Dewan Pertayakan Relokasi Stasiun Batutulis

by -
POLEMIK: Stasiun Kereta Api Batutulis rencananya bakal direlokasi Pemkot Bogor. Padahal, stasiun tersebut merupakan salah satu cagar budaya

METROPOLITAN – Berdasarkan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kota Bogor 2020, terdapat nomenklatur yang berbunyi Penyusunan Feasibility Study (FS) Relokasi Stasiun KA Batutulis dengan nominal Rp 291,6 juta dan masuk kedalam anggaran Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor.

Hal tersebut pun sontak membuat pergunjingan di gedung parlemen. Ketua Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bogor, Adityawarman.

Ia menilai, Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor harus memperhitungkan dahulu wacana pemindahan stasiun tersebut.

Sebab, menurutnya Stasiun Batutulis merupakan salah satu Cagar Budaya, jadi tidak bisa sembarangan untuk dihancurkan dan dipindahkan lokasinya.

“Kalau saya sih belum mendapatkan rencana relokasi itu,” ujar Adityawarman kepada Metropolitan, kemarin (13/2).

Politisi PKS ini juga berharap, Pemerintah Kota Bogor dapat memberikan keterangan lebih jelas dari wacana relokasi Stasiun Batutulis.

Ia mengambil contoh, jika memang keberadaan Stasiun Batutulis semakin terancam dengan pembangunan double track maka harus didasari dengan kajian lengkap dari FS tersebut.

“Jadi saya lihat dulu nanti hasilnya seperti apa, baru akan kami diskusikan dengan anggota komisi,” katanya.

Terpisah, saat dikonfirmasi, Wakil Walikota Bogor, Dedie A Rachim, menjelaskan, maksud dari anggaran tersebut.

Menurutnya, relokasi Stasiun Batutulis memang harus dilakukan, karena kondisi stasiun yang sudah miring dan berada di tanjakan sangat berbahaya.

Ia pun membenarkan kalau wacana relokasi stasiun yang dibangun pada 1920 ini merupakan dampak dari rencana double track pemerintah pusat.

FS yang akan dikerjakan oleh Dishub Kota Bogor juga akan ia jadikan sebagai bahan untuk berdiskusi dengan PT KAI sebagai pengambil keputusan.

“Dengan double track itu kan kita tidak tahu apakah stasiun batutulis bisa dipertahankan, kan kita masih belum tau. Sekolah, rumah dan masjid aja bisa dibongkar. Ini kan untuk kepentingan publik yang lebih besar bahwa ada bangunan cagar budaya kalau memang ada kepentingan lebih besar maka ada pertimbangan untuk digeser,” jelas Dedie.

Masih kata orang nomor dua di Kota Bogor ini, dalam FS tersebut juga akan menghasilkan kajian berupa penambahan stasiun kecil (stoplet) yang berfungsi untuk mengurai kepadatan di Stasiun Bogor.

Ia menjelaskan, terdapat empat titik stoplet yang akan diajukan ke PT KAI, yaitu di BNR, Empang, Rancamaya dan revitalisasi Stasiun Paledang.

Selain itu, jenis kereta yang akan beroperasi di stoplet pun masih menjadi tanda tanya, apakah akan menggunakan kereta rel diesel (KRD) atau kereta rel listrik (KRL).

“Jadi tujuannya nanti kedepan, penumpang yang berasal dari Bogor wilayah Selatan, tidak perlu memadati stasiun Bogor di Kota Bogor. Kalau memang nanti ada beberapa stoplet mereka kan bisa naik dari sana, itu tujuannya,” pungkasnya.(dil/c/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *