Kota Bogor jadi Arena Gladiator

by -

METROPOLITAN – Dalam kurun waktu sepekan, sebanyak 6 orang pelajar berguguran di jalanan. Bukan berguguran sebagai seorang pahlawan, yang membela kemerdekaan di medan perang. Tetapi, para pelajar ini merupakan korban dari tawuran.

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh Metropolitan. Tawuran antar pelajar yang memakan korban ini pertama kali pecah pada Selasa (21/1). Tepatnya di depan Cico Resort, Kelurahan Cimahpar, Kecamatan Bogor Utara.

Hujan yang mengguyur Kota Bogor sejak sore ini tidak mampu meredam aksi dari kedua kelompok berseragam putih abu itu. Dengan bersenjatakan sajam berbagai bentuk, bentrokan pecah tepat setelah adzan maghrib.

Akibatnya, tiga orang pelajar menjadi korban. Dimana salah satu anak tersebut harus merelakan tangan kanannya.

Berdasarkan hasil indetifikasi Polresta Bogor Kota, adapun identitas korban yang mengalami luka akibat tawuran ini.

Pertama, WA pelajar SMK Karya Nugraha berusia 18 tahun. Dia mengalami luka bacok di bagian pinggang dan sebelah tangan kanannya terputus.

Kedua, MRH pelajar SMK Bina Warga berusia 16 tahun. Dia mengalami luka bacok di bagian pinggang sebelah kanan. Terakhir, ENH warga Kabupaten Bogor berusia 19 tahun.

Pasca tawuran yang memakan tiga korban sampai putus pergelangan tangan, saat ini masih menjadi sorotan dari berbagai pihak terutama Kantor Cabang Dinas (KCD) Pendidikan Kota Bogor yang mengelola sekolah tingkat SMA/SMK.

Kepala KCD Pendidikan Kota Bogor, Aang Taryana mengatakan, sebenarnya berbagai upaya sebelum terjadi tawuran antar pelajar sudah maksimal dilakukan dengan pembinaan terhadap para kepala sekolah (kepsek) SMA/SMK baik negeri maupun swasta dengan melibatkan Kodim, Korem dan Polresta.

“Dari dulu sudah dibuat Satgas Pelajar untuk mengantisipasi hal hal seperti ini. Kemarin kebetulan ada pertemuan dengan para kepala sekolah dan kembali dilakukan pembinaan,” ucapnya.

Dari pertemuan dengan para kepsek, KCD Pendidikan Kota Bogor akan menambah jumlah satgas dimasing masing sekolah serta melibatkan aparat kemanan.

“Hal ini untuk mengantisipasi agar tawuran antar pelajar tidak kembali terjadi, alalagi sampai memakan korban,” tegasnya.

Disinggung soal para pelajar yang terlibat tawuran disinyalir memasuki ranah kriminal, menurut Aang masing masing sekolah memiliki aturan.

Namun Aang menegaskan, jika para pelajar yang terlibat tawuran memasuki ranah kriminal silahkan diproses secara hukum dengan catatan pelajar tersebut tidak boleh putus sekolah.

“Bagaimanapun pelajar yang terlibat bahkan sampai masuk kriminalitas tetap harus bersekolah. Kita lihat saja nanti proses hukumnya seperti apa, tetapi kami berharap apapun keputusannya anak anak tersebut tidak sampai putus sekolah. Banyak cara untuk anak anak seperti ini biar tetap sekolah. Bahkan, kita sudah membuktikan di lapas juga tetap ada sekolah,” katanya.

Mengingat kenakalan remaja sekarang, menurut Aang ini tanggung jawab bersama terlebih orang tua.

Jadi orang tua harus pro aktif memantau anak anaknya terutama di jam jam rawan pulang sekolah.

“Kejadian kemarin kan diluar jam sekolah, makanya orang tua diimbau harus lebih pro aktif dalam memantau anak anaknya,” ungkapnya.

Kendati demikian, KCD Pendidikan Kota Bogor masih belum mengetahui pasti sekolah mana saja yang terlibat dalam tawuran, apakah murni dari wilayah Kota Bogor, Kabupaten Bogor atau dari daerah lain.

Belum surut soal pelajar yang tangannya buntun itu, tawuran antar pelajar kembali pecah di Kota Hujan.

Kali ini lokasi kejadian tepat berada di Jalan RE Martadinata, dekat Wisma Mirah dan penginapan Airy, Kecamatan Bogor Tengah.

Akibatnya, satu orang meninggal dunia bernama Damar (17) karena tusukan dipunggung dan rekannya Jay Ali (18) mengalami luka berat sayatan dilengan kiri.

“Kejadiannya sekitar pukul 01.00 WIB dini hari,” ucap Paur Humas Polresta Bogor Kota, Ipda Desty Irianti saat dikonfirmasi.

Informasi yang dihimpun, saat kejadian korban sedang melintas mengendarai sepeda motor berboncengan bersama rekannya.

Namun, hendak melintas ada sekitar 20 orang anak muda bergerombol dan tidak lama kemudian berlarian sambil berteriak kearah Jalan Manunggal.

Dari dua kejadian tersebut, nampaknya menyulut emosi Walikota Bogor, Bima Arya. Ia pun berencana memanggil seluruh kepala sekolah terkait para pelajar yang melakukan tindak kriminal tersebut.

“Saya akan undang semua kepala sekolah SMA segera. Karena kembali jatuh korban jiwa. Harus kita evaluasi lagi kordinasi dan sistem pencegahan kita,” kata Bima, kemarin (26/1).

Selain itu, Bima Arya menyatakan akan lebih mengintensifkan patroli kota untuk mencegah adanya tawuran susulan.

Selain itu, dia meminta pelajar tidak keluar malam dan bergerombol. Hal ini bertujuan untuk mengantisipasi dan mencegah agar tidak ada lagi tindak tawuran.

“Imbauan tidak keluar malam dan bergerombol untuk pelajar dan razia sajam,” ucapnya.

Sejauh ini, dijelaskan Bima, dirinya belum mengetahui persis penyebab tawuran yang terjadi di Jalan RE Martadinata hingga menyebabkan korban tewas.

“Masih kita dalami motifnya. Apakah insiden yang tidak terencana atau memang sudah direncanakan,” ujar Bima.

Hal ini juga menarik perhatian Anggota Komisi IV DPRD Kota Bogor, Gilang Gugum Gumilar. Menurutnya, keberadaan satgas pelajar harus ditingkatkan lagi.

Bagaimana tidak, satuan yang bertugas untuk memberikan pembinaan kepada para siswa di sekolah-sekolah yang ada di Kota Bogor ini seperti hidup segan mati tak mau.

Bahkan menurutnya, masih ada beberapa sekolah yang tidak mau mengadakan satgas pelajar di sekolahnya.

“Beberapa SMK bahkan ada yang beranggapan kalau diluar sekolah anak-anak sudah bukan tanggung jawab sekolah. Ini kan miris sekali,” ujarnya.

Ia juga berharap dengan langkah tegas yang diambil oleh Walikota Bogor, untuk mengumpulkan semua kepala sekolah se-Kota Bogor, bukan hanya menjadi ajang seremoni saja yang akan hilang seiring berputarnya waktu.

Tetapi harus ada langkah baru dalam penanganan kasus kekerasan dan tawuran yang masih membelenggu para pelajar di Kota Bogor.

Bahkan Komisi IV juga akan turut memanggil para jajaran kepala sekolah dan satgas pelajar serta Dinas Pendidikan Kota Bogor untuk dimintai pertanggungjawaban.

“Ini kan tinggal niat dan keseriusan saja dari semua pihak. Mau berapa nyawa lagi yang melayang sampai kita serius menanggapi hal ini,” pungkasnya. (dil/c/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *