Sengketa Tanah, Kantor Desa Limusnunggal Pindah

by
DIPINDAH: Kantor Desa Limusnunggal bakal dipindah ke Perumahan Kota Wisata karena lahannya bermasalah

METROPOLITAN – CILEUNGSI Lantaran dibangun di atas lahan sengketa, kini Kantor Desa Limusnunggal, Kecamatan Cileungsi, harus pindah ke area fasos fasum dari Kota Wisata.

Sebab, keluarga pemilik lahan menuntut lahan dikembalikan kepada pihak keluarga. Hal itu disayangkan banyak pihak, tak terkecuali Kepala Desa Limusnunggal, Ardi.

Menurut Ardi, lahan itu milik keluarga mantan sekretaris desa (sekdes) Subur. Dulunya memang segel kepemilikan tanah pada zaman orang tua Subur menginginkan lahan desa kembali ke pihak keluarganya.

Karena dahulu kepala desa berasal dari keluarga Subur. Subur yang pernah menjabat sebagai sekdes mengetahui seluk beluk lahan kantor desa pada masanya.

“Sebenernya bukan tanahnya dia (Subur, red). Itu dulunya tanah milik Musa, tapi dibeli dengan orang tua Subur, pak Aniban seharga Rp300 ribu. Pak Aniban hanya membayar Rp150 ribu. Sisanya dilunasi kades zaman kedua yakni pak Asni sebesar Rp150 ribu. Itu bunyi disegelnya,” ujar Ardi.

Ardi menambahkan, untuk bukti pembayaran itu tidak tau pasti bersumber dari dana pribadi atau dari dana pemerintah. Yang dia sayangkan kenapa hal ini mencuat pada masa kepemimpinannya.

“Seharusnya diungkit dari zaman pak Karman yaitu saudaranya Subur. Kenapa waktu itu tidak diungkit, malah di zaman saya menjabat yang diungkit. Padahal pak Karman dua periode dan Subur juga kan jadi sekdes 20 tahun. Ya bisa saja misalkan Letter C-nya desa diutak atik, karena selama 20 tahun jadi sekdes pegang Letter C ya kita nggak tau,” paparnya.

Pria berkumis tebal ini mengungkapkan, dirinya menerbitkan surat tidak sengketa itu karena untuk memfasilitasi keluarga Musa yang dulu menggugat dengan Jenal.

Atas dasar itu, dirinya menerbitkan surat tidak sengketa agar tidak ada permasalahan.

“Karena kalau keluarga musa keukeuh kan jadi gak selesai, makannya saya inisiatif untuk membuatkan surat sengketa.” katanya.

Untuk pemindahan Kantor Desa Limusnunggal, dirinya meminta kepada pemilik tanah dengan cara dihitung atas dasar dana yang sudah digelontorkan Pemerintah Kabupaten Bogor yakni sebesar Rp1,8 miliar.

Namun, pihak pemilik lahan hanya menyanggupi Rp1,5 miliar saja yang digunakan untuk membangun kantor desa baru di Perumahan Kota Wisata.

“Dulu sebelum dibangun kantor desa baru, saya berunding dengan camat Cileungsi lama yakni Renaldi. Dihitung-hitung semua harus diganti Rp1,8 miliar namun pak Subur gak sanggup. Alasannya nggak tau kenapa. Janjinya akan dibayar Rp1,5 miliar tapi kok yang teresalisasi hanya Rp1 miliar saja. Padahal sekda sudah ngomong kantor desa itu kan untuk pelayanan masyarakat.” tukasnya. (zis/b/els)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *