Kisah Azka, Bocah 2 Tahun yang Mengidap Sindrom Stevens Johnson di Lokasi Bencana

by -

“Jadi kalau bapak ibu mengizinkan, kita evakuasi malam ini ke rumah sakit. Kita sudah siapkan mobil di sebrang, di Cikesal. Kasihan soalnya, takutnya nanti makin melebar dan dikhawatirkan menular,” kata Benny Malik, salah seorang relawan para medis saat membujuk warga Kampung Cihaur, Desa Cileuksa, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor untuk membawa sang anak berobat, Kamis (6/2) tengah malam.

Laporan : Arifin Nur

Azka adalah bocah dua tahun asal Kampung Cihaur yang sekujur tubuhnya mengalami luka seperti terbakar. Luka-luka tersebut menjalar di sekujur tubuhnya sejak lebih dari seminggu belakangan.

Benny sendiri mengetahui kondisi Azka usai mendapat kabar dari Koordinator Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kota Bogor Peduli Kemanusiaan (Peka), Eko Hadi Permono.

Malam itu, Benny, Eko dan beberapa relawan lainnya tengah berbincang di Posko Bersama dan Pusat Koordinasi Relawan Haurbentes, Desa Jugalajaya, Kecamatan Jasinga, Kabupaten Bogor, usai menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah ke beberapa SD di Desa Cileuksa, (6/2).

Posko Haurbentes memang dijadikan markas relawan yang fokus mendapingi warga usai bencana banjir dan longsor yang memporak-porandakan wilayah Kecamatan Sukajaya pada 1 Januari lalu. Mereka terdiri dari lintas relawan, mulai dari tim rescue, paramedis, relawan masyarakat lokal, Pendaki Peduli Bencana (Pentana) dan elemen lainnya.

Saat asyik berbincang, tiba-tiba Eko dikagetkan dengan kiriman video di grup WhatsApp perihal kondisi Azka yang sangat mengkhawatirkan. Dalam video itu, Azka nampak menangis hebat menahan rasa sakit akibat luka di sekujur tubuhnya.

Tak butuh waktu lama, setelah mendapat informasi yang cukup, para relawan yang ada langsung memutuskan bergerak ke Kampung Cihaur yang jaraknya sekitar satu jam perjalanan dari Posko Bersama.

Tim yang bergerak dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama menggunakan kendaraan roda empat. Sementara kelompok kedua berangkat menggunakan tiga sepeda motor karena kendaraan roda empat tak bisa menjangkau lokasi akibat longsor yang menutup akses jalan.

Kondisi jalan menuju Kampung Cihaur memang cukup ekstrim. Setelah melewati hutan yang masuk dalam Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Haurbentes, medan tanah berlumpur menanti.

Tidak semua kendaraan bisa menerabas jalan tersebut, terlebih saat menyeberangi anak sungai dengan jembatan darurat seadanya. Mobil yang digunakan hanya bisa sampai di bibir sungai, sementara perjalanan selanjutnya hanya bisa menggunakan sepeda motor.

Kondisi gelap gulita menyambut kedatangan tim di Kampung Cihaur. Maklum, sejak hari pertama bencana, kondisi listrik di sana belum juga hidup. Warga terpaksa memanfaatkan alat penerangan seadannya.

Rumah Azka memang tidak terdampak bencana secara langsung. Namun beberapa tebingan di area rumahnya sudah mengalami longsor dan masuk dalam area rawan.

Akses jalan menuju kampung tersebut juga terputus akibat tertimbun material longsor. Sebagian warganya telah mengungsi di lokasi-lokasi yang dianggap aman.

Benny didampingi para medis dan beberapa relawan langsung mengetuk pintu rumah Azka. Nenek dan ibunya langsung menyambut sambil sedikit keheranan. Benny yang mengabdikan diri sebagai relawan sejak lama itu langsung menyampaikan maksud dan tujuannya untuk memeriksa Azka.

Benny cukup kaget ketika melihat luka di tubuh Azka yang diperkirakan mencapai lebih dari 50 persen. Ia didampingi paramedis lain juga sempat memeriksa obat-obatan yang digunakan pihak keluarga untuk mengobati luka Azka.

“Ini beli obatnya aja, waktu itu cuma difoto (lukanya) dan dikirim ke dokter, karena kalau berobat jalannya jauh dan hujan terus. Sementara nggak boleh kena hujan. Dikasih tau obatnya terus saya beli,” kata nenek Azka, Eti, sambil menujukkan sejumlah obat yang digunakan selama ini.

Saat itu, sang nenek bercerita jika penyakit yang dialami Azka sudah lebih dari satu minggu. Awalnya, hanya berupa bintik-bintik kecil kemudian melebar dan menyebar. Pihak keluarga pun sudah sempat membawanya berobat ke desa.

Benny lalu meminta izin untuk mengevakuasi Azka ke rumah sakit. Sebab dalam aturan relawan paramedis, evakuasi hanya bisa dilakukan ketika keluarga menyetujui.

Proses tersebut tak berjalan mulus. Keluarga awalnya sempat ragu lantaran khawatir akan biaya yang dikeluarkan. Sebab setelah terjadi bencana, ekonomi keluarga, termasuk warga lainnya benar-benar lumpuh.

“Tenang ibu, semua akan kita usahakan. Keluarga tidak perlu memikirkan uang,” kata Benny berupaya meyakinkan.

Setelah proses yang cukup dramatis, keluarga akhirnya menyetujui agar Azka dievakuasi ke rumah sakit untuk mendapat penanganan medis. Keluarga lalu bersiap sambil merapikan barang-barang yang akan dibawa karena kemungkinan besar bakal menginap.

Azka lalu digendong sang kakek didampingi nenek dan ibunya. Mereka berempat lalu diantar menggunakan sepeda motor karena hanya itu satu-satunya cara yang bisa dilakukan. Mobil yang dibawa relawan menunggu di seberang kampung.

Usai sampai di ujung kampung, sang kakek masih harus berjalan kaki dengan Azka dalam gendongan. Sebab motor yang ditumpangi tak bisa melewati jalur yang penuh tanah dan lumpur akibat longsor.

Setibanya di seberang kampung, Azka langsung dibawa menggunakan mobil menuju Puskesmas Jasinga.

Setelah menempuh perjalanan hampir 1,5 jam, tim relawan akhirnya tiba di Puskesmas Jasinga sekitar pukul 00.49 WIB. Azka pun langsung dibawa ke Ruang Tindakan Gawat Darutan. Di sana, Aska langsung mendapat penanganan awal berupa pembersihan luka. Raungan tangis Aska pecah lantaran tak kuat menahan rasa sakit. Azka pun menginap di Puskesmas hingga siang hari.

Karena puskesmas tak memiliki dokter spesialis kulit, Azka dirujuk ke RSUD Leuwiliang dan langsung diberangkatkan. Namun ternyata, RSUD Leuwiliang juga tak memiliki dokter spesialis kulit. Azka hanya mendapat penanganan dari dokter yang ada. Beruntung, kondisinya terus membaik.

Setelah empat hari mendapat perawatan medis, Azka diizinkan kembali ke rumah pada Senin (10/2). Meski demikian, ia harus tetap konsultasi dengan dokter spesialis kulit.

Sejak awal, Benny sudah menduga jika Azka terkena Sindrom Stevens Johnson. Sindrom tersebut merupakan penyakit langka dan serius berupa gangguan kulit dan selaput lendir. Gejalanya bisanya berupa flu atau demam terlebih dulu kemudian diikuti ruam menyakitkan yang menyebar dan melepuh.

“Jadi benar itu Sindrom Stevens Johnson. Diperparah karena reaksi paracetamol karena dia alergi paracetamol. Alhamdulillah sekarang tinggal konsul dengan dokter spesialis kulit.  Fisiknya juga sehat,” terang Benny.

Saat turun di pengungsian Kampung Cihaur, pria yang juga aktif di komunitas VW Club Bandung ini menemukan penyakit yang paling banyak diderita pengungsi adalah dermatitis dan Sindrom Stevens Johnson.

Penyakit ini menyerang anak-anak berusia 10-12 tahun yang tinggal di pengungsian. Setidaknya delapan kasus dermatitis telah ditemukan di Cihaur. Sementara Sindrom Stevens Johnson telah menyerang satu anak, yakni Azka.

“Penyebabnya bisa dari minimnya air bersih dan lokasi pengungsian yang kotor. Kami menemukan banyak penyakit kulit. Untuk Sindrom Stevens Johnson itu sampai dievakuasi ke rumah sakit,” ujarnya.

Menurutnya, pengungsi yang menderita Dermatitis harus dikarantina agar penyakit tidak menyebar ke pengungsi lain. Karena Dermatitis cenderung mudah menular.

“Ya harus dipisah supaya tidak menular. Karena kebanyakan anak-anak yang kena. Jadi anak yang sakit harus dipisah dengan yang sehat. Karena itu kan bernanah. Jadi kalau pecah gampang nular,” terang Benny.

Hingga kini, para pengungsi sudah lebih dari 40 hari berada di tennda-tenda pengungsian. Jika ditotal, ada sekitar 9.000 jiwa mengungsi akibat bencana di Kecamatan Sukajaya. 5.000 jiwa di antaranya berasal dari Desa Cileuksa. (fin/run)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *