Gawat! Dolar Palsu Masuk Kampung

by -
BARANG BUKTI: Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Hendri Fiuser menunjukkan barang bukti uang palsu kepada awak media, kemarin

METROPOLITAN – Derai air mata terus membasahi pipi Sukaesih (60). Seperti tak ada daya, wanita paruh baya itu terus menangis dan merintih meratapi nasib Tohir (65), teman hidupnya, yang dijemput paksa petugas Polresta Bogor Kota usai tertangkap basah menyimpan dan mengedarkan dolar palsu.

Tohir dibekuk petugas di rumahnya saat hendak melenggang ke masjid yang hanya berjarak tak lebih dari 50 meter dari rumahnya di Kampung Cibadakkaum, RT 03/02, Kelurahan Cibadak, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.

Sang istri, Sukaesih, tak berkilah bahwa suaminya memang terlibat dalam lingkaran setan peredaran uang palsu (upal). Ia mengaku sering membakar upal yang dimiliki sang suami lantaran tahu bahwa upal hanya akan membawa kesengsaraan dan berujung tindak kejahatan.

Rumah hijau sederhana di kawasan padat penduduk itu menjadi saksi betapa seringnya Sukaesih membakar upal milik Tohir.

Namun entah dari mana asalnya, upal tersebut kembali datang lagi dan lagi. Sukaesih mengaku pemilik upal tersebut bukanlah suaminya. Ia hanya dijebak dan dijerumuskan salah satu rekannya berinisial R.

Keyakinan tersebut muncul lantaran R yang merupakan rekan suaminya berkunjung ke rumahnya. Ia acap kali membawa plastik hitam yang diduga berisi upal.

Bahkan, R juga kerap mengajak sang suami ikut bermain dalam lingkaran setan ini. Namun kembali lagi, Sukaesih berhasil menggagalkan ajakan dan niat buruk R terhadap suaminya.

Sukaesih bercerita, semula Tohir sempat terhasut lantaran R kembali mengungkit utang yang dimiliki Sukaesih, tak lebih dari Rp5 juta.

R pun konon membujuk Tohir ikut ambil bagian dalam mengedarkan upal tersebut. Dari situlah Tohir mulai terbujuk, sebab R kerap meminta sertifikat rumah kepada Tohir sebagai pengganti utangnya.

“Ada teman bapak namanya R. Sebenarnya ibu yang punya sangkutan utang Rp5 juta. Jadi R merasa ini dan itu sama si bapak karena saya punya utang sama dia. Jadi dia itu merasa ngotot gitu ke si bapak, karena mungkin saya punya utang. Malah R sempat minta sertifikat (rumah, red) buat lunasin utang saya,” kata Sukaesih kepada Metropolitan di kediamannya.

Sukaesih juga meyakini suaminya dijebak R. Hal itu lantaran ia sangat mengetahui karakter sang suami. Bahkan, suaminya sama sekali gagap teknologi (gaptek).

Untuk mengirim sebuah pesan melalui ponsel, Tohir pun tak bisa melakukannya sendiri. Ia meyakini suaminya hanya disuruh dan dipaksa mengedarkan upal tersebut lantaran utang keluarga.

“Saya yakin ini unsur dendam dan sakit hati R karena saya punya utang ke dia. Ditambah lagi saat R meminta sertifikat untuk melunasi utang, saya menolaknya. Mungkin suami saya dipaksa terus, dan akhirnya mau. Tapi R juga ikut mengedarkan kok, malah dia yang mengajak. Tapi kenapa hanya suami saya yang ditangkap,” keluhnya.

Sementara itu, Ketua RT 03, Kampung Cibadakkaum, Desa Cibadak, Suganda, mengaku tak menyangka warganya terlibat kasus pemalsuan dan peredaran upal tersebut.

Ia juga mengaku bahwa Tohir merupakan sosok yang sangat ramah dan mudah bergaul. Bahkan, pria yang sehari-hari bekerja sebagai pemburu sarang walet itu sangat taat agama.

Suganda, yang kediamannya memang persis di samping rumah Tohir, itu mengaku sama sekali tidak melihat tanda-tanda maupun kejanggalan sebelum penangkapan Tohir senja itu.

Bahkan, Tohir juga terbilang sangat dekat dengan sesepuh kampung di sana, sebab ketaatannya dalam beribadah.

“Baik banget, aktif di pengajian, kegiatan sosial. Malah suka bantu-bantu saat ada pengajian dan pembangunan masjid dulu. Pokoknya kami juga tidak menyangka ada kejadian ini. Malah sekarang semenjak Tohir ditangkap, jamaah pengajian masjid di sini suka mendoakan Tohir agar ia bisa berubah dan lebih baik lagi ke depannya,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Bogor Kota AKP Firman Taufik mengaku pihaknya masih melakukan pengejaran terhadap dua pelaku lainnya yang berperan sebagai pembuat dan penyedia jasa layanan upal. Upal tersebut rencananya bakal diedarkan kepada salah seorang pemesan di Batam.

“Tohir dapat pesanan dari Batam untuk pengadaan upal dolar. Dolar Brasil dan rupiah. Dolar didapatkan Tohir dari David, orang Labuan Banten. Kalau yang dolar Brasil didapat dari Asep di daerah Cibadak, Bogor. Keduanya, David dan Asep, sedang dalam pengejaran kami,” bebernya kepada Metropolitan, kemarin.

Dari tangan Tohir, petugas berhasil mengamankan 30 gepok pecahan mata uang dari tiga negara. Yakni sepuluh gepok uang pecahan 100 ribu dolar, sepuluh gepok uang pecahan 50 dolar Brasil dan sepuluh gepok uang pecahan 100 ribu rupiah.

“Setiap gepok itu ada seratus lembar, baik mata uang dolar, dolar Brasil ataupun uang rupiah,” bebernya.

Di tempat yang sama, Kapolresta Bogor Kota Kombes Pol Hendri Fiuser menegaskan sejumlah uang tersebut jika dirupiahkan memiliki harga yang cukup fantasis, sekitar Rp1 miliar lebih. Pelaku pun diancam jeratan belasan hingga puluhan tahun penjara.

“Atas tindak kejahatan tersebut, pelaku dijerat Pasal 26 Ayat 2 dan 3 Juncto 36 Ayat 2 dan 3 dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2011 dan Pasal 244 KUHP dan Pasal 245,” tandasnya. (ogi/c/mam/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *