PDJT Nasibmu Kini…

by -
RUSAK: Inilah puluhan bus PDJT yang terbengkalai. Namun, Pemkot Bogor masih terus berupaya menyehatkan PDJT yang telah di ujung tanduk

METROPOLITAN – Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor masih terus berupaya untuk menyehatkan Perusahaan Daerah Jasa Transportasi (PDJT) yang telah diujung tanduk kebangkrutan. Pemkot akan mencoba menyeimbangkan neraca keunagan badan usaha milik daerah (BUMD) yang bergerak di bidang transportasi tersebut.

“Terkait dengan PdJT ini kita lakukan penyeimbang neraca, aset, penyertaan modal pemerintah, dan apa saja kewajiban pemerintah yang belum dilakukan. Termasuk juga kita akan melakukan pelelangan terhadap aset yang tidak produktif lagi,” kata Wakil Wali Kota Bogor Dedie A Rachim saat ditemui di Satasiun Bogor, Minggu (15/3).

Dedie menjelaskan, pemkot akan memberikan kesempatan PDJT mengembangkan usaha. Adapun pengembangannya yakni, PDJT akan mengelola bidang perparkiran, periklanan dan perbengkelan.

Demikian, keuangan PDJT dapat kembali normal dan mempu menyelesaikan tanggungjawabnya terhadap gaji karyawan yang belum dibayarkan. “Kita coba lakukan untuk pengembangan usaha agar strukturnya lebih sehat,” tuturnya.

Dedie menyatakan, upaya menyehatkan PDJT tak lantas harus menyuntik dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Bogor. Dedie menegaskan menyehatkan PDJT dapat dilakukan dengan menggandeng pihak ke tiga untuk membantu pembiayaan.

“Kita tidak ingin membebani pemerintah tapi lebih bagimana kita mencari solusi bisnis terkait bagimana PDJT bisa menyehatkan dirinya,” tegas Dedie.

Pengembangan di bidang perparkiran, Dedie menyatakan, PDJT dapat mengelola parkir milik instansi Kota Bogor. Diantaranya parkiran di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Bogor, Stadiun Pajajaran hingga parkir di area pasar milik Perusahaan Daerah (PD) Pasar Pakuan Jaya.

“Bidang periklanan di mana? Misalnya memanfaatkan halte yang terbang kali, atau tidak termanfaatkan dengan baik, itu di jadikan titik iklan yang memperoleh pemasukan,” kata dia.

Dedie menjelaskan, bidang periklanan di halte masih akan dikoordinasikan dengan Dinas Perhubungan (Dishub). Sebab, saat ini perawatan halte masih dikelola oleh Dishub Kota Bogor.

Tak hanya itu, Dedie menjelaskan, PDJT juga akan didorong untuk mengelola sejumlah fasilitas umum. Yakni, menjadi operator bus wisata Uncal. Dedie mengatakan, bus Uncal sejauh ini belum ditarik biaya. Namun, untuk menjalankan busa uncal akan dipungut biaya.

“Di Bandung kan per-trip Rp 15 ribu kan, kan sekarang (di Kota Bogor) masih gratis, tapi kedepan kan gak bisa gratis terus. Nah nanti kalo sistem berbayar gimana polanya dan sebagainya,” kata dia.

Tahun depan, Dedie mentargetkan, neraca keunagan PDJT dapat diseimbangkan. Sehingga, PDJT dapat segera menjalin kerjasama dengan pihak ke tiga.

Dedie mengakui PDJT saat ini masih terseok-seok. Jangankan menggaji karyawan, menggaji Direktur Utama saja, pemkot mengaku belum mampu. Sehingga, pucuk pimpinan PDJT ditunjuk dari Sekertaris Dishub Kota Bogor.

“Bayangkan management sekarang Sekdis (Sekertaris Dinas), karena kita belum mampu membayar profesional, duit dari mana. Karena kita ingin mereka belajar semuanya,” tegas dia.Pelaksana Tugas (Plt) Dirut PDJT Agus Suprapto mengakui PDJT masih memiliki banyak persoalan. Agus menyatakan, hutang PDJT untuk gaji karyawan dan perawatan sarana prasarana mencapai Rp 2,5 miliar.

“Ada kewajiban (yang harus dibayar) kurang lebih Rp 2,5 miliar. Dari gaji karyawan dan perbaikan diantaranya sarana,” kata Agus.

Agus menjelaskan, saat ini PDJT memiliki 45 karyawan yang bekerja secara shift (bergilir). Akan tetapi, secara keseluruhan PDJT masih menunggak setidaknya 145 karyawan yang harus digaji.

Untuk biaya perawatan transportasi, Agus menjelaskan, setidaknya masih terdapat 16 bus dengan rincian 6 bus lama dan 10 bus baru. Namun, tidak semua bus akan dioperasikan.

“Karena tidak serta merata semua harus (beroperasi) ada yang cadangan. Kita mengikuti permintaan lapangan,” kata dia.

Ke depan, dia menjelaskan, mempertimbangkan untuk menghidupkan koridor yang potensial. Sehingga, dioperasikannya koridor yang potensial dapat menarik banyak pelanggan.

“Kita ingin menghidupkan koridor yang ada, yang perospektif seprti Bubulak-Soleh Iskandar, cuma masalah perlu langkah konstruktif dan sosialisasi ke masyarakat seperti apa yang harus kita lakukan,” pungkasnya. (dil/c/yok)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *