Pernah Ditangkap Satpol PP, Kini Dapat Beasiswa S2

by -40 views
BANGGA: Noviana, mantan pengamen yang menjadi lulusan terbaik di Universitas Airlangga dengan IPK 3,94.

METROPOLITAN – Gapailah cita-citamu setinggi langit. Perumpamaan itu nampaknya tepat menggambarkan kehidupan Noviana. Mantan pengamen jalanan ini berhasil menjadi lulusan terbaik di Universitas Airlangga dengan IPK 3,94.

Terlahir dari keluarga kurang mampu, Noviana sempat pesimis dapat mengejar cita-citanya. Ia bersama kakak-kakaknya terpaksa turun ke jalan untuk menghidupi keluarganya. Kondisi finansial yang sulit ditambah kedua orang tua yang mengalami sakit keras memaksa mereka untuk mengamen di perempatan Ngagel Jaya, yang tak jauh dari rumah.

Awalnya, kedua orangtua Noviana tentu melarang karena tak ingin pendidikan anaknya terganggu. Namun, keinginan Noviana dan kakak-kakaknya untuk membantu keluarga lebih besar. Akhirnya, orangtua mereka pun memperbolehkan mengamen di sore hari, setelah pulang sekolah dan istirahat siang, dengan syarat pendidikan harus tetap jadi prioritas.

Sejak TK hingga kelas 2 SMP, Noviana membagi waktu sebagai pelajar dan pengamen jalanan. Tak jarang ia mengerjakan tugas di sela-sela kegiatan mengamen. Sebagaimana pengamen jalanan, pekerjaan ini pun bukan tanpa risiko. Anak dari pasangan Sutrisno dan Karyatiningsih itu seringkali harus kejar-kejaran dengan satpol PP dan bahkan sering ditahan di Lingkungan Pondok Sosial (LIPONSOS).

Kehidupan Noviana berubah saat ditahan di LIPONSOS. Noviana bertemu dengan Walikota Surabaya dahulu, Bambang DH. Saat itu Noviana tidak mengetahui bahwa sosok yang mendatangi dirinya yang tengah dikumpulkan bersama gelandangan dan pengemis lain itu merupakan walikota. Sosok itu menawarkan beasiswa sekolah sampai lulus.

Noviana kecil, memberanikan diri untuk menemui walikota dan menanyakan tentang beasiswa tersebut. Kepada Bambang DH, Noviana mengutarakan bahwa dia mau berhenti mengamen asalkan bisa punya pekerjaan sampingan dan bisa melanjutkan sekolah sampai lulus.

Noviana juga ingin Ayahnya diberi kesempatan untuk bekerja lagi. Permintaan itupun dikabulkan. Noviana berhenti menjadi pengamen dan melanjutkan pendidikan hingga diterima lewat jalur undangan di Fakultas Hukum UNAIR.

Mendapatkan beasiswa pendidikan bukan berarti segalanya mudah. Masih ada banyak kebutuhan yang harus dicukupi. Di sini, Noviana menyadari kondisi keuangan keluarga dan bertekad untuk tidak merepotkan kedua orangtuanya.

Sembari kuliah, Noviana mencoba berbagai cara untuk mencari penghasilan. Mulai dari memfotokopikan materi kuliah, berjualan aksesoris, menjadi pelatih olahraga panahan dan magang di Unit Konsultasi dan Bantuan Hukum (UKBH) FH UNAIR untuk menambah pengalaman.

Kerja keras Noviana membuahkan hasil. Dia berhasil menapatkan pendidikan S1-nya dengan baik dan menjadi lulusan terbaik UNAIR 2019. Bahkan, kini ia kembali mendapatkan tawaran beasiswa untuk melanjutkan study S2 dari Bambang DH.

“Jadi setelah lulus, bapak (Bambang DH) nelepon bilang, sudah kamu daftar S-2 saja, soal sponsor gampang. Akhirnya saya daftar S-2 di Unair mengambil Jurusan Ilmu Hukum lagi, tanggal 23 Januari ini pengukuhan,” kata perempuan 25 tahun itu.

Selain Bambang, mantan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja DKI Jakarta serta Direktur Administrasi dan Sumber Daya Manusia PT Pembangunan Jaya Ancol, Haryanto Badjuri, bersedia jadi bapak angkatnya. Menurut Noviana, ia sebelumnya tak kenal dengan Haryanto.

Namun karena saat wisuda ia banyak diliput media, Haryanto menghubungi dan bersedia menjadi sponsornya.

“Pak Haryanto mengatakah, Novi tugas kamu hanya sekolah sampai capek, jangan memikirkan biaya,” ujar anak ke empat dari delapan bersaudara tersebut.(hip/tem/rez)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *