Tiga Bencana Landa Kota Bogor

by -

METROPOLITAN – Tingginya curah hujan yang mengguyur Kota Bogor, pada Rabu (19/02) hingga Kamis (20/02), menimbulkan sejumlah pristiwa duka bagi sebagai masyarakat.

Setidaknya, hujan deras pada dua hari kebelakang ini, membuat rumah milik Tati, di Kampung Rancamaya Nomor 29 RT 03/07 Kelurahan Rancamaya, Kecamatan Bogor Selatan, ambruk pada Rabu (19/02) pukul 21:30 WIB.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor Priyatna mengatakan, tingginya intensitas curah hujan saat itu, membuat kontruksi rumah yang dihuni oleh empat jiwa tersebut ambruk.

“Bangunan ambruk ini dampak dari hujan intensitas tinggi dan konstruksi bangunan yang sudah tidak kuat,” katanya, saat dikonfirmasi.

Lemahnya kontruksi rumah milik Tati, lantaran kediaman miliknya masuk dalam kategori Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Memang jika melihat secara kasat mata, kontruksi bangunan rumah milik Tati terbilang rawan.

Pasalnya rumah tersebut didominasi oleh kayu dan bilik, sebagai penyangganya. Meski begitu, beruntung kejadian tersebut tak memakan korban jiwa maupun korban luka.

Hujan yang mengguyur Kota Bogor selama dua hari ini, juga mengakibatkan tebingan dengan lebar 15 meter dan tinggi 20 meter longsor. Peristiwa ini terjadi kemarin siang, pukul 11:00 WIB, di Kampung Babakan Perumnas, RT 10/06, Kelurahan Baranangsiang, Kecamatan Bogor Timur.

Longsoran itu, membuat dua pohon besar berjenis Mahoni dan Ki Copong tumbang. Bahkan, rumah milik Sijadi, juga terdampak material longsoran yang mengharuskan dirinya mengungsi ketempat yang lebih aman.

Tak hanya itu, tingginya curah hujan pada dua hari terakhir, juga mengakibatkan meningkatnya volume air di aliran Sungai Ciliwung. Derasnya aliran sungai, juga membuat tebingan di sejumlah titik tergerus.

Salah satunya seperti yang terjadi di Kampung Lebak Pilar, RT04/03, Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.

Kuat dan derasnya aliran Sungai Ciliwung, mengakibatkan satu rumah milik Iis, warga Kampung Lebak Pilar, RT04/03, Kelurahan Sempur, Kecamatan Bogor Tengah, terancam amblas terbawa aliran sungai.

Pasalnya, tanah yang menyangga bangunan rumah sederhana yang ditinggali lima jiwa itu, tergerus aliran sungai, yang membuat rumah tersebut rawan amblas sewaktu-waktu.

Priyatna mengungkapkan peristiwa longsornya tebing di Kampung Pilar terjadi sekitar pukul 06.30 WIB saat hujan melanda sebagian Bogor dari mulai dinihari hingga pagi hari.

Sementara disaat bersamaan, air Bendung Katulampa mengalami peningkatan mencapai 150 CM. Bahkan debit air di Katulampa Bogor mencapai 276 meterkubik perdetik.

Berdasarkan pantauan di lapangan, tebingan yang membentang sepanjang delapan meter dengan tinggi lima meter yang berada tepat di bibir sungai, habis tergerus air sungai. Bahkan tebingan tersebut nampak gerowok, yang menyisakan rumah Iis tepat diatasnya.

“Karna berbahaya, makannya penghuni rumah kita ungsian ke tempat yang lebih aman. Karna posisi rumahnya sudah sangat berbahaya,” ujarnya.

Lurah Sempur Marrisa menjelaskan, terkikisnya tebingan di sepanjang aliran Sungai Ciliwung, bukan hanya kali ini terjadi.

Namun sebelumnya, peristiwa serupa juga kerap kali terjadi. Terlebih jika curah hujan sedang tinggi dan volume debit air meningkat.

“Ini ketiga kalinya. Pertama dan kedua, terjadi pada 7 dan 8 Februari lalu. Tapi yang mengancam keselamatan warga baru kali ini,” ujarnya.

Marrisa mengaku, sudah berkoordinasi dengan pihak terkait. Seperti Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane ( BBWSCC), juga dengan pihak Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Provinsi Jawa Barat, kaitan kejadian ini.

Pihaknya mengaku tak bisa berbuat banyak, lantaran kebijakan bantaran sungai ada pada dua instansi tersebut.

Meski begitu, pihak kelurahan juga berkoordinasi dengan BPBD Kota Bogor, untuk membantu melakukan langkah penanganan awal kaitan bencana ini.

“Kita sudah koordinasi dengan pemkot untuk penanganan awal. Alhamdulillah korban langsung diungsikan ke kontrakan, yang tak jauh dari tempat tinggalnya dengan biaya kontrakan di bayar pemkot selama tiga bulan kedepan,” bebernya.

Kelurahan dengan pemilik rumah juga sudah sepakat, untuk melakukan pembongkaran bangunan rumah, demi mengantisipasi hal yang tidak diinginkan.

“Kita juga sudah sepakat bangunannya akan dirubuhkan karna khawatir, kita juga menyarankan agar warga tidak membangun bangunan di bibir sungai,” tutupnya. (ogi/C/FEB)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *