Jadwal Pengerjaan Renovasi Surken Belum Jelas

by -
CHUSNUL ROZAQIKepala Dinas PUPRKota Bogor.

METROPOLITAN – Pemerintah Kota Bogor mendapatkan kucuran dana sebesar Rp30 miliar dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mempercantik kawasan pecinan di Jalan Suryakencana.

Untuk itu, Pemerintah Kota Bogor berencana merelokasi para pedagang kaki lima (PKL) sayuran dan buah-buahan yang tersisa di Lawang Seketeng ke Pasar Bogor.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kota Bogor, Chusnul Rozaqi, menjelaskan, kalau agenda pembangunan proyek strategis Kota Bogor ini akan berlangsung sekitar bulan April atau Mei.

Hal tersebut menurutnya berdasarkan jadwal lelang yang akan dilakukan pada Maret.

“Kita kan belum tahu kalau kita ajukan di maret berarti april awal puasa sudah mulai. Itu juga kan tergantung hasil lelangnya nanti, kalau gak ada sanggahan ya lanjut,” jelasnya kepada Metropolitan, kemarin.

Selain itu, proyek yang akan menyasar 7 koridor di sepanjang Jalan Suryakencana, termasuk Jalan Pedati, Rangga Gading, Gang Teng dan Kampung Cincau ini sambung Chusnul, pihaknya masih memperkirakan mana saja yang akan dikerjakan terlebih dahulu.

Sebab, saat ini para PKL yang berada di Lawang Seketeng memilih untuk bertahan dan enggan direlokasi.

“Kita lihat saja mana yang bisa dikerjakan terlebih dahulu, karena urusan PKL itu bukan kewenangan kami, kami hanya eksekusi fisiknya saja,” sambungnya.

Berdasarkan hasil rapat yang digelar oleh Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah Kota Bogor, Perumda Pasar Pakuan Jaya (PPJ) Kota Bogor dan eksekutif, menghasilkan kesepakan untuk merelokasi 670 pedagang pada 6 Maret 2020.

Surat imbauan pun sudah dilayangkan pihak Pemkot Bogor per 27 Januari 2020 silam.

Namun keinginan Pemkot Bogor untuk merolokasi dalam waktu dekat ini nampaknya mendapatkan penolakan dari paguyuban pedagang Lawang Seketeng.

Para pedagang yang mengaku sudah berjualan selama puluhan tahun di lokasi tersebut meminta dispensasi waktu sampai lebaran sebelum direlokasi kedalam Pasar Bogor.

“Dari pembangunannya saja kan belum jelas kapan dimulai. Kami minta dispensasi waktu lah, kenapa harus buru-buru,” ujar perwakilan paguyuban pedagang Lawang Seketeng, Irfan Efendi.

Irfan juga mengatakan kalau selama ini proses yang dijalankan oleh Pemkot Bogor sangat terkesan terburu-buru.

Sebab, ia mengaku baru sekali saja mendapatkan surat imbauan untuk relokasi.

Padahal seharusnya Pemkot Bogor memberikan waktu lebih lama kepada para pedagang untuk mempersiapkan diri.

Terlepas dari waktu relokasi, Irfan juga mengaku kalau lapak yang disediakan oleh Perumda PPJ Kota Bogor sangat tidak memungkinkan untuk ditempati oleh 670 pedagang.

“Masa satu lapak itu luasnya cuma 1 meter. Kami juga gamau lah, masa cuma dagang satu jenis komoditas saja,” ujarnya.

Terpisah, Direktur Utama Perumda PPJ Kota Bogor, Muzakkir, menyampaikan kalau pihaknya sudah menyiapkan sekitar 400 lapak bagi para pedagang lawang seketeng di lantai dua dan tiga Pasar Bogor.

“Disini kan terdapat pedagang siang dan malam. Jadi nanti mereka berbagi lapak dagangan dan itu sudah berdasarkan hasil survey dan analisis kami. Kalau kami tidak menyiapkan konsep shift memang tidak akan cukup,” terangnya.

Muzakkir juga menambahkan kalau permohonan penangguhan relokasi para pedagang yang diminta samapai Lebaran akan ia bicarakan terlebih dahulu dengan dinas lainnya dan termasuk Walikota.

“Ini kan ada tahapannya untuk relokasi para pedagang. Saat ini kita sedang memasuki tahapan ketiga ini. Kalau tahapan ke tiga ini untuk relokasi pedagang minta untuk diundur kan akan berdampak domino. Jangan sampai nantinya para pedagang yang jauh sudah mendapatkan tempat didalam pasar, mereka yang dekat ini malah belum. Itu yang kita tidak mau,” jelasnya.

Tarik ulur rencana relokasi pedagang Lawang Seketeng ini sudah menarik banyak perhatian.

Terutama anggota DPRD Kota Bogor.

Wakil Ketua DPRD Eka Wardhana meminta kepada Pemkot Bogor untuk segera menyiapkan tempat yang layak bagi pedagang.

Relokasi bisa dilakukan apabila tempatnya sudah disiapkan, sedangkan untuk lokasi di Pasar Bogor, sepertinya belum mampu menampung seluruh pedagang.

“Masalahnya tempat relokasinya seperti apa kesiapannya. Kalau untuk merelokasi pedagang bisa saja dilakukan, tetapi apa tempatnya sudah siap apa belum,” ucap Eka.

Menurutnya, untuk menindaklanjuti program penataan kawasan di Jalan Pedati dan Lawang Saketeng, harus didahulukan terlebih dahulu soal tempat relokasi, baru dilakukan eksekusi penertiban.

“Permohonan pedagang untuk menunda relokasi sangat beralasan, karena sampai sekarang saja belum siap tempatnya,” pungkasnya.(dil/c/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *