Aku hanya Dijadikan Pelayan (1)

by -

Setelah melangs­ungkan pernika­han, kami me­nyadari tidak punya apa-apa. Tidak ada mo­bil dan motor, tidak punya barang-barang rumah tangga se­perti lemari es, mesin cuci, dan dapur untuk me­masak. Tidak hanya itu, kami bahkan tidak punya gas untuk memasak.

Saat itu aku berpikir positif. Mungkin suami tidak punya cukup uang. Jadi dia mem­bantu dengan uang tabungan­nya untuk membeli semua barang itu dengan harapan suaminya akan menutupi di area lainnya. Kami berdua bolak-balik pergi dengan me­numpang mobil temanku untuk membeli barang-barang tersebut. Kebetulan rumah kami juga jauh dari jalur ang­kutan umum. Sebeaku me­rasa malu karena harus bolak-balik ke toko. Namun bagai­mana lagi, suami tidak tahu bagaimana cara membawa sepeda motor atau mobil.

Tak berapa lama, aku memutuskan untuk mem­beli mobil. Cu­kup untuk mengantar suami ke sana-sini mengaji, mem­beli perlengkapan dapur, pergi ke rumah sakit, dan sebagainya. Aku ikut mem­bayar uang mukanya, sedang­kan cicilan bulanan dibayar sang suami. Harapan menda­patkan bantuan dari suami hanya bertahan tiga tahun saja. Cicilan untuk mobil diabaikan suami begitu saja. Aku terpaksa mencari peker­jaan untuk membayar cicilan. Aku menjadi semakin kha­watir tentang hidupnya. Ber­harap bahwa setelah menikah, suami akan membimbingnya tidak menjadi kenyataan. Pa­dahal suami orang yang saleh dan sangat religius.

bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *