Tiga Hari Dipatok Rp5 Juta

by -
EKSPOS: Muncikari dan sejumlah PSK pelaku kawin kontrak asal Puncak saat ekspos kasus prostitusi di Bareskrim Polri.

METROPOLITANBareskrim Polrikembali mengungkap kasus prostitusi dengan modus kawin kontrak di kawasan Puncak, Bogor. Praktik ini rupanya di lakukan di sebuah apartemen di Jakarta.

H Saleh, lelaki yang biasa menjadi penghulu kawin kontrak di Puncak ini harus rela mendekam di jeruji besi. Ini setelah polisi berhasil meringkusnya bersama empat pelaku lainnya.

Yakni Nunung Nurhayati, Komariah alias Rahma, Devi Okta Renaldi, dan satu WN Arab Saudi bernama Almasod Abdul Alziz Alim M. alias Ali.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Ferdy Sambo menjelaskan, prostitusi di kawasan Puncak ini bermula ketika Ali mencari pekerja seks komersial lewat cara kawin kontrak.

Kemudian dia menghubungu H Saleh yang bekerja sebagai penghulu.

Permintaan itu pun disanggupi H Saleh setelah menghubungi Nunung dan Rahma sebagai penyedia perempuan di vila daerah puncak Bogor dan di Apartemen Puri Casablanca.

“Para perempuan (korban) tersebut kemudian dibawa oleh Nunung dan Rahma ke H Saleh di Vila wilayah Puncak Bogor dengan menggunakan kendaraan roda empat yang dikemudikan Okta,” kata Brigjen Ferdy Sambo di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Jumat (14/2/2020).

“Keuntungan yang didapat oleh H Saleh dari WN Arab tersebut sebesar Rp 300 ribu,” sambungnya.

Di situ, Nunung dan Rahma mematok harga untuk booking out (bo) short time dengan waktu 1-3 jam seharga Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu, sedangkan 1 malam dengan harga sebesar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta.

Atau booking out secara kawin kontrak dengan harga Rp 5 juta untuk jangka waktu 3 hari dan Rp 10 juta untuk jangka waktu 7 hari.

Berdasarkan penyelidikan, Nunung dan Rahma ternyata masing-masing memiliki sedikitnya 20 perempuan yang akan dijual, sementara H Saleh sudah menyediakan lebih dari 20 pelanggan dan 12 kali menjadi saksi nikah kawin kontrak sejak tahun 2015 hingga sekarang.

“Keuntungan yang diperoleh kedua mucikari tersebut adalah sebesar 40 persen dimana jika korban mendapatkan uang sebesar Rp 1 juta maka mucikari mendapatkan Rp 400 ribu ataupun mucikari mendapat keuntungan sebesar 20 persen per-orang dari penghasilan yang didapatkan oleh korban,” kata dia.

Dalam kasus ini, polisi juga telah menyita sejumlah barang bukti di antaranya 7 unit handphone, uang Rp 900 ribu, print out pemesanan Apartemen Puri Casablanca, akses Apartemen Puri Casablanka, request form Open Balconidoor nomor 010489 atas nama Abdul Alziz Almasod, guest registration Puri Casablanca nomor 073187 kamar 20.9 tanggal 31 Januari 2020.

Lalu, 1 buah invoice nomor 00104739/A atas nama Abdul Alziz Almasod, 1 bendel Booking De Resident At Puri Casablanka dari tanggal 31 Januari 2020 sampai dengan 3 Februari 2020 atas nama Abdul Alziz Almasod dari booking.com, paspor atas nama Abdul Alziz Almasod No. 366370 yang dikeluarkan Kingdom of Saudi Arabia, 2 buah boarding pass Srilanka Airlines penerbangan Riyad-Jakarta atas nama Almasod.

Atas perbuatannya, mereka berlima dijerat Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun.

Sebelumnya, akhir tahun 2019 Polres Bogor juga  berhasil membongkar praktik prostitusi dengan modus kawin kontrak di wilayah Puncak, Kabupaten Bogor. Empat orang mucikari pun diamankan dalam kasus ini.

Saat itu, Kapolres Bogor AKBP M Joni mengatakan praktik tersebut terbongkar dari laporan masyarakat dan video di media sosial mengenai adanya wisata prostitusi halal di kawasan Puncak berupa kawin kontrak.

“Dari situ kita rapat dengan forum komunikasi pimpinan daerah (Forkopimda) Kabupaten Bogor, hasilnya kita tangkap empat tersangka (mucikari), dua laki-laki 2 perempuan” kata Joni, Senin (23/12/2019).

Mereka diamankan dari dua lokasi berbeda di Kecamatan Cisarua dengan total enam wanita yang menjadi korban.

Korban dijajakan oleh para tersangka kepada turis asal Timur Tengah di kawasan Puncak.

“Biasanya tamu-tamunya itu turis asing dari Timur tengah dan juga kebetulan pelaku adalah mantan TKI yang pernah berangkat ke sana,” jelas Joni.(bs/feb)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *