinkan atau rumahnya di daerah rawan longsor, maka kita ada opsi relokasi. Kita sudah ada tempat 15 kilometer dari sini, ada tanah luas milik PTPN yang akan kita kondisikan sebagai perkampungan baru, jadi bedol desa,” ungkap Emil.

Terkait mata pencaharian warga, Kang Emil mengaku lahan hijau milik PTPN yang akan digunakan relokasi bisa disediakan tempat bercocok tanam.

“Kalau pekerjaan, karena lahannya juga lahan hijau, jadi selain rumah nanti kita bisa sediakan tempat bercocok tanam atau bekerja sama dengan PTPN mengelola tanah pertanian,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Desa Pasirmadang Encep Sunarya mengaku pihaknya bersama warga belum memiliki keputusan terksit dua opsi yang ditawarkan.

Encep menjelaskan, warga berharap masih bisa tetap tinggal di lokasi yang tidak jauh dari tempat tinggal semula atau masih berada di wilayah Desa Pasirmadang.

“Kami menjawab permintaan masyarakat harus berdasar, kita tunggu hasil dari ahli geologi seberapa rentan tingkat bencana yang ada di sini,” ujar Encep.

Sejauh ini, Encep mengatakan warga Desa Pasirmadang belum siap untuk direlokasi keluar wilayah. Salah satu alasannya karena lokasi relokasi yang jauh atau faktor sejarah dan budaya.

“Tapi nanti kami sosialisasikan ke masyarakat kalau seandainya Desa Pasirmadang ini masuk zona merah,” tandasnya. (*/fin)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *