Perawat RSUD Tergilas Truk Fuso

by -
TERSUNGKUR: Tubuh Dini Mardiani (46), korban tewas terlindas truk di Jalan KH Sholeh Iskandar tersungkur tak bernyawa, kemarin.

METROPOLITAN – Keberadaan proyek Tol Bogor Outer Ring Road (BORR) Seksi III A rupanya membawa duka bagi keluarga besar Dini Mardiani (46). Bagaimana tidak, wanita yang berprofesi sebagai suster itu tewas seketika usai terlindas truk di Jalan KH Soleh Iskandar. Usut punya usut, jalanan yang dipenuhi pasir dan kerikil itu diduga kuat menjadi penyebab motor yang dikendarai Dini terpeleset hingga ia harus terlindas truk dan meregang nyawa.

Berdasarkan hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) Polresta Bogor Kota, diketahui korban yang meninggal di lokasi kejadian dengan luka berat di bagian kepala. Seorang saksi mata menjelaskan, saat kejadian tepatnya pukul 10:30 WIB, kondisi lalu lintas memang sedang macet. Korban yang menggunakan sepeda motor bernomor polisi F 2022 BD itu mencoba melewati sebuah truk Fuso bernomor polisi B 9412 YN dari sisi kiri.

Kondisi aspal yang dipenuhi pasir dan kerikil membuat sepeda motor yang dikendarai korban hilang keseimbangan dan terjatuh. Namun, truk yang dikendarai MP tidak melihat korban terjatuh dan terus memacu kendaraannya.

“Kejadiannya cepat sekali, korban terjatuh langsung terlindas ban kiri truk di bagian kepala,” ujar Wijaya, seorang pedagang yang sedang berada di lokasi saat kejadian.

Jasad korban, sebelum dilarikan ke RS PMI untuk dilakukan uji forensik, sempat dibiarkan berada dibadan jalan dengan ditutupi terpal. Setelah selesai dilakukannya otopsi, jenazah korban dibawa ke RSUD Kota Bogor untuk disolatkan.

“Sopir truknya enggak liat, makanya korban langsung kelindas. Kepala korban langsung mengeleuarkan darah,” kata pria yang akrab disapa Jaya ini.

Kehadiran jenazah ke RSUD Kota Bogor, disambut dengan isak tangis oleh sanak saudara dan rekan kerja korban. Humas RSUD Kota Bogor, Taufik Rahmat menceritakan, korban merupakan seorang sosok yang sangat taat beribadah dan menjadi panutan bagi rekan kerjanya.

Korban sendiri bekerja di RSUD Kota Bogor, sebagai perawat di ruang operasi. Korban juga sudah mengabdi kepada RSUD Kota Bogor selama kurang lebih 10 tahun lamanya. Setelah disolatkan, jenazah korban langsung dibawa ke rumah duka di Cianjur.

“Kami sangat terpukul atas kejadian ini, atas nama Dirut RSUD, kami segenap keluarga RSUD Kota Bogor menyampaikan rasa belasungkawa kepada keluarga korban,” kata Taufik.

Selain pihak RSUD Kota Bogor, kepergian Dini Mardiani juga menyisakan kepedihan yang mendalam bagi tetangganya. Diketahui, Dini tinggal di sebuah komplek perumahan Villa Mutiara Bogor, Kelurahan Mekarwangi, Kecamatan Tanah Sareal. Sosok Dini dikenal sebagai orang yang aktif dalam kegiatan keagamaan yang sering digelar oleh masyarakat di komplek perumahaan.

Bahkan saat kejadian, dikatehui Dini sedang menjalankan puasa sunah.

“Tadi sebelum berangkat memang mukanya sudah kelihatan pucat. Karena sebelum berangkat ditawari sama tukang roti langganannya, dia mengaku lagi puasa. Padahal setiap hari dia pasti sarapan dulu roti srikaya kesukaannya,” kata Busroni (48) tetangga korban.

Harian Metropolitan pun mencoba menyusuri jalan yang dilalui oleh korban yang diduga menjadi salah satu penyebab kecelakaan tersebut. Benar saja, kondisi jalan dari pintu keluar Kelurahan Kayumanis sampai simpang Yasmin, diselimuti oleh pasir dan kerikil, hingga membuat jalan licin.

Sepanjang 1 kilometer, dari Kelurahan Kayumanis menuju ke simpang Yasmin, kondisi aspal yang tidak rata ditambah dengan adanya tanah basah, membuat pengendara motor harus lebih berhati-hati. Selain itu, ruas jalan yang memiliki lebar kurang lebih 5 meter ini, harus dibagi dua, karena adanya sistem kontra flow yang dilakukan oleh pihak kontraktor, selama proses pengerjaan berlangsung.

Setelah melewati medan aspal berselimutkan tanah. Kerikil dan pasir akan mewarnai perjalan para pengendara kendaraan selama kurang lebih 1 kilometer lagi sampai ke simpang Yasmin. Disinilah kewaspadaan pengendara sepeda motor harus ditingkatkan.

Namun, selama perjalanan dari arah Parung menuju ke Kota Bogor sepanjang 2,85 kilometer, tim Metropolitan tidak menemukan adanya rambu peringatan jalanan licin atau berhaya yang dipasang oleh pihak kontraktor.

Sementara itu, saat dikonfirmasi Pimpinan Proyek daru PT Marga Sarana Jabar (MSJ), Leona Rhoedianitasari, mengkalim jika kejadian kecelakaan bukan dikarenakan adanya proyek pembangunan Tol Borr.

“Kejadian sudah ditangani pihak kepolisian dan dinyatakan murni karena laka lantas bukan sebab akibat dari proyek,” katanya kepada Metropolitan melalui pesan singkat.

Lebih lanjut, ia juga mengklaim kalau jalanan yang berada tepat dibawah proyek pekerjaan yang memakan anggaran Rp3 triliun ini selalu dibersihkan. Bahkan menurutnya, saat kejadian, dilokasi TKP sedang tidak ada pekerjaan.

“Lokasi kejadian bersih pak, house keeping nya jalan terus,” bebernya.

Senada dengan Leona, kontraktor pembangunan Tol BORR Seksi III A dari PT Pembangunan Perumahan (PP) Suryo mengelak secara umum kecelakaan tersebut terjadi bukan karna dipicu oleh proses pekerjaan.

“Kecelakaan di P 88 itu terjadi bukan karna ada pembangunan, karna memang posisi disana clear dari pekerjaan,” ujar Suryo saat dikonfirmasi Metropolitan.

Pihaknya juga berkilah, jika pasir pekerjaan yang ada disana, bukan juga menjadi salah satu pemicu kecelakaan.

“Kalaupun ada pasir, namanya juga proyek, tidak mungkin juga kan bersih kaya keramik. Disana juga kita sudah pasang ruber corn dan rambu-rambu juga, sebagai bentuk implementasi amdal lalin,” kilahnya.

Meski begitu, pihaknya mengaku akan melakukan pengecekan kembali, untuk meminimalisir segala kemungkinan yang bisa saja memicu terjadi kecelakaan lalu lintas.

“Kita akan lakukan kroscek kembali. Kalau memang ada sesuatu yang dapat memicu kecelakaan, kita akan antisipasi buat kedepannya,” bebernya.

Pasca kejadian tersebut Polresta Bogor Kota langsung cepat bertindak, melalui Kasubag Humas nya, Ipda Desty Irianty mengatakan akan meminta pihak kontraktor yaitu PT PP ataupun PT MSJ untuk selalu membersihkan jalan tersebut, serta memasang rambu bahaya.

“Ya nanti akan kami kordinasikan untuk dipasang rambu bahaya dan dibersihkan jalanan dari material pembangunan,” katanya.

Sekedar dketahui, Proyek pembangunan Jalan Tol Bogor Ring Road (BORR) seksi IIIA ruas Simpang Yasmin-Simpang Salabenda yang dikerjakan PT PP yang ditargetkan rampung pada Desember 2019 lalu, dipastikan mundur sampai Juni 2020.

Selain itu, Manajer Proyek PT PP, Yusuf mengaku akan meningkatkan K3 selama proses pembangunan terjadi. Tapi ia juga tidak menampik, terkadang masalah K3 ini masih dianggap sepele oleh karyawannya.

“Mengenai pekerjaan proyek lapangan soal K3, di dinternal kami K3 itu nomor satu. Kadang-kadang dari sistem sudah K3 tapi pekerja belum K3,” pungkasnya. (dil/d/mam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *