Pagi-Malam Tubuh Diperiksa

by -
HARU: Yusuf Azhar menunjukkan sertifikat negatif corona dari Kemenkes usai menjalani karantina di Natuna.

METROPOLITAN – Usai terisolasi selama sekitar dua minggu di China, ratusan mahasiswa asal Indonesia yang tinggal di negeri tirai bambu itu harus kembali  dikurung di Natuna,Kepulauan Riau. Selama 14 hari masa isolasi, mereka dijaga ketat oleh petugas.

Termasuk Yusuf Azhar, mahasiswa asal Kabupaten Bogor yang mengikuti proses karantina dan observasi tim medis.

Yusuf, begitulah sapaan akrabnya. Sebelum dievakuasi ke Natuna, mahasiswa Central China Normal University ini sudah enam bulan menetap di asrama di daerah Wuhan, Provinsi Hubei. Ia mengambil jurusan International Trading dan tengah mengikuti program bahasa.

Yusuf mengikuti karantina di Natuna selama dua minggu. Di sana, ia ditempatkan di tenda-tenda khusus. Satu tenda terdiri dari beberapa orang. Yusuf baru kembali ke rumahnya pada Sabtu (15/2) malam.

Ia menceritakan, tak banyak aktifitas yang dilakukan selama proses karantina. Pagi hari sekitar pukul 05.00, Yusuf biasanya bangun untuk menunaikan salat subuh.

Sejam kemudian, semua yang dikarantina wajib keluar tenda untuk melakukan olahraga bersama. Usai itu, semua sarapan lalu mengikuti pengecekan suhu tubuh.

“Jadi pagi bangun salat subuh, lanjut olahraga terus sarapan. Jam 8 pagi kita dicek ksesehatannya, cek suhu tubuh dan lainnya,” kaya Yusuf saat ditemui di kediamannya di Perumahan Griya Cimangir Blok B1 RT 001 RW 003, Desa Gunungsindur, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor, Minggu (16/2).

Menurutnya, pengecekan dilakukan setidaknya dua kali dalam sehari. Pertama pagi dan kedua malam hari.

Selama dikarantina, ia diberi makan tiga kali sehari. Makanan yang disajikan pun penuh gizi karena selalu dicek oleh tim gizi sebelum dihidangkan.

“Makan sehari tiga kali, sebelum makan ada bagian gizi yang mengecek. Pemeriksaan kesehatan sendiri dua kali, pagi dan malam,” terangnya.

Untuk mengisi waktu luang, para mahasiswa yang dikarantina berinisiatif membuat kegiatan-kegiatan positif. Mereka membuat kelas-kelas sesuai bidang masing-masing seperti kelas Bahasa Inggris dan Mandarin.

“Jadi bikin kegaiatan aja di sana, yang punya kemampuan berbagi di bidangnya. Di sana jadinya bikin kelas-kelas. Ada kelas Bahasa Inggris, Mandarin dan lainnya,” ungkap Yusuf.

Beberapa hari kemudian, pemerintah memberikan sejumlah fasilitas tambahan agar para mahasiswa tidak stres di lokasi karantina. Ada alat musik yang disediakan seperti gitar, alat olahraha hingga tempat berkaraoke.

“Setelah itu, beberapa hari kemudian, mereka memberi fasilitasi, seperti gitar, alat olahraga, bahkan karaoke juga ada. Jadi suasana juga cair, mesi cuci juga ada,” kenangnya.

Usai melewati masa karantina, Yusuf merasa tenang lantaran ia bersama teman-temanny dinyatakan negatif virus corona. Ia juga tak bisa menyembunyikan rasa senangnya bisa berkumpul di tengah-tengah keluarga.

“Setelah dari Natuna itu kita diberi sertifikat dari Kemenkes yang menyatakan negatif corona,” sambung Yusuf.

Ia juga berharap masyarakat tidak cemas dan was-was soal kepulangan mereka dari China. Sebab, semua sudah dinyatakan bebas dari virus corona.

“Ibu Bupati saja tidak khawatir karena percaya saya sehat, warga juga harus yakin kalau semua yang dari sana sehat,” tandasnya.

Di tempat yang sama, sang ibu Hj. Aprilia sangat senang anaknya bisa kembali ke pelukan keluarga. Dirinya juga mengaku warga sekitar merespon kepulangan Yusuf dengan baik.

“Bahagia bisa kembali. Sempat khawatir, pasti khawatir. Tapi saya selalu ingatkan untuk pakai masker ketika di China dan berdoa sama Allah agar selalu dilindungi,” tutur sang ibu.

