Kebon Sawit Siap Disulap jadi Huntap

by -
TINJAU: Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil didampingi Bupati Bogor Ade Yasin saat meninjau lokasi yang akan digunakan relokasi bencana alam.

METROPOLITAN – Tepat 28 hari terdampak bencana longsor dan banjir di wilayah Barat, Kabupaten Bogor, mengungsi di tenda-tenda pengungsian maupun dirumah sanak saudaranya.

Dua hari menjelang dicabutnya tangap bencana di Kecamatan Sukajaya dan Cigudeg, Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil bersama Bupati Bogor, Ade Yasin meninjau beberapa titik calon tempat relokasi di Kecamatan Sukajaya dan Cigudeg.

Dengan menumpangi helikopter, berwarna merah putih, rombongan pun meninjau lahan kosong di dekat Kantor Desa Pasir Madang.

Pasalnya, lahan yang ditanami pepohonan itu juga merupakan salah satu opsi tempat relokasi yang ada di Kecamatan Sukajaya.

“Tadi kami sempat berdialog dengan para pengungsi yang diwakili para tokoh masyarakat setempat. Melihat kondisi wilayah yang merupakan perbukitan dan tekstur tanah yang mudah bergerak, saya menawarkan untuk direlokasi ke wilayah Cigudeg di lahan PTPN yang kini ditanami kelapa sawit,” ujar Kang Emil, sapaan karibnya.

Namun, semua itu tergantung dari penilaian tim geologi dari pemerintah pusat, apakah wilayah ini masih layak atau tidak untuk dihuni.

Pemerintah Kabupaten Bogor pun melalui Bupati Bogor Ade Yasin menyebutkan,  bahwa ada 15 titik opsi lahan untuk relokasi yang tersebar di tiga kecamatan, yaitu Cigudeg, Sukajaya, dan Nanggung.

Sedangkan status kepemilikannya terbagi menjadi tiga kategori yaitu tanah PTPN VIII Cikasungka, tanah perusahaan bukan milik PTPN VIII, dan tanah milik masyarakat.

Ia memperkirakan, total kebutuhan lahan sesuai dengan jumlah warga yang akan direlokasi yaitu seluas 81,7 hektar, dengan rincian 20,48 hektar tanah PTPN VIII Cikasungka, 59,5 hektar tanah perusahaan bukan milik PTPN VIII, dan 1,72 hektar tanah milik masyarakat

Sementara itu, Kepala Desa Pasirmadang, Encep Sunarya, mengatakan, hingga kini ada 10 posko penanganan bencana. Terdapat 540 kepala keluarga yang terdampak longsor.

Menanggapi opsi yang ditawarkan Pemprov Jabar, Encep berharap agar warga dapat tinggal di lokasi yang tak jauh dari perkampungan asalnya.

Encep pun menyatakan, hingga kini warga Desa Pasir Madang belum siap untuk direlokasi keluar wilayahnya, antara lain karena lokasi relokasi yang jauh atau faktor sejarah dan budaya.

“Kami akan menunggu hasil dari ahli geologi seberapa rentan tingkat bencana yang ada di Desa Pasir Madang. Karena ini warga disini itu sudah turun temurun, dan sangat sulit meninggalkan tanah leluhur,” tegasnya.

Akan tetapi, pihaknya pun akan mensosialisasikan ke masyarakat jika seandainya Desa Pasirmadang ini masuk zona merah (rawan longsor). (yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *