Anakku Bukan Anak Suamiku (2)

by -

Lalu aku memu­tuskan untuk mem­biarkan anak ini lahir.

Bulan be­rikutnya aku memberi tahu kabar bahagia ini, namun sua­miku tidak baha­gia, dia tidak per­caya tentang kehami­lanku ini karena dia berfikir dirinya mandul.

Dan pada saat itu suamiku menyuruhku untuk mengakui anak siapa yang di dalam kandunganku, aku mengelak dan aku bilang anak suamiku. Hari hari kehamilanku aku tidak ditemani suamiku, sua­miku tak percaya itu adalah anaknya sampai aku memu­tuskan untuk USG 4 dimensi. Benar saja wajahnya sangat mirip dengan pacarku dan disaat itu aku yakin ini bukan anak suamiku.

Aku tetap mempertahan­kan anak ini dengan harapan suamiku tidak mengetahui akan hal ini. Suamiku akan bahagia dan kembali se­perti suami ku yang dulu, suami yang baik dan memi­liki waktu un­tukku, suami yang sangat mencintaiku bukan yang seperti sekarang yang butuh untuk berhubungan suami istri saja.

Tibalah pada saat aku mau melahirkan. Aku melihat ada raut bahagia dari wajah sua­miku. Dengan setia dia me­nemani persalinanku sampai dia adzankan anak itu ketika lahir, aku diciumi dan dibelai manja.

Bahagia sekali suamiku pada saat itu, aku pun turut senang karena aku sangat mencintainya dan sangat sam­pai detik ini bukan karena harta yang ia miliki tapi memang aku sangat mencin­tainya. Lanjut cerita…. Hasil g o l o n g a n darah pada saat itu keluar­lah hasil golong­an darah di hari terahirku di rumah sakit. Suamiku bertanya dengan tegas, kenapa hasil golongan darah anak kita berbeda. Aku menjawab memang golongan darah anak dan orangtua tidak harus sama.

Suamiku menjawab sayang golongan darah kita sama sama O tidak mungkin anak kita berubah menjadi A. Se­harusnya anak kita O, kalau lain dari itu berarti bukan anakku.

Aku kebingungan, apa yang harus kulakukan?

Aku tak tega dengan sua­miku, tapi akhirnya aku menga­kui perbuatanku. Alangkah marahnya dia, kecewa, dan sedih. Harapannya selama ini sirna. Pada saat itu dia belum berkata talak padaku. Suamiku setelah kejadian itu lebih sering menghubungiku, walau selalu memarahiku, tapi dia selalu berkata sangat menyayangiku. Dia sangat berat untuk melepasku ka­rena memang dia sudah ter­lanjur mencintaiku.

Namun dia tidak bisa me­nerima bayi ini. Dia memin­ta bayi ini diberikan di panti asuhan, tapi hatiku berat bagaimanapun itu adalah anaku dan akan lebih baik aku berikan kepada pacarku saja karena memang dia ayah kandungnya. Namun sua­miku menolak karena dia tidak rela jika suatu saat aku memiliki komunikasi lagi

bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *