Ratusan Pelajar Korban Bencana Butuh Seragam

by -

METROPOLITAN – Ratusan pelajar SD, SMP hingga SMA, di beberapa lokasi korban bencana alam longsor dan banjir di wilayah Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, masih menantikan bantuan. Sudah hampir satu bulan in menunggu uluran tangan Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor, yang belum juga menyalurkan bantuan pengadaan seragam sekolah dan alat alat pendukung pendidikan lainnya.

Koordinator PWI Peduli Kemanusiaan (Peka), Eko Hadi Permono, yang melakukan investigasi khusus menyebutkan, ratusan siswa SD itu, hingga saat ini belajar dengan tanpa menggunakan seragam sekolah. Mereka ditampung di beberapa barak penampungan sementara.

“Mereka melakukan kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dengan menggunakan pakaian seadanya di penampungan. Padahal mereka sangat mendambakan sekali tempat bersekolah dengan menggunakan seragam,” ujarnya.

Menurut Eko, KBM di lokasi bencana selama ini dilakukan para guru honor dari Persatuan Guru Honor (PGH) Kabupaten Bogor. Kehadiran para guru honor ini untuk membantu masyarakat terdampak bencana agar KBM tetap berjalan, karena guru SD Negeri yang ada menjadi korban bencana alam dan hingga saat ini masih mengungsi.

“Para guru tetap itu, belum berpikir untuk mengajar, karena dirinya juga sedang menjadi korban dan dalam pengungsian,” ucapnya.

Ia mengatakan, Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor harus lebih tanggap mengenai hal ini. PWI Kota Bogor bekerjasama dengan PGH hadir untuk melaksanakan KBM, agar para siswa disamping tidak tertinggal pendidikannya juga terhindar dari trauma bencana.

“Walaupun keadaannya memang sangat sulit, karena selain bangunan sekolahnnya rusak parah, buku dan seragam sekolahnya pun sudah tidak ada. Guru-gurunya pun ada di pengungsian, sehinga kami mengambil langkah kongkret dengan menghadirkan para guru honor sebagai relawan pendidikan di lokasi becana ini,” kata Eko Hadi.

Ketua Persatuan Guru Honorer (PGH) Kabupaten Bogor, Halim Sihabuddin, menceritakan ada lima sekolah yakni SDN Cileuksa 01, hingga 05, yang kondisi gedung sekolahnya rusak parah. Kalau dipaksakan khawatir ambruk menimpa siswa. Anak-anaknya pun belajar dengan menggunakan pakaian seadanya.

”Sepertinya Disdik Kabupaten Bogor tidak menetahui yang sebenarnya. Padahal Disdik janji akan mengirimkan seragam siswa, namun hingga saat ini belum ada realisasinya,” ujarnya.

Halim juga menambahkan, pihaknya sedang memikirkan langkah selanjutnya lantaran Pemerintah Kabupaten Bogor akan menghentikan seluruh kegiatan tanggap darurat pada 30 Januari 2020.

“Srtinya, pengabdian kami para guru Honor d ilokasi bencana harus dihentikan pada waktu tersebut. Kami khawatir dengan nasib pendidikan anak anak di lokasi bencana itu,” ujarnya. (ber/ar/els)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *