Sindikat Begal ‘Anak Lampung Timur’ Diciduk Polisi

by -
RILIS: Polres Bogor menggelar rilis pengungkapan tindak pencurian kendaraan bermotor di wilayah Bogor, kemarin.

METROPOLITAN – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Bogor, berhasil mengungkap sindikat jaringan pencurian kendaraan bermotor (curanmor) lintas provinsi, yang menamakan dirinya sebagai Kelompok Anak Lampung Timur.

16 pelaku tersebut diamankan petugas, di sejumlah lokasi berbeda di Bumi Tegar Beriman. Dari 16 pelaku, dua diantaranya merupakan otak oprasi, juga target pencarian petugas selama ini. Lantaran kerap kali melancarkan aksinya di sejumlah wilayah.

Kapolres Bogor AKBP M Joni mengatakan, penangkapan 16 pelaku tersebut bermula saat pihaknya berhasil membekuk dua pelaku, yang merupakan otak di balik Kelompok Anak Lampung Timur berinisial DF dan H.

Dalam melancarkan aksinya, DF dan H tak segan-segan untuk mengahabisinya nyawa pemilik kendaraan jika melakukan perlawanan. Dua pucuk senjata rakitan lengkap 20 butir peluru, diamankan petugas dari keduanya.

Dari tangan pelaku, pihak Polres Bogor juga berhasil mengamankan 40 sepeda motor hasil oprasi di sejumlah wilayah, dua pucuk senjata api rakitan, 20 butir peluru, belasan kunci T dan belasan telepon gengam, sebagai barang bukti.

Joni menjelaskan, secara umum tugas 16 pelaku tersebut berbeda-beda. Dua orang berperan sebagai otak oprasi, penadah, pengamanan senjata, pengamanan dalam lapas. Sementara sisanya bertugas sebagai eksekutor lapangan.

“DF dan H berperan sebagai otak komplotan, R penadah, S berperan sebagai penyimpanan senjata. Sementara L salah seorang mantan Petugas Lapas Pondok Rajeg, sebagai pengamanan di dalam lapas, tapi sudah lama pindah tugas,” katanya.

Meski sosok L sudah tak lagi bertugas di Lapas Pondok Rajeg, dan kini bertugas di salah satu Lapas di Indramayu, namun Joni sangat menyayangkan akan ketelibatan dan peran L dalam sindikat Kelompok Anak Lampung Timur tersebut.

Menurut keterangan pelaku, biasanya barang hasil oprasi tersebut dijual ke sejumlah wilayah. Seperti Sukabumi, Indramayu, Cianjur, Sumedang, hingga sejumlah wilayah lainnya di Jabodetabek. Bahka tak jarang mereka menjualnya lintas provinsi.

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Bogor AKP Benny Cahyadi mengatakan, target oprasi pelaku biasanya menyasar secara sembarang. Mulai dari perumahan, fasilitas parkir, hingga lokasi lainnya yang dinilai memungkinkan untuk melancarkan aksinya.

Para pelaku juga tak segan untuk menembak korban, jika melakukan perlawanan. Menurut Benny dua pucuk senjata api rakitan, diperoleh pelaku didapatnya dari daerah Lampung Timur. Meski pelaku mengaku belum pernah membunuh dengan senjata tersebut, namun Benny masih mendalami hal ini.

“Kalau pengakuan mereka, katanya mereka belum pernah menembak korbannya. Tapi kita sedang dalami lagi. Untuk senjata rakitanya, mereka dapatkan dari daerah Lampung Timur, yang ada indikasi tempat perakitan khususnya. Tapi semuanya masih kita dalami untuk lebih lanjutnya,” tegasnya.

Disinggung soal keterlibatan L, eks petugas Lapas Pondok Rajeg, pihaknya juga turut membekuk L di tempat terpisah. L dibekuk petugas saat dirinya melakukan transaksi di daerah Indramayu. Secara umum ke 16 pelaku ini didominasi residivis dengan kasus yang sama di sejumlah wilayah.

Untuk di Kabupaten Bogor sendiri, biasanya Kelompok Anak Lampung Timur tersebut, beroprasi di sejumlah wilayah. Seperti Gunung Putri, Cileungsi, Cibinong dan wilayah lainnya yang disinyalir dilakukan secara mobil bergantian oleh para pelaku.

“Saat beroprasi biasanya mereka melakukan secara berkelompok. Kadang dua hingga empat orang untuk satu kelompok. Biasanya untuk harga satuan motor, mereka menjualnya denga harga murah, berkisar Rp 2,5 juta rupiah hingga Rp 3,5 juta rupiah, tergantung jenis motor dan tahunnya,” bebernya.

Tak hanya menjual unit motor, komplotan tersebut juga kerap kali menjual barang hasil curiannya dengan sistem bongkar setiap bagiannya. Biasanya untuk harga perbagian dijual mulai dari ratusan ribu rupiah hingg jutaan, tergantung komponennya.

“Jadi mereka juga mempreteli setiap komponen motornya. Biasanya sih mereka menjual kepada penadah, yang sasarannya anak-anak geng motor. Jadi hasil pencuriannya sudah ada markas pasarnya sendiri. Inilah yang menyebabkan rangkaian pencurian tersebut terus berlangsung,” tandasnya.

Atas kejadian ini, para pelaku dikenakan pasal pencurian dengan pemberatan. Sekaligus Undang-Undang Darurat Nomor 12, dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara dan Undang-Undang Darurat dengan hukuman 20 tahun penjara. (ogi/b/mam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *