Lumba-lumba Mati di Padang, Cuaca dan Plastik Diduga Penyebabnya

by -100 views

METROPOLITAN – Seekor lumba-lumba ditemukan terdampar dan mati di Pantai Muaro Lasak, Padang, Sabtu (11/1). Namun, sebelum sempat diotopsi, tubuh lumba-lumba itu sudah kembali dihanyutkan oleh ombak laut dan belum ditemukan lagi hingga Minggu (12/1).

Sejumlah warga sempat melihat kondisi hewan mamalia tersebut ketika terdampar Sabtu pagi. Di tubuhnya, didapati luka di bagian sirip dan luka bekas tertusuk di bagian perut. Di sekitar tempat temuan tubuh tersebut pun terlihat sampah-sampah berserakan.

Kepala Balai Pengelolaan Pesisir dan Laut (BPSPL) Padang, Mudatsir, menduga faktor cuaca yang tak menentu menjadi penyebab terdamparnya si lumba-lumba.

“Cuaca yang kadang-kadang panas, kadang-kadang dingin serta hujan membuat lumba-lumba itu berlindung ke pinggiran laut. Kondisi laut bagian pinggir di Padang cukup parah, karena di bagian tengahnya cukup bersih. Kami menduga, lumba-lumba ini mati karena berlindung di pinggir laut,” katanya seperti dilaporkan wartawan di Padang, Agus Embun, kepada BBC Indonesia.

Dugaan makan plastik

Ditambahkan Mudatsir, lumba-lumba yang ditemukan pada Sabtu kemarin memang belum sempat diotopsi karena tubuhnya sudah hanyut dibawa ombak. Namun, dari penelusuran tim BPSPL yang turun ke lokasi, ada dugaan lumba-lumba tersebut memakan sampah plastik.

“Kalau yang dimakan oleh lumba-lumba ini biasanya berasal dari sampah plastik di luar perairan Kota Padang,” jelasnya.

Lumba-lumba kebanyakan ditemukan di pantai barat Sumatera dan menjadi target konservasi BPSPL. Rata-rata, lumba-lumba yang ditemukan adalah jenis lumba-lumba pesisir seperti spinner dolphin , pesut (Orcaella brevirostris) dan lumba-lumba hidung botol Indo-Pasifik (Tursiops aduncus).

Ketiga jenis lumba-lumba ini lazim ditemukan di perairan Sumatera, mulai dari Aceh hingga Sumatera Selatan. Di Sumatera Barat, lumba-lumba tersebar di perairan Mentawai, Padang dan Pesisir Selatan.

Daftar panjang hewan laut terdampar

BPSPL Padang yang memiliki ruang lingkup kerja hingga tujuh provinsi se-Sumatera (Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Jambi dan Sumatera Selatan) sudah mencatat belasan kasus terdamparnya lumba-lumba. Tak semua ditemukan dalam kondisi mati.

Dari data yang berhasil dirangkum oleh tim BPSPL Padang, lumba-lumba terdampar pertama ditemukan Mei 2013 silam di Sungai Wampu, Desa Hinai Kiri, Langkat, Aceh.

Ada tiga ekor lumba-lumba jenis hidung botol yang ditemukan di sungai dalam kondisi hidup dan berhasil diarahkan kembali ke habitatnya.

Pada 3 Januari 2016, ada dua ekor lumba-lumba hidung botol yang diketahui terdampar di Desa Hagu Selatan, Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe.

Pada 27 Februari 2016, juga ada satu ekor lumba-lumba tutup botol di Desa Jambo Masjid, Kecamatan Blang Mangat, Lhokseumawe dan dilepaskan hidup.

Lalu, 1 Maret 2016, juga ditemukan seekor lumba-lumba tutup botol di pantai Desa Hagu Selatan, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

Pada 14 Juli 2016, seekor lumba-lumba tutup botol dengan kondisi mati di Pantai Walo Desa Afulu. Di 21 Desember 2016, juga ditemukan lagi seekor lumba-lumba di Pantai Tanaya`o, Nias Utara, yang berhasil dilepaskan.

Pada 26 Desember 2016 juga ditemukan seekor lumba-lumba hidung botol mati di kawasan Tanjung Teritip, Tanjunguma, Batam dan dikuburkan.

Pada 12 Februari 2017, lumba-lumba jenis Spinner ditemukan di Pidie, Aceh dan berhasil dilepas liar ke laut. Pada 14 Februari 2017, ditemukan lumba-lumba jenis Spinner di Pasir Jambak, Kota Padang dalam kondisi mati.

Lumba-lumba jenis Tursiops truncatus juga ditemukan di kawasan Mandeh, Pesisir Selatan pada 15 Mei 2017, lalu seekor Risso`s Dolphin pada 2 Agustus 2017 di Pantai Ganting, Simeulue, Kabupaten Kepulauan Mentawai dan 15 Juli 2018 ditemukan seekor Spinner di kawasan Ujung Sikandang, Singkil Utara, Kabupaten Aceh Singkil. Terakhir, 11 Januarui 2019 di Pantai Muaro Lasak, Padang dan belum ditemukan tubuhnya.

Faktor alam dan manusia bisa jadi sebab

Analis Pesisir dan Pulau-pulau Kecil BPSPL Kota Padang, Monica Ryan, mencatat beberapa faktor yang dapat mendorong lumba-lumba, atau jenis hewan laut lain seperti paus, meninggalkan habitat aslinya dan kemudian terdampar.

Ia menyebut kemungkinan sakit dan terluka karena mamalia laut itu sedang diburu oleh predator ataupun sedang berkelahi.

Penyebab lain adalah tertinggal dari gerombolan sehingga mereka dapat terjebak pada situasi berbahaya. Paus lebih sering terdampar dari pada lumba-lumba, karena paus memiliki kesetiaan terhadap jenisnya. Makanya, paus lebih sering terdampar secara masal.

Selain itu, terganggunya sistem navigasi juga dapat menyebabkan hewan laut terdampar. Paus dan lumba-lumba memiliki sistem navigasi yang digunakan untuk penunjuk arah.

Terganggunya sistem navigasi bisa karena adanya aktivitas kapal perang atau kapal pengukur kedalaman yang mengeluarkan sonar suara yang sangat tinggi perambatannya sehingga navigasi ikan ini pun terganggu.

Gejala alam seperti bencana juga akan mendorong hewan laut untuk mencari tempat aman untuk berlindung – dan kemudian terdampar.

Oksigen bawah laut yang rendah juga bisa jadi pemicu karena oksigen adalah sumber udara bersih untuk makhluk hidup.

Loading...