Dirinya juga menyampaikan rasa terima kasihnya kepada pemerintah yang telah mengantarkan sang anak hingga ke rumah dengan selamat. Tak hanya itu, pemerintah juga tetap memantau kondisi Yusuf selama di rumah.

“Ketika sudah di rumah, ada bagian kesehatan mengecek suhu tubuh. Pihak kesehatan juga berpesan kalau ada keluhan seperti batuk bisa menghubungi dokternya, nanti mereka datang. Alhamdulillah penanganannya baik,” pungkasnya.

Tak cuma Yusuf, Almer Belmiro Putrawan, warga Jalan Abimanyu III, RT02 RW 15, Kelurahan Bantarjati, Kecamatan Bogor Utara juga salah satu mahasiswa yang sempat menjalani masa ‘kurungan’ di Natuna.

Menurut pengakuan Almer, ia bersama rekan karantina lainnya, hampir setiap hari mengkonsumsi salad buah dan salad sayur. Disana juga mereka diharuskan menjalani aktivitas olahraga lainnya, untuk kebugaran dan kesehatan.

“Menu makan kami disana hampir setiap hari empat sehat lima sempurna. Bahkan kami juga mengkonsumsi salad buah dan sayur setiap hari. Pokoknya kami disana menjalani pola hidup sehat, mulai dari melek sampai tidur,” katanya.

Tak hanya itu disana juga mereka diawasi dan diatur sedemikian rupa, untuk meningkatkan kekebalan imun tubuhnya. Bahkan setiap hari, mereka diberikan vitamin oleh petugas, untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap sehat dan fit.

Para penghuni karantina juga kerap kali dicek kesehatannya, untuk memastikan kondisi tubuhnya secara berkala.

“Kami disana diperiksana kesehatan dua kali dalam satu hari. Setiap pagi dan malam hari. Dan itu rutin,” akunya.

Tak hanya pola hidup, para peserta karantina juga dibatasi soal alat komunikasi seperti handphone. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah hal yang tidak diinginkan. Seperti bocornya informasi dari dalam karantina maupun sebaliknya.

Diana, ibunda dari Almer Belmiro Putrawan, mengaku sangat bahagia mendapati putra tercinta bisa kembali berkumpul bersama keluarga. Ia juga bersyukur, jika putranya dipastikan negatif corona oleh pihak Kementrian Kesehatan.

Meski begitu, Diana sempat bercerita suka dan dukanya selama tak kurang dari dua bulan ini. Terlebih, saat buah hatinya berada di Wuhan, Cina, dimana pusat virus corona berasal.

Diana juga sempat mengaku kesulitan berkomunikasi dengan buah hatinya. Terlebih pasca Almer sang anak, dikarantina di Natuna. Jika dibandingkan, komunikasi Diana dengan Almer lebih baik saat buah hatinya berada di Wuhan, Cina, ketimbang di Natuna.

Diana bisa kapan saja menghubungi buah hatinya, sesuka dan selama yang ia mau. Namun hal tersebut tak berlaku saat sang anak dikarantina di Natuna.

“Kalau saat di Wuhan, saya video call dengan Almer suka-suka saya. Mau selama apapun, kapan pun bisa saja,” katanya.

Diana mengaku saat di Natuna, ia hanya mengandalkan waktu luang dari sang anak untuk berkomunikasi. Saat anaknya di karantina di Natuna, Diana mengakui komunikasinya sangat kurang dan terbatas. Lantaran aturan yang diberlakukan di Natuna sangatlah ketat.

“Kalau saat di Natuna, saya nunggu kabar dari Almer saja. Jadi handphone saya pegang terus takut dia kabarin saya. Karna di Natuna, handphone mereka dikumpulkan. Jadi tidak sembarang bisa komunikasi,” ucapnya.

Hal tersebut lantaran proses karantinan dipimpin langsung oleh petugas khusus yang terdiri dari berbagai macam instansi. Ia juga mengaku, jika saat di Wuhan, dirinya bisa berkomunikasi sebanyak tiga kali dalam satu hari.

“Kalau komunikasi lebih sulit saat di karantina, ketimbang di Wuhan, Cina. Kalau saat di Wuhan saya bisa komunikasi sesuka saya, bisa sehari tiga kali. Kalau saat di Natuna, saya hanya tunggu kabar dari anak saya,” tandasnya. (ogi/c/fin/feb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *