Terpidana Mati Atur Jaringan Narkoba Internasional

by -
EKSPOS: Polres Bogor menggelar ekspos penangkapan dan pengungkapan bandar narkoba jaringan internasional yang dikendalikan napi Lapas Gunungsindur.

METROPOLITAN – Meski telah divonis hukuman mati, rupanya tidak membuat seorang narapidana jera berbuat kejahatan. Seperti ADJST, napi Lapas Gunungsindur yang masih mengendalikan peredaran narkoba di balik jeruji besi. Tak tanggung-tanggung, ia mengatur kurir jaringan internasional untuk memasarkan barang haram tersebut.

Keterlibatan ADJST terungkap saat Satnarkoba Polres Bogor membekuk AN dan HS. Kedua pelaku itu ditangkap di dua tempat terpisah. Pertama, AN diringkus di Cibinong, Kabupaten Bogor, sedangkan HS ditangkap di Jakarta pada waktu berbeda.

Penangkapan AN bermula dari pengembangan kasus peredaran pil haram di kawasan Cibinong. AN merupakan bandar narkoba antarprovinsi yang mendapatkan barang dari sebuah pabrik rumahan di Jakarta. Selain meringkus AN, Satnarkoba juga berhasil meringkus HS, seorang residivis, di rumahnya yang merupakan pabrik pembuatan pil ekstasi jaringan internasional.

Dari penggeledahan, Satnarkoba berhasil mengamankan barang bukti berupa 1.320 butir pil ekstasi, 1,5 kilogram bahan baku ekstasi dan kurang lebih 53 gram sabu-sabu. Termasuk obat-obatan campuran untuk pembuatan pil ekstasi yang biasa ditemui di warung kelontongan.

Usut punya usut, rupanya HS tidak bekerja sendirian. Selama menjalani bisnis haram tersebut, HS mengaku diatur dan diarahkan seorang bandar besar yang saat ini mendekam di Lapas Gunungsindur, yakni ADJST.

“Saya diarahkan ADJST. Barang baku atau bahan ekstasi, jenis bubuk itu saya dapatkan dari dia dan diantarkan melalui kurir,” kata HS di Mapolres Bogor, Selasa (21/1).

HS mengaku memproduksi pil haram tersebut sesuai pemesanan. Pengiriman pun tidak dilakukan setiap hari.

“Kadang bisa seminggu sekali atau sebulan dua kali. Tergantung pesanan saja,” sambungnya.

HS diketahui mampu memproduksi 200 sampai 240 butir pil ekstasi per hari, dengan kisaran harga Rp450 sampai Rp800 ribu per butir. Jika dihitung dalam sehari, HS bisa menghasilkan keuntungan Rp192 juta.

“Itu hanya ekstasinya saja ya. Jadi dari 1.320 pil ekstasi yang kami sita, dikalikan saja Rp800 ribu per butir maka bisa miliaran rupiah nilainya,” kata Kasat Narkoba Polres Bogor AKP Andri Alamsyah.

Terkait adanya pengendali yang berada di balik jeruji besi, Kapolres Bogor AKBP M Joni mengerahkan anak buahnya melakukan penggeledahan di Lapas Gunungsindur. Terduga pelaku yang juga merupakan seorang napi tersebut berinisial ADJST.

Berdasarkan hasil penggeledahan, diketahui napi yang berada di Blok A Lapas Gunungsindur itu merupakan napi yang sudah divonis mati beberapa tahun lalu.

“Kami sudah koordinasikan ke sana, mudah-mudahan bisa kooperatif. Sebab, selama ini proses pengungkapan di sana (Lapas Gunungsindur, red) sedikit terhambat karena yang bersangkutan (ADJTS, red) sempat membersihkan barang bukti terlebih dahulu saat penggerebekan,” tegasnya.

Meski demikian, pihaknya akan terus melakukan pengembangan di Lapas Gunungsindur, agar warga binaan tersebut tidak bisa lagi mengendalikan peredaran dan produksi narkoba dari dalam Lapas.

Sementara itu, Kalapas Gunungsindur Mulyadi membenarkan adanya penggeledahan yang dilakukan oleh pihak Polres Bogor. Diketahui, ADJTS merupakan napi yang ditahan karena kasus narkoba pada 2017 silam dan ditangkap di kawasan Tanggerang.

“Sepengetahuan saya, untuk napi yang sudah kena hukuman mati tidak pernah dibesuk. Selain itu, dia juga kami isolasi di sel khusus,” pungkasnya.

Sebelumnya, Polres Bogor berhasil mengungkap kasus jaringan narkoba jenis baru bernama Green No Name. Konon, barang haram itu merupakan jenis baru yang beredar pada awal tahun di Bumi Tegar Beriman.

Kepala Satuan Narkoba Polres Bogor AKP Andri Alam mengatakan, Green No Name didapatkan pihaknya dari hasil pengembangan yang dilakukan.

“Kita melakukan penelusuran ini kurang lebih selama dua bulan pengembangan,” kata Andri kepada Metropolitan, kemarin.

Secara visual, Green No Name memiliki penampilan berwarna hijau, dengan tulisan Y di tengah. Konon efek yang dihasilkan dari ekstasi ini di atas rata-rata dari jenis ekstasi pada umumnya. Bahkan, kualitas yang dimilikinya setara dengan ekstasi asal Belanda.

“Kualitasnya setara dengan ekstasi asal Belanda. Tapi anehnya kok bisa dijual murah, padahal kualitasnya di atas rata-rata ekstasi biasa. Dan penyebaran barang ini di sekitar Jabodetabek, termasuk Kabupaten Bogor,” bebernya.

Menurut hasil pengembangan, murahnya harga jual Green No Name tersebut lantaran bahan yang digunakan berasal dari sisa bahan milik Freddy Budiman, yang sengaja disulap pelaku menjadi ekstasi berkualitas.

“Bahannya sisa milik Freddy. Daripada dibuang sayang, makanya diolah biar jadi uang. Wajar saja kalau kualitasnya bagus, orang bahan-bahannya punya Freddy,” pungkas Andri. (dil/mul/c/mam)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *