Masalah Armada jadi PR DLH

by -10 views

METROPOLITAN – Masalah sampah masih menjadi PR yang harus diselesaikan Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor. Terutama masalah armada pengangkutan sampah.

Awal 2020, Wali Kota Bogor, Bima Arya, memberikan instruksi kepada jajaran Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk menyelesaikan masalah tersebut.

“Kita akan evaluasi total sistem persampahan. Mulai dari armada, alokasi personel, strateginya dan bagaimana menyelesaikan persoalan lahan dan lainlain,” terang Bima Arya kepada Metropolitan, Senin (13/1).

Bima Arya juga menginginkan adanya pilot project bagi pengelolaan sampah secara modern di setiap TPS selain bank sampah. Titik-titik yang diharapkan bisa menjadi percontohan adalah pasar 12modern di pusat Kota Bogor, seperti Pasar Bogor di Jalan Suryakencana.

Menanggapi instruksi orang nomor satu di Kota Hujan ini, Kabid Persampahan DLH Kota Bogor, Dimas Tiko, mengatakan, berdasarkan hasil inventarisasi pada awal tahun, DLH Kota Bogor memiliki 33 unit arm roll, 94 unit dump truck, 3 unit sweeper, 1 unit mobil derek besar, 18 unit pick up, 24 unit mosam, 1 unit shovel besar yang diperbantukkan di TPA Galuga dan 2 unit shovel kecil.

Dalam inventarisasi yang ia lakukan, ternyata masih menemukan adanya kendaraan yang berusia lebih dari 10 tahun. Umur kendaraan yang sudah tidak layak pakai itu akan menjadi penghambat dalam pengangkutan dan kinerja DLH.

“Hal seperti ini masih akan kita petakan lagi, berapa kendaraan layak pakai dan berapa yang harus dilakukan peremajaan,” katanya.

Mantan anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Bogor ini menambahkan, tahun ini akan ada penambahan berupa 1 unit truk tronton, 6 unit dump truck dan 6 mobil pikap.

Kendaraan itu nantinya akan dimasukkan dalam struktur Unit Reaksi Cepat (URC).

“Untuk penanganan sampah kota, di setiap kecamatan akan kita siagakan mobil unit reaksi cepat yang memiliki fungsi saat kita melakukan penyisiran kota. Kita tidak akan mengganggu operasional kendaraan yang rutin melakukan pelayanan,” terangnya.

Seperti diketahui, dalam sebulan Kota Bogor memproduksi sampah sekitar 492 ton yang ditampung di TPA Galuga. Sampah-sampah tersebut diproduksi sampah rumah tangga dan sampah dari pasar di Kota Bogor.

Menyiasati timbunan sampah liar, DLH Kota Bogor menggalakkan program sortir sampah dari tingkat kelurahan. Bahkan, pemetaan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) menjadi prioritas agar tak ada lagi sampah liar di pinggir jalan.

“Untuk wilayah yang masih banyak sampah liar itu paling banyak di Kecamatan Bogor Selatan dan Bogor Barat. Kita sudah berkoordinasi dengan aparatur wilayah untuk menyelesaikan masalah ini. Maka dari itu, kehadiran URC sangat berpengaruh terhadap penyelesaian sampah liar,” jelasnya.

Mengenai penanganan sampah dari tingkat kota, ia mengaku beberapa pasar di Kota Bogor sudah memiliki lahan untuk menjadi pilot project daur ulang sampah modern.

Nantinya beberapa investor dari luar negeri akan masuk dan memberikan alatnya untuk daur ulang sampah, baik organik maupun nonorganik.

“Jadi memang untuk masalah sampah ini perlu kerja sama lintas instansi. Kami akan terus koordinasi dan melihat potensi yang ada,” pungkasnya. (dil/c/yok/py)

Loading...