Jadi Aktivis di Usia Belia, Masuk Majalah Forbes

by -
NSPIRATIF: Faye Hasian Simanjuntak masuk salah satu anak muda paling berpengaruh versi Majalah Forbes Indonesia untuk kategori ‘30 Under 30’ 2020.

METROPOLITAN – Nama Faye Hasian Simanjuntak mungkin cukup asing di telinga sebagian orang. Namun siapa sangka, Faye merupakan cucu tertua dari keluarga Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan.

Lebih membanggakannya, ia masuk sebagai salah satu anak muda paling berpengaruh versi Majalah Forbes Indonesia untuk kategori ’30 Under 30′ 2020.

Faye masuk ke dalam jajaran ’30 under 30′ untuk bidang Social Entrepreneur and Philanthropy. Kategori ini diberikan kepada mereka yang dianggap sukses dan membawa dampak positif ke masyarakat.

Faye yang saat ini berusia 18 tahun ini memang tampak tak jauh berbeda seperti remaja seumurannya. Ia senang menonton film dan nongkrong bareng teman-temannya. Namun, dari sisi pengabdian sosial, Faye amat menonjol.

Di usia belia, siswi SMA Jakarta International School ini sudah berpengalaman dalam gerakan antiprostitusi anak. Sebuah bakti sosial diakrabi sejak masih berusia 11 tahun.

Faye menceritakan pengalaman pertama kali mengenal isu prostitusi anak berkat tugas sekolah. Ketika duduk di bangku kelas VI, guru memberi tugas membuat makalah terkait permasalahan sosial.

Faye memilih topik child trafficking (jual-beli anak). Baru pertama kali itu Faye menyadari betapa banyak anak-anak menjadi korban perdagangan manusia.

Menurut dia, mereka diperdagangkan dengan berbagai tujuan, mulai dari pekerja di bawah umur hingga diambil organ tubuhnya. Adapun alasan terbanyak ialah dimasukkan ke dalam lingkaran pelacuran.

Perhatiannya makin tajam setelah membaca data yang dikeluarkan lembaga swadaya masyarakat internasional, End Child Prostitution, bahwa 43 persen anak-anak yang diperdagangkan berusia di bawah 14 tahun.

Selepas menyelesaikan tugas sekolah, isu prostitusi anak tidak bisa lepas dari benaknya. Ia kemudian mendekati ibunya agar mengajaknya melihat permasalahan yang sesungguhnya terjadi di lapangan.

Sang ibu, Paulina Pandjaitan, kemudian meminta bantuan seorang kenalan yang pernah bekerja di LSM untuk bahu-membahu mendampingi penyintas. Kegiatan yang dilakukan Faye mulai banyak mengundang sukarelawan untuk terlibat.

Beberapa perusahaan juga datang untuk memberikan bantuan berupa dana dan alat. Bahkan, pada 2016, ada donatur yang meminta Faye mengelola sebuah rumah aman untuk anak-anak korban prostitusi di Provinsi Kepulauan Riau. Rumah aman itu sudah dibangun dan diberi nama Rumah Faye.

Rumah Faye merupakan organisasi yang berfokus pada pencegahan pelecehan seksual dan perdagangan manusia serta rehabilitasi korban.

Bermula dari proses belajar dan tugas sekolah yang didapat Faye saat masih duduk di bangku sekolah dasar, terkait perdagangan anak yang terjadi di Indonesia, kemudian timbulah ide Faye untuk mendirikan Rumah Faye.

Ia juga mengampanyekan kepada rekan sebayanya atau yang berumur di bawahnya terkait hak mereka sebagai anak.

Hal itu juga ditularkan ke para relawan yang sukarela bergabung untuk membantu dirinya bekerja melindungi dan memulihkan keadaan para korban.

Rumah Faye saat ini memiliki kantor di Jakarta dan Batam. Batam sendiri dipilih karena menjadi kota transit perdagangan manusia lantaran letaknya berdekatan dengan Malaysia dan Singapura.

Berdasarkan catatan Rumah Faye, perdagangan manusia di indonesia paling banyak dikirimkan ke Timur Tengah. Sampai saat ini Rumah Faye berhsil menuntaskan 90 kaus dan menyelamatkan setidaknya 52 anak.

Sang kakek, Luhut juga memberikan apresiasi pada cucunya dan ikut mengungkapkan kebahagiaannya lewat unggahan di akun Instagramnya.

“Suatu kebanggaan tersendiri untuk saya sebagai kakek dari seorang perempuan belia bernama Faye, yang mendedikasikan cita-cita hidupnya untuk membuat sebuah ‘Rumah’ perlindungan bagi anak-anak dari bahaya kejahatan perdagangan manusia dan kekerasan seksual,” tulis Luhut di akun instagram pribadinya @luhut.pandjaitan, Sabtu (22/2).(kom/rez)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *