Selesai Tapi Tak Dipakai

by -
BELUM DIRESMIKAN: Anak-anak saat bermain bola di Jalan flyover RE Martadinata, Kota Bogor, kemarin. Flyover tersebut sudah selesai, namun belum diresmikan.

METROPOLITAN – Meski pengerjaan proyek flyover RE Martadinata saat ini tengah selesai, namun flyover yang berada di kawasan perlintasan kereta api Kelurahan Cibogor, Bogor Tengah itu, tak kunjung diresmikan.

Meski sempat beredar video flyover tersebut bisa digunakan pada Desember silam, namun hal itu hanya sebatas uji coba sementara.

Sejatinya, flyover tersebut direncanakan dapat digunakan masyarakat tepat pada momen pergantian tahun. Namun sampai Januari ini, flyover tersebut masih tak bisa dilintasi masyarakat.

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpung, tidak bisa digunakannya flyover anyar itu, lantaran terkendala Sertifikat Laik Fungsi (SLF), atau sertifikat yang diberikan pemerintah daerah terhadap bangunan gedung yang telah selesai dibangun, dan telah memenuhi persyaratan kelaikan fungsi berdasarkan hasil pemeriksaan pihak tertentu.

HSE Inspector Proyek Pembangunan Flyover Jalan Martadinata, Agam Riskalloh Al-Amin membenarkan, jika flyover yang dibangun pihaknya belum mengantongi SLF.

Meski begitu, dirinya tak bisa berkomentar banyak, lantaran hal tersebut bukan ranahnya. Meski begitu, sepengalamannya di dunia kontruksi, biasanya proses SLF tak butuh waktu lama dan hanya memakan waktu sekitar satu pekan, jika tim SLF sudah terbentuk.

“Kalau kita sudah tidak ada kaitannya lagi. Kita ini kan kontraktor, tugas kita hanya membangun, saat pembangunan selesai ya sudah kita juga selesai. Kalau untuk SLF dari Kementerian PUPR. Masalah uji fungsi dan lain sebagainya, itu bukan ranah kami. Ini kan jalan Pemkot Bogor, jadi kewenangannya ada disana,” katanya saat dihubungi Metropolitan, kemarin.

Secara umum pembangunan flyover RE Martadinata sudah selesai. Pihaknya hanya sedang menunggu keluarnya SLF dari pemerintah. Pria yang akrab disapa Agam ini mengaku siap kapan pun, jika ada intruksi jalan tersebut mesti dibuka.

“Saat ini kami tinggal menunggu masalah itu aja (SLF,red). Kalau pak wali mau hari ini dibuka kita akan buka, kapan aja kita siap. Kalau kita asal buka secara sepihak, nanti kalau ada apa-apa kita tanggungjawab kan repot,” ungkapnya.

Agam juga merasa dirugikan secara pribadi, lantaran dirinya tak bisa kemana-mana sampai SLF tersebut keluar.

“Tentu sangat pengaruh, yang seharusnya saya dapat proyek baru karna ini belum selesai jadi saya tidak bisa kemana-mana, ini secara pribadi yah. Temen-temen pekerja juga kasihan, yang seharusnya bisa pulang ke rumahnya masing-masing jadi tidak bisa, kita juga tidak bisa berlibur dan santai dirumah karna ini, jadi harus standby disini terus. Kalau secara pribadi kami merasa waktu kami merasa terbuang,” tegasnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan saat ini pihanya juga tengah menanti terbitnya SLF dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

Meski pekerjaan saat ini sudah selesai 100 persen, namun Pemkot Bogor tidak bisa membuka jalan tersebut secara sembarang.

“Kita juga sedang menunggu agar pengoprasian penuh flyover dapat dilaksanakan, meskipun secara fisik pengerjaan sudah 100 persen, tetapi sesuai dengan prosedur dan ketentuan kita harus tunggu SLF dulu. Karna ini menyangkut keselamatan masyarakat,” ucapnya.

Dedie mengaku, akan mencoba berkomunakasi dengan pihak PUPR, agar sesegera mungkin dapat mengeluarkan SLF Flyover RE Martadinata tersebut.

“Kita akan berkomunikasi dengan Mentri PUPR untuk dapat sesegera mungkin menyelesaikan SLF. Mungkin sekitar akhir bulan ini akan kita upayakan agar selesai,” tandasnya. (ogi/c/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *