Kajian Lima Stoplet, Pemkot Siapkan Rp291 Juta

by -

METROPOLITAN Proyek double track (pembangunan jalurnganda,red) kereta api jurusan Bogor menuju Sukabumi, dipastikan bakal memberikan dampak lonjakan peningkatan penumpang di Stasiun Bogor.

Pasalnya, para penumpang yang hendak menuju Bogor dari Sukabumi, dipastikan bakal turun di Stasiun Bogor, lantaran stasiun tersebut merupakan satu-satunya stasiun yang paling representatif.

Demi mengurangi beban volume calon penumpang pengguna kereta api di Stasion Bogor, pemerintah Kota Bogor berencana membangun lima stasiun kecil (Stoplet,red) di sejumlah titik perlintasan.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bogor, Eko Prabowo pun membenarkan hal ini.

Bahkan, pihaknya juga sudah menyiapkan sejumlah anggaran untuk melakukan kajian prihal ini.

“Kita sudah siapkan anggarannya, senilai Rp 291 juta rupiah, untuk penyususnan feasibility study relokasi stasiun kereta api Batu Tulis. Termasuk kajian untuk lima stoplet tadi,” bebernya.

Penganggaran tersebut, tak lain merupakan bentuk responsif Dinas Perhubungan Kota Hujan, untuk menyambut proyek double track dari PT KAI.

“Intinya kita meski persiapkan semuanya sedari sekarang,” tandasnya.

Sebelumnya, Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim mengatakan, wacana pembangunan stoplet tersebut, selain menekan jumlah volume calon penumpang di Stasiun Bogor, juga untuk mempermudah para penumpang.

“Jadi nanti penumpang yang ada Sukabumi, kalau mau turun di Bogor Selatan, tidak perlu turun di Stasiun Bogor. Bisa juga nanti langsung turun di stoplet yang kita sediakan,” katanya kepada Metropolitan.

Pemerintah Kota Bogor juga berencana bakal mengusulkan lima stoplet, untuk menekan lonjakan penumpang di Stasiun Bogor, sekaligus melayani para penumpang yang hendak berkunjung ke Kota Hujan.

Lima stoplet tersebut, rencannya bakal di bangun di sejumlah lokasi.

Seperti Stoplet Paledang, Empang, Batu Tulis, Bogor Nirwana Residence (BNR) hingga Stoplet di kawasan Rancamaya.

“Jadi nanti kedepannya penumpang yang dari Lido, Cigombong, Parung Kuda bisa lebih mudah. Karna tidak perlu naik angkot, lagi pula volume angkot di Ciawi sudah tinggi,” ujarnya.

Dedi menambahkan, lima wacana pembangunan ini juga sebagai salah satu bentuk sinergitas, antara pembangunan pemerintah pusat dan pemerintah daerah, khususnya dari segi transportasi.

Wacana tersebut juga sudah dipaparkan Pemkot Bogor, kepada PT Kereta Api Indonesia (KAI) dan Kereta Commuter Indonesia (KCI), saat menggelar pertemuan di Gunung Geulis, belum lama ini.

“Jadi dengan adanya double track ini harus ada penyesuaian. Satu sebagai pengurangan beban di Stasiun Bogor, pelayanan masyarakat, dan sinergitas program dengan pemerintah pusat,” tegasnya. (ogi/c/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